Perbedaan angkringan dan hik masih kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan pencinta kuliner, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Meski sepintas terlihat serupa, keduanya memiliki sejarah, istilah, dan karakteristik unik yang membentuk identitas budaya masing-masing. Di tengah gempuran tempat makan kekinian, eksistensi angkringan dan hik tetap tak tergoyahkan. Kehadirannya menjadi bukti bahwa kuliner sederhana dengan harga terjangkau, suasana hangat, dan cita rasa lokal masih dicintai lintas generasi.
Apa Itu Angkringan dan HIK?
Angkringan berasal dari bahasa Jawa yaitu angkring yang merujuk pada pikulan atau gerobak melengkung yang biasa digunakan untuk berjualan. Dalam praktiknya, angkringan adalah warung kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman di pinggir jalan sejak sore hingga dini hari. Ciri khasnya adalah gerobak kayu yang bisa menampung sekitar delapan pembeli, lengkap dengan terpal plastik, dan menyajikan berbagai menu seperti nasi kucing, gorengan, sundukan, serta minuman seperti teh manis, kopi, dan wedang jahe.
Sementara di Solo dan sekitarnya, istilah HIK atau Wedangan lebih dikenal ketimbang angkringan.HIK merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung. Nama ini konon berasal dari teriakan khas penjual seperti “hik…yeek!” saat menjajakan dagangan. Baik angkringan maupun hik hadir dengan konsep serupa yaitu menyajikan makanan sederhana, murah, dan merakyat.
Bagaimana Sejarah dan Persebaran Angkringan dan HIK?
Warung angkringan dan hik memiliki akar sejarah yang panjang. Meskipun kini lebih identik dengan Solo dan Yogyakarta, cikal bakalnya justru berasal dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.Karso Djukut, seorang warga Ngerangan memulai usaha menjajakan makanan keliling dengan pikulan pada tahun 1940. Ia kemudian berinovasi dengan menambahkan dua ceret untuk menyajikan minuman hangat seperti kopi dan jahe.
Pada tahun 1950, Karso Djukut mulai mengajak warga desa lainnya untuk ikut berjualan ke Solo. Salah satu tokoh penting yang ikut berperan adalah Wiryo Jeman yang dikenal menciptakan racikan teh dan jahe khas angkringan Bayat. Dari sinilah tradisi angkringan berkembang kemudian menyebar ke Yogyakarta dan wilayah lainnya. Menjelang tahun 1975, penggunaan gerobak dorong mulai menggantikan pikulan. Istilah angkringan pertama kali populer di Yogyakarta dan kemudian menyebar secara nasional.
Apa Perbedaan Angkringan dan HIK?
Meskipun secara konsep tampak identik, perbedaan angkringan dan hik mencerminkan identitas lokal dan sejarah perkembangan kuliner di dua kota yang berbeda. Salah satu perbedaannya terletak pada rasa dan penyajian. Makanan di HIK Solo cenderung memiliki bumbu yang lebih pedas dibandingkan angkringan Jogja yang lebih ringan dan manis.
Dari sisi sebutan, masyarakat Solo lebih akrab dengan HIK atau Wedangan, sedangkan warga Yogyakarta menyebutnya sebagai Angkringan. Nama-nama ini bukan sekadar istilah, tetapi bagian dari cara masyarakat memaknai ruang makan, interaksi sosial, dan keseharian mereka.
Apa Saja Menu Khas di Angkringan dan HIK?
Nasi Kucing dan Variasi Lauk
Nasi kucing menjadi menu utama di kedua jenis warung ini. Di Solo, nasi kucing biasanya disajikan dengan bandeng suwir dan sambal. Sementara di Jogja, isian nasi kucing lebih umum berupa teri goreng dan sambal. Selain itu, ada juga menu gorengan seperti bakwan, tahu isi, tempe mendoan, serta sundukan seperti usus, telur puyuh, sate kerang, dan jamur.
Minuman Tradisional yang Menghangatkan
Minuman yang ditawarkan juga khas. HIK terkenal dengan teh kampul atau es teh dengan irisan jeruk peras. Di sisi lain, angkringan di Jogja dikenal dengan kopi joss, yakni kopi tubruk yang disajikan bersama bara arang panas yang menciptakan bunyi “joss” saat dimasukkan ke dalam gelas.
Mengapa Angkringan dan HIK Bertahan dari Gempuran Zaman?
Angkringan dan HIK bukan hanya tempat makan, melainkan juga ruang sosial tempat orang berkumpul, berbincang, dan melepas penat. Warung-warung ini mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan, keterbukaan, dan kebersamaan yang melekat kuat dalam budaya Jawa.
Dalam suasana yang santai, tidak ada sekat sosial di antara pengunjung. Mulai dari mahasiswa, pekerja, seniman, hingga pejabat bisa duduk berdampingan di satu bangku, menikmati nasi kucing dan segelas wedang jahe. Nilai-nilai inilah yang membuat warung angkringan dan hik tetap relevan bahkan di era modern.
Perbedaan angkringan dan hik lebih dari sekadar nama dan rasa. Keduanya adalah wujud nyata dari kearifan lokal yang berkembang dari kebutuhan masyarakat, lalu bermetamorfosis menjadi simbol budaya. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan, lahirlah ruang sosial yang egaliter, bisnis yang menghidupi banyak keluarga, dan warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu.
Mengetahui asal-usul, nilai, dan perbedaannya bukan hanya penting bagi pecinta kuliner, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang budaya Jawa dan kekuatan kuliner rakyat dalam menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan dan bermakna.
Ingin tahu lebih banyak cerita menarik tentang kuliner lokal, budaya daerah, hingga isu sosial-politik terkini di Indonesia? Kunjungi Suryakanta.id dan temukan beragam artikel pilihan yang membuka wawasan dan memperkaya rasa penasaranmu.

