Pacu Jalur Dilirik Dunia, Siapkah Riau Menyambutnya?

Pacu Jalur kembali mencuri perhatian publik, terutama di media sosial. Tradisi lomba dayung khas Riau ini tak hanya menarik minat masyarakat Indonesia, tetapi juga menjangkau perhatian dunia internasional. Semuanya bermula dari.....

Oleh:

Baca Selengkapanya
Judul Halaman Otomatis

Pacu Jalur kembali mencuri perhatian publik, terutama di media sosial. Tradisi lomba dayung khas Riau ini tak hanya menarik minat masyarakat Indonesia, tetapi juga menjangkau perhatian dunia internasional. Semuanya bermula dari sosok Rayyan Arkan Dikha, anak berusia 11 tahun yang tampil sebagai penari Pacu Jalur. Gerakan khas dan ekspresi percaya dirinya membuat banyak orang terkesima.

Videonya pun cepat menyebar dan viral di berbagai platform digital. Dari sinilah muncul tren baru yang dikenal dengan istilah aura farming. Banyak orang meniru gaya Rayyan dan menjadikan laguYoung, Black, and Rich milik rapper asal Amerika Melly Mike sebagai musik latar. Lagu ini ikut terdongkrak popularitasnya dan menjadi soundtrack bagi konten-konten bertema Pacu Jalur.

Fenomena ini mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan sorotan global sehingga membuka jalan bagi Pacu Jalur untuk dikenal lebih luas, bahkan berpotensi menjadi bagian penting dari kalender wisata budaya dunia.

Pacu Jalur dan Geliat Wisata Budaya Riau

Kedatangan Melly Mike ke Kuantan Singingi, Riau, untuk tampil langsung dalam Festival Pacu Jalur pada 20–24 Agustus 2025 menjadi penanda penting dalam gelombang popularitas budaya ini. Dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial dan dengan cepat menjadi viral, rapper asal Amerika Serikat itu menyampaikan rasa hormat serta antusiasmenya terhadap tradisi Pacu Jalur.

Kehadiran musisi internasional dalam sebuah festival budaya lokal bukanlah hal biasa. Ini adalah momentum strategis yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk memperkenalkan Pacu Jalur ke kancah global, tetapi juga untuk menggerakkan roda pariwisata budaya secara lebih luas dan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dinas Pariwisata Provinsi Riau memprediksi adanyalonjakan pengunjung hingga 30 persen pada tahun ini. Namun, kesiapan infrastruktur tampaknya masih jauh dari ideal. Saat ini, tribun permanen hanya tersedia bagi kalangan pejabat, sementara warga dan wisatawan umum harus puas dengan tribun sementara berbahan kayu dan terpal yang rawan ambruk bila dipadati pengunjung.

Padahal, infrastruktur adalah fondasi utama dalam pengembangan pariwisata. Berbagai catatan dari pengalaman pengunjung dan warga lokal menunjukkan masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan seperti akses jalan dari Pekanbaru ke Taluk Kuantan yang rusak, area parkir yang semrawut, tribun yang terbatas, serta minimnya fasilitas publik seperti toilet bersih, papan informasi, dan area kuliner yang tertata rapi.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan penginapan yang layak, pemandu wisata, serta titik-titik informasi wisata yang mudah diakses. Jika Riau memang serius menjadikan Pacu Jalur sebagai agenda wisata tahunan berskala internasional, maka investasi pada sektor-sektor pendukung ini tak bisa ditunda.

Urgensi Kebijakan Responsif agar Pacu Jalur Tak Ditenggelamkan Algoritma

Respon pemerintah sejauh ini masih tampak cenderung reaktif. Meskipun momentum ini disambut dengan antusias, arah dan kesiapan jangka panjang belum sepenuhnya tampak nyata. Padahal, keberhasilan pengelolaan Pacu Jalur memerlukan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku UMKM, masyarakat lokal, serta sektor swasta.

Pacu Jalur bukan sekadar lomba dayung. Ini adalah perayaan sejarah dan warisan budaya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kuansing. Kebanggaan lokal ini kini berada di bawah sorot sorotan global. Namun, sebagaimana tren yang cepat naik,  bisa juga cepat turun jika tidak dikelola dengan baik.

Viralitas memang memberi panggung, tetapi pengelolaan menentukan apakah panggung itu akan bertahan atau roboh. Pemerintah Provinsi Riau bersama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan kini punya pekerjaan rumah besar yaitu memastikan agar Pacu Jalur tidak hanya menjadi tren sesaat yang hilang begitu saja setelah sorak-sorai reda dan algoritma berganti.

Judul Halaman Otomatis

Opini Terkini