Media sosial akhir-akhir ini ramai memperbincangkan dua istilah unik yaitu Rojali dan Rohana. Fenomena ini menjadi bahan diskusi, meme, hingga kritik sosial yang tersebar luas, terutama di kalangan remaja dan dewasa. Namun, apa sebenarnya arti dari dua istilah ini yang seolah-olah menjadi ikon baru dalam budaya jalan-jalan masyarakat kota?
Siapa Rojali dan Rohana?
Rojali adalah akronim dari “rombongan jarang beli”. Istilah ini menggambarkan kelompok orang yang datang ke pusat perbelanjaan tanpa niat atau aksi nyata untuk berbelanja. Biasanya mereka hanya sekadar berjalan-jalan, duduk santai, menikmati suasana, atau membuat konten media sosial. Sementara itu, Rohana adalah “rombongan hanya nanya” atau dalam versi lain diartikan sebagai “rombongan hanya nongkrong atau narsis saja”. Rohana lebih sering terlihat aktif bertanya kepada penjaga toko, mencoba produk, tapi akhirnya tidak melakukan pembelian apapun.
Kedua istilah ini lahir dari pengamatan sosial terhadap pola konsumsi masyarakat modern, khususnya generasi muda yang kerap menjadikan mall sebagai tempat hiburan murah, tempat nongkrong, atau bahkan studio konten pribadi.
Penyebab Banyak Rojali dan Rohana di Mall
Ada banyak faktor yang mendorong menjamurnya fenomena Rojali dan Rohana, yang pada dasarnya merupakan bagian dari perubahan perilaku konsumen. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:
1. Tekanan Ekonomi
Inflasi dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya menjadi penyebab utama. Kalangan menengah ke bawah kerap datang ke mall hanya untuk cuci mata. Bahkan, kelompok menengah atas pun kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
2. Kebutuhan Sosial dan Psikologis
Mengunjungi mall kini tidak semata-mata bertujuan untuk berbelanja. Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Maslow, banyak orang datang ke pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan akan hubungan sosial, penghargaan diri, hingga aktualisasi. Bukan semata soal membeli, tapi juga tentang merasakan suasana, berinteraksi, atau sekadar membangun citra diri.
3. Tren Media Sosial
Kehadiran media sosial mendorong banyak orang untuk membuat konten menarik, dari foto OOTD hingga vlog. Mal yang Instagramable menjadi magnet tersendiri. Tak sedikit yang datang hanya untuk memotret dan membagikannya ke followers, tanpa membeli apapun.
4. Ruang Publik yang Terbatas
Di kota besar, mall kerap menjadi alternatif ruang publik karena kenyamanan, keamanan, dan aksesibilitasnya. Tak heran, mall bertransformasi menjadi tempat berkumpul dan interaksi sosial, bukan semata ruang transaksi ekonomi.
Sejak Kapan Rojali dan Rohana Merebak?
Fenomena Rojali dan Rohana sebenarnya bukanlah hal yang baru. Istilahnya mungkin baru viral, tapi perilakunya sudah berlangsung lama. Menurut para pelaku usaha dan pengamat sosial, gejala ini semakin terlihat pasca-pandemi COVID-19, ketika masyarakat kembali beraktivitas di luar rumah dengan antusiasme tinggi, namun belum pulih secara ekonomi.
Beberapa pusat perbelanjaan bahkan mulai mengubah konsep desain ruangnya. Alih-alih menambah gerai baru, mereka menciptakan spot interaksi sosial seperti taman indoor, galeri seni, atau area duduk luas dengan pencahayaan bagus. Semua ini menjadi respons terhadap perubahan perilaku konsumen yang lebih menyukai pengalaman dan koneksi sosial daripada sekadar belanja.
Implikasi Sosial dan Ekonomi
Meski sering dianggap lucu atau remeh, istilah Rojali dan Rohana memiliki implikasi baik secara sosial maupun ekonomi. Dari sisi bisnis, meningkatnya jumlah pengunjung tanpa transaksi nyata bisa berdampak pada omzet tenant. Tampaknya ramai, tapi realisasi penjualan tetap lesu.
Namun, dari sudut pandang sosial, istilah ini mencerminkan krisis keterbatasan ruang publik, tekanan ekonomi, serta kebutuhan emosional masyarakat urban. Bahkan dalam banyak kasus, pengunjung Rojali dan Rohana justru membantu menaikkan traffic mall yang pada akhirnya tetap memberi nilai tambah secara tidak langsung bagi brand awareness tenant.
Istilah Rojali dan Rohana bisa dibaca sebagai bentuk kritik terhadap konsumerisme yang berlebihan. Di sisi lain, ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat semakin adaptif dalam mencari cara untuk tetap terhubung dan merasa “hidup” di tengah keterbatasan.
Sebagian pelaku usaha merespons dengan keluhan, tapi tak sedikit juga yang melihat ini sebagai peluang. Banyak tenant atau pemilik usaha mulai mengadopsi strategi engagement non-transaksional, seperti membuka event komunitas, menyediakan area foto, atau memberi akses Wifi lebih cepat.

