Shrekking tengah ramai diperbincangkan di media sosial sebagai tren kencan baru yang unik dan menarik perhatian generasi muda. Istilah ini terinspirasi dari film animasiShrek (2001), yang mengisahkan seorang putri cantik menemukan kebahagiaan sejati bersama Shrek, seorang raksasa berhati baik. Kisah tersebut menjadi simbol bahwa cinta sejati tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik, melainkan juga oleh nilai, karakter, dan kebaikan hati.
Fenomena ini memicu diskusi lebih luas mengenai cara orang memandang cinta dan hubungan. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Shrekking?
Pengertian Shrekking
Shrekking merujuk pada praktik berkencan dengan seseorang yang tidak sesuai dengan tipe ideal secara fisik, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akan memperlakukan mereka dengan lebih baik. Amy Chan, pelatih kencan sekaligus penulisBreakup Bootcamp: The Science of Rewiring Your Heart, menilai tren ini sebagai cerminan kebingungan dalam dunia kencan modern. Kompleksitas hubungan saat ini begitu besar, sehingga muncul istilah baru seperti Shrekking untuk mendeskripsikan pengalaman tersebut.
Risiko dan Kesalahpahaman
Banyak orang yang mencoba Shrekking berakhir kecewa karena berangkat dari asumsi keliru. Mereka percaya bahwa pasangan yang kurang menarik secara fisik cenderung memiliki perilaku yang lebih baik. Padahal, karakter seseorang tidak bisa diukur hanya dari penampilan luar.
Emma Hathorn, pakar hubungan dari Seeking.com, menegaskan bahwa siapa pun yang berperilaku buruk tetap tidak menarik, sekalipun memiliki fisik menawan. Ia menambahkan bahwa jika dipahami secara salah, tren ini justru dapat membuat orang enggan membuka diri pada hubungan di luar tipe ideal mereka padahal kesempatan untuk menemukan koneksi tulus tetap terbuka lebar.
Ciri-Ciri Shrekking
Praktik Shrekking umumnya ditandai dengan beberapa pola berikut:
-
Mengutamakan fisik yang kurang menarik
Pasangan sengaja dipilih karena dianggap kurang menarik secara fisik, dengan harapan perilakunya lebih baik.
-
Kekecewaan emosional
Ekspektasi yang tidak realistis sering berujung pada rasa kecewa karena perilaku pasangan tidak sesuai harapan.
-
Rasa takut keluar zona nyaman
Banyak orang menjadi ragu menjalin hubungan dengan pasangan di luar tipe ideal, meski pengalaman baru bisa memperkaya pemahaman tentang diri sendiri.
-
Miskonsepsi hubungan ideal
Shrekking sering dianggap sebagai jalan pintas menemukan pasangan yang lebih tulus, padahal keselarasan nilai dan kesiapan emosional jauh lebih penting.
Cara Bijak Menghadapi Shrekking
Para pakar menyarankan agar tren ini disikapi dengan bijak melalui beberapa langkah berikut:
-
Fokus pada nilai dan karakter
Hubungan yang sehat dibangun dari kesamaan prinsip, kesiapan emosional, dan sikap saling menghormati, bukan hanya dari daya tarik fisik.
-
Tingkatkan kesadaran diri
Pahami batasan pribadi yang tidak bisa ditawar agar pengalaman kencan tetap sehat dan tidak menimbulkan trauma.
-
Jangan menurunkan standar sembarangan
Tujuan Shrekking bukan menurunkan kualitas pasangan, melainkan menemukan kompatibilitas yang lebih tulus.
-
Bersikap kritis terhadap asumsi
Jangan beranggapan penampilan menentukan karakter. Koneksi emosional dan rasa hormat jauh lebih berarti dalam jangka panjang.
Amy Chan menekankan,“Ketertarikan fisik memang penting, tetapi itu bukan jaminan perlakuan baik. Fokuslah pada nilai, kesiapan emosional, dan rasa hormat dalam hubungan.”
Shrekking dan Dunia Kencan Digital
Tren Shrekking juga mencerminkan keresahan anak muda terhadap budaya kencan digital yang serba cepat. Kebiasaanswipe left atauright di aplikasi kencan sering kali membuat hubungan terasa dangkal dan hanya di permukaan. Kehadiran istilah ini menandakan kebutuhan generasi muda untuk mencari hubungan yang lebih otentik dan bermakna.
Emily Thompson, sosiolog sekaligus pakar hubungan, menegaskan bahwa Shrekking dapat menjadi pengalaman positif jika dimaknai dengan tepat. Anak muda bisa belajar membuka diri pada pengalaman baru tanpa harus menurunkan standar moral atau nilai pribadi. Fokus seharusnya diarahkan pada penilaian kompatibilitas emosional, sehingga hubungan yang terjalin memiliki fondasi yang kuat dan tulus.
Shrekking bukan sekadar tren viral atau meme di media sosial. Lebih dari itu, tren ini merefleksikan keresahan generasi muda terhadap pola kencan modern yang serba instan. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa penampilan hanyalah salah satu aspek, bukan fondasi utama dalam membangun hubungan. Karakter, nilai, dan sikap saling menghormati tetap menjadi kunci menciptakan ikatan yang sehat, kuat, dan langgeng.

