Keraton merupakan istana raja yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman raja atau sultan beserta keluarganya. Di sekitar keraton biasanya tinggal pejabat tinggi kerajaan, bangsawan, dan anggota keluarga raja. Sebagai pusat kehidupan kerajaan, keraton juga menjadi tempat berlangsungnya tradisi, upacara, dan kegiatan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Dua keraton yang paling terkenal hingga kini adalah Yogyakarta dan Surakarta. Kedua keraton ini dulunya berasal dari satu kerajaan sebelum terpecah akibat perselisihan kedudukan di dalam keluarga kerajaan. Bagaimana asal-usul perpecahan antara Keraton Yogyakarta dan Surakarta, dan apa saja perbedaan yang membuat kedua keraton ini memiliki identitas dan karakter masing-masing?
Asal Usul Perpecahan
Kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah dan Selatan muncul pada akhir abad ke-16. Pusat pemerintahannya berpindah-pindah dari Kotagede ke Kerta, Plered, Kartasura, dan akhirnya Surakarta. Pada masa jayanya, Mataram menjadi pusat kekuatan Islam sekaligus budaya Jawa.
Seiring waktu, campur tangan Belanda melemahkan kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-18, konflik internal memuncak. Pangeran Mangkubumi, saudara Sunan Pakubuwono II, menentang kebijakan istana yang dianggap terlalu menguntungkan Belanda. Ia memimpin perlawanan bersama bangsawan yang setia padanya.
Pertikaian ini dimanfaatkan Belanda hingga menjadi perang saudara antara kubu Mangkubumi dan Pakubuwono III, pengganti ayahnya di tahta. Untuk menghentikan konflik, dibuat Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 di Desa Giyanti, dekat Solo. Perjanjian ini membagi Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi, bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Sunan Pakubuwono III.
Pembagian wilayah kekuasaan tersebut diperkuat oleh Perjanjian Jatisari untuk menegaskan batas wilayah dan adat istiadat masing-masing. Sejak itu, Yogyakarta resmi berdiri pada 1755, sedangkan Surakarta telah ada sejak 1744 menggantikan Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan.

