Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
keraton

5 Hal yang Bedakan Keraton Jogja dan Solo Meski dari Akar yang Sama

Oleh:

Keraton merupakan istana raja yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman raja atau sultan beserta keluarganya. Di sekitar keraton biasanya tinggal pejabat tinggi kerajaan, bangsawan, dan anggota keluarga raja. Sebagai pusat kehidupan kerajaan, keraton juga menjadi tempat berlangsungnya tradisi, upacara, dan kegiatan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Dua keraton yang paling terkenal hingga kini adalah Yogyakarta dan Surakarta. Kedua keraton ini dulunya berasal dari satu kerajaan sebelum terpecah akibat perselisihan kedudukan di dalam keluarga kerajaan. Bagaimana asal-usul perpecahan antara Keraton Yogyakarta dan Surakarta, dan apa saja perbedaan yang membuat kedua keraton ini memiliki identitas dan karakter masing-masing?

Asal Usul Perpecahan

Kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah dan Selatan muncul pada akhir abad ke-16. Pusat pemerintahannya berpindah-pindah dari Kotagede ke Kerta, Plered, Kartasura, dan akhirnya Surakarta. Pada masa jayanya, Mataram menjadi pusat kekuatan Islam sekaligus budaya Jawa.

Seiring waktu, campur tangan Belanda melemahkan kekuasaan kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-18, konflik internal memuncak. Pangeran Mangkubumi, saudara Sunan Pakubuwono II, menentang kebijakan istana yang dianggap terlalu menguntungkan Belanda. Ia memimpin perlawanan bersama bangsawan yang setia padanya.

Pertikaian ini dimanfaatkan Belanda hingga menjadi perang saudara antara kubu Mangkubumi dan Pakubuwono III, pengganti ayahnya di tahta. Untuk menghentikan konflik, dibuat Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 di Desa Giyanti, dekat Solo. Perjanjian ini membagi Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi, bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Sunan Pakubuwono III.

Pembagian wilayah kekuasaan tersebut diperkuat oleh Perjanjian Jatisari untuk menegaskan batas wilayah dan adat istiadat masing-masing. Sejak itu, Yogyakarta resmi berdiri pada 1755, sedangkan Surakarta telah ada sejak 1744 menggantikan Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan.

Perbedaan Keraton Yogyakarta dan Surakarta

1. Gelar dan Kepemimpinan

Setiap keraton memiliki sistem kepemimpinan sendiri. Keraton Yogyakarta dipimpin oleh raja dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono, dimulai dari Hamengkubuwono I sejak keraton ini berdiri pada 1755. Saat ini, tahta diteruskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di sisi lain, Keraton Surakarta dipimpin Sunan Pakubuwono. Keraton ini didirikan Pakubuwono II pada 1744 sebagai pengganti Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan. Setelah wafatnya Pakubuwono XIII, tradisi kesunanan di Surakarta diteruskan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Hamangkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra sebagai penerus tahta Keraton Surakarta.

2. Tradisi dan Adat Istiadat

Perbedaan yang paling terlihat antara Keraton Yogyakarta dan Surakarta ada pada budaya dan adat istiadat. Yogyakarta tetap mempertahankan tradisi lama Mataram Islam, sementara Surakarta lebih terbuka melakukan perubahan dan inovasi tanpa meninggalkan akar Jawa.

Di Yogyakarta, upacara seperti Grebeg Maulud, Sekaten, dan Labuhan Parangkusumo dijalankan sesuai aturan lama. Di Surakarta tradisi bisa dikembangkan, misalnya dalam tarian, pakaian, dan upacara adat. Contohnya, Tari Bedhaya Ketawang di Surakarta dibuat lebih ritualistik dan eksklusif, sedangkan di Yogyakarta tarian menekankan makna spiritual dan nilai moral.

3. Pakaian Adat

Pakaian adat juga menjadi perbedaan utama antara Keraton Yogyakarta dan Surakarta, terutama pada blangkon, penutup kepala khas pria Jawa. Blangkon Yogyakarta memiliki tonjolan di bagian belakang, yang melambangkan kemampuan orang Jawa menyimpan rahasia dan mengendalikan diri, baik terhadap aib sendiri maupun orang lain. Motif batik yang umum dipakai antara lain modang, sido wirasat, jumputan, dan taruntum.

Sementara itu, blangkon Surakarta berbentuk datar di belakang dengan simpul kain yang diikat ke dalam. Bentuk ini melambangkan kesatuan niat dan pikiran yang lurus serta keimanan dalam dua kalimat syahadat. Motif batiknya biasanya keprabon, kesatrian, dan tempen, yang menunjukkan kewibawaan dan ketegasan.

4. Gamelan

Gamelan merupakan alat musik tradisional yang penting dalam budaya keraton. Gamelan Yogyakarta ukurannya lebih besar dan suaranya kuat, mencerminkan karakter yang gagah dan tegas.

Sedangkan gamelan Surakarta lebih halus, nadanya lembut dengan ritme tenang, menggambarkan sifat elegan dan lembut khas Solo. Dari segi bentuk, ornamen gamelan Surakarta lebih rumit dan artistik, sementara gamelan Yogyakarta lebih sederhana namun tetap berwibawa.

4. Arsitektur dan Tata Bangunan

Kedua keraton memiliki kompleks bangunan yang luas dan penuh makna simbolik. Keraton Yogyakarta, dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada 1755, mengusung arsitektur Jawa tradisional yang sarat filosofi spiritual. Setiap halaman dan bangunan disusun mengikuti konsep kosmologi Jawa, dari Alun-Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan, melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga akhir.

Sementara itu, Keraton Surakarta yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono II menggabungkan gaya arsitektur Jawa dan Eropa. Bangunannya didominasi warna putih dan biru, dengan elemen khas seperti Menara Sanggabuwana, yang konon menjadi simbol pertemuan raja dengan Ratu Laut Selatan.

5. Fungsi dan Peran Saat Ini

Kedua keraton masih aktif hingga kini dan tetap menjadi pusat kebudayaan Jawa. Keraton Yogyakarta juga berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga Sultan sekaligus simbol pemerintahan daerah istimewa, sedangkan Keraton Surakarta fokus pada aspek spiritual dan budaya Kesunanan.

Keduanya terbuka bagi wisatawan. Di Yogyakarta, pengunjung bisa mengikuti tur sejarah dan mengunjungi museum, sementara di Surakarta terdapat pertunjukan budaya, mulai dari kirab, tarian sakral, hingga upacara Malam Satu Suro.