Aktor terkenal Reza Rahadian tengah melebarkan sayapnya ke dunia penyutradaraan. Pangku, film pertamanya sebagai sutradara, menjadi sorotan publik dengan ceritanya yang berani. Debut film ini berhasil mengantarkan Reza ke festival-festival film ternama di kancah dunia. Mengangkat fenomena Kopi Pangku kawasan Pantura, Reza Rahadian memotret realita sosial yang dekat dengan masyarakat.
Film Pangku menghadirkan realita pertumbuhan anak dalamstruggle kehidupan di tengah absennya peran seorang ayah. Tak tanggung-tanggung, Reza bahkan mengungkapkan Film Pangku sangat dekat dengan latar belakangnya yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Hal ini tergambar dari perkembangan karakter yang ada di dalam film Pangku.
Analisis semiotika
Karya perdana Reza yang dekat dengan dinamika sosial terutama anak-anak di Indonesia ini, menarik untuk dilihat dengan analisis semiotika. Menelusuri makna gambar demi gambar, artikel ini membingkai cara anak-anak merespon dan menghadapi ketidakhadiran peran ayah.
Semiotika telah dikenal sebagai ilmu tentang tanda-tanda. Di dalam semiotika, peristiwa sosial, masyarakat, dan kebudayaan merupakan kumpulan tanda.Roland Barthes meneruskan pemikiran De Saussure, menekankan semiotika sebagai interaksi antara teks dengan pengalaman personal. Gagasan Barthes dikenal dengan order of signification, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus); dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal).
Melihat semiotika Film Pangku bisa dilakukan mulai dari pengenalan karakter, latar belakang karakter, hingga potret dinamika kehidupan dari tokoh-tokohnya.
Pengenalan karakter
Film Pangku memulai dengan tampilan seorang perempuan berjalan di pemukiman yang gemerlap. Gambar di atas mengandung makna denotasi adegan seorang perempuan hamil tua sedang berjalan di pemukiman yang gemerlap. Ia melangkah untuk melamar pekerjaan. Pemukiman ini dipenuhi lampu warna-warni dengan bangunan rumah yang tidak begitu besar, khas kawasan dengan pendapatan di bawah rata-rata.
Makna konotasi dari gambar di atas merekam tekad seorang perempuan hamil tua tanpa suami, tengah memberanikan diri untuk melangkah ke tempat baru. Ia berusaha mencari pekerjaan di tengah kehamilannya untuk bertahan hidup, sekaligus mencari kehidupan yang setidaknya lebih baik untuk anaknya kelak.
Latar belakang karakter
Layar menunjukkan gambar dua perempuan yang tengah berbincang-bincang sembari melakukan pekerjaan rumah. Mengandung makna denotasi perempuan hamil tua menumpang di rumah sederhana milik seorang ibu. Lantas, ia membantu pemilik rumah mengerjakan pekerjaan rumah. Pengungkapan asal-usul terjadi pada scene ini, ketika ibu pemilik rumah menanyakan keberadaan orang tuanya. Perempuan hamil tua menjelaskan latar kehidupannya, “ada ibu di kampung, kalau bapak udah nggak ada.”
Momen ini menyiratkan makna konotasi seorang ibu yang tengah iba melihat perempuan dengan kondisi hamil tua, seorang diri mencari pekerjaan, tanpa bekal dan tanpa tujuan. Naluri sang ibu pun muncul, diperbolehkannya perempuan hamil itu menumpang dan membantu pekerjaan rumah sebagai tanda terima kasih.
Perjuangan awal menjadi ibu
Pertunjukan film kini menampilkan seorang perempuan meniup air tajin. Makna denotasi yang muncul perempuan hamil telah melahirkan. Kini ia berusaha menyusui si buah hati, walaupun asinya belum keluar. Ibu pemilik rumah berinisiatif membuatkan susu imitasi yang berupa air rebusan beras, masyarakat umumnya menyebut air tajin.
Peristiwa air tajin ini merepresentasi makna konotasi tentang bagaimana naluri seorang perempuan menemani perjuangan sesama perempuan. Sosok ibu membagikan keterampilannya merawat bayi kepada seorang perempuan yang baru pertama kali melahirkan dan merawat anak. Tindakan ibu yang memberikan solusi dari suatu permasalahan.
Tantangan seorang perempuan menjadi ibu dan ayah
Merawat bayi yang terus bertumbuh, perjalanan tokoh utama membawa penonton ke dalam suasana warung kopi pangku. Layar memperlihatkan seorang perempuan yang menerima sejumlah uang, sambil menggendong anaknya; dan seorang perempuan yang tengah dipangku oleh laki-laki pelanggan warung kopi. Makna Denotasi dari kedua gambar ini terjadi setelah melahirkan anaknya, tokoh perempuan mampu melakukan berbagai pekerjaan. Membajak sawah sambil membawa anaknya; hingga bekerja pada ibu pemilik rumah sebagai pelayan di warung kopi pangku.
Melalui kedua gambar ini, makna konotasi menunjukkan tokoh perempuan dituntut kehidupan untuk menghasilkan uang. Menjalankan pekerjaan tanpa ada pilihan, hanya untuk bertahan hidup. Ia merelakan dirinya untuk dipangku di warung kopi dan menghadapi kelamnya dunia prostitusi. Demi sejumlah uang agar mampu membesarkan anaknya.
Dilema seorang ibu dalam berperan sebagai ayah
Seiring waktu berjalan, sang anak mulai mengerti pekerjaan ibunya. Gambar di atas memiliki makna denotasi seorang perempuan berbaring di samping anaknya yang tertidur di sebuah kamar sempit. Ia menghampiri anaknya walaupun masih menggunakan pakaian terbuka dengan riasan wajah, sisa bekerja di warung kopi pangku. Sang ibu mengusap kepala putera tunggalnya sambil menatap tembok dengan pandangan kosong, sesaat setelah buah hatinya menyampaikan ia tidak suka melihat ibunya dipangku oleh banyak lelaki.
Suasana ini menekankan makna konotasi diri perempuan yang berperan sebagai ibu tunggal melamun memikirkan cara bertahan hidup dan menghidupi anaknya. Kondisi yang tidak mudah membuat dia terpaksa menjadi gadis kopi pangku. Tanpa pilihan lain, perempuan ini menjalankan profesi tersebut dan menghiraukan rasa tidak nyamannya. Namun, anaknya yang kini telah mengerti, membuat sang ibu dilema.
Tantangan dari hasil perjuangan
Malam demi malam berlalu, kopi demi kopi terlayani, hingga dana demi dana terkumpul, saatnya sang putera memasuki dunia sekolahan. Pita film memutar adegan ia dan putranya di ruangan sekolah. Gambar memperlihatkan makna denotasi seorang perempuan yang mendaftarkan anaknya ke sekolah. Raut wajah sang anak murung karena tidak bisa memenuhi persyaratan mendaftar sekolah. Sekolah menolak kondisi anak yang tidak memiliki ayah dan akta kelahiran.
Makna konotasi tentang birokrasi khas Indonesia tersorot tajam di bagian ini. Realita sistem birokrasi di Indonesia tidak adil terhadap kelompok tertentu. Ketidakadilan sistem ini bahkan membuat sebagian anak tidak bisa mengenyam pendidikan, hanya karena tidak memiliki ayah. Padahal seorang ibu tunggal telah memperjuangkan agar anaknya dapat bersekolah.
Menghadapi ketidakhadiran peran ayah
Melalui analisis semiotika di atas, terlihat beberapa hal yang bisa terjadi akibat ketidakhadiran peran ayah. Pemeran perempuan dalam Film Pangku memperlihatkan bahwa dia menjadi pribadi yang sangat mandiri bahkan di dalam kondisi yang sulit. Terlihat sejak ketiadaan ayahnya, hingga ia membesarkan anaknya seorang diri. Hal ini selaras dengan teori perkembangan psikososial yang menjelaskan bahwa ketidakhadiran salah satu orang tua bisa membuat seseorang mandiri lebih awal. Dengan konteks tanpa ayah, seseorang cenderung belajar mengandalkan diri sendiri dan mengembangkan keterampilan bertahan hidup (Erikson, 2010).
Akibat ketidakhadiran peran ayah juga ditunjukkan dengan keterampilan seorang perempuan yang adaptif. Menurut Saragih (2024), seseorang yang besar tanpa ayah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengatasi masalah. Hal ini terlihat pada karakter tokoh perempuan yang beradaptasi dan berusaha untuk bertahan hidup, bahkan menghidupi anaknya tanpa seorang suami.
Seseorang yang hidup tanpa ayah juga cenderung bertanggung jawab. Hal ini terjadi karena mau tidak mau harus ada orang yang menggantikan peran ayah, atau menggantikan peran ibu ketika ibu berperan menjadi ayah (Saragih, 2024). Tanggung jawab ini tergambar dalam Film Pangku di mana tokoh perempuan tersebut tetap melahirkan anaknya, dan merawat sang anak sambil bekerja. Walaupun pekerjaan yang bisa ia akses sebatas menjadi gadis kopi pangku dan membuat dirinya sendiri tidak nyaman.
Efek ketidakhadiran ayah yang digambarkan dalam Film Pangku memang cenderung positif. Namun begitu, efek positif ini justru muncul dari trauma dan pahitnya kondisi kehidupan yang membuat tokoh mau tidak mau berada dalam kondisi tersebut. Dalam psikologi, fenomena seperti ini termasuk ke dalam Posttraumatic Growth(PTG) (Khatimah & Pudjiati, 2022).
PTG menggambarkan kondisi seseorang berkembang secara positif walaupun pernah mengalami kejadian traumatis. Perkembangan ini berkaitan dengan transformasi kognitif yang mendorong individu untuk mengubah pola pikir dari situasi negatif yang dialami. Oleh karena itu, mereka bisa mencari sesuatu baru yang positif (Khatimah & Pudjiati, 2022).
Reza Rahadian berhasil menyampaikan realita pahitnya kehidupan dengan sangat jujur di depan kamera. Bahkan PTG yang terjadi pada pemeran utama perempuan Film Pangku tergambar sangat nyata dan bisa kita rasakan di kehidupan sekitar kita. Bahwa perempuan itu hanya bertahan hidup karena itulah satu-satunya pilihan yang ia punya.








