Pertandingan Final Piala Afrika 2025 ditutup dengan kemenangan tipis Senegal atas Maroko (1-0) pada Minggu (18/1) waktu setempat. Bertempat di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, tim tamu berhasil mengalahkan tuan rumah dalam pertandingan dramatis yang diwarnai situasi menegangkan.
Tempo tinggi sejak menit pertama
Kedua tim bermain dengan tempo yang tinggi sejak babak pertama. Namun, Senegal lebih banyak menciptakan peluang dibandingkan Maroko. Peluang pertama Senegal tiba pada menit ke-5 tatkala sepak pojok yang dilepaskan dari sudut kanan gawang Maroko ditanduk oleh Pape Gueye. Sayang, tandukan tersebut berhasil diantisipasi oleh Kiper Maroko, Yassine Bounou.
Tak lama berselang, giliran Iliman Ndiaye yang mendapatkan umpan panjang dari Nicolas Jakcson yang membuatnya berhadapan satu lawan satu dengan Bounou. Namun, kesigapan kiper Al-Hilal ini mampu mematahkan peluang emas tersebut.
Peluang berbahaya dari Maroko baru tercipta pada menit ke-58. Umpan silang yang dilepaskan oleh Bilal El Khannouss disontek oleh Ayoub El Kaabi. Namun, sontekannya masih melebar ke sisi kanan gawang Senegal. Setelahnya, kedua tim bermain relatif seimbang hingga satu setengah jam pertandingan berjalan.
Penalti di injury time dan aksi walk-off Senegal
Ketegangan mulai memuncak pada saat perpanjangan waktu. Dua menit waktu perpanjangan bergulir, Senegal berhasil mencetak gol melalui sundulan Ismaila Sarr – memanfaatkan bola rebound hasil tandukan Abdoulaye Seck. Namun gol tersebut dianulir setelah wasit memutuskan bahwa terjadi pelanggaran sebelum gol terjadi.
Ketegangan mencapai klimaksnya setelah tiga menit berselang, pemain Maroko, Brahim Diaz, terjatuh di kotak penalti saat melakukan duel dengan pemain Senegal, El Hadji Diouf. Wasit kemudian mengecek VAR dan memutuskan untuk menghadiahkan penalti kepada tim Singa Atlas, Maroko.
Keputusan tersebut direspon dengan protes dan aksi walk-off para pemain Senegal sehingga pertandingan sempat tertunda kurang lebih selama lima belas menit. Tak hanya itu, ketegangan juga sampai ke tribun penonton. Kericuhan pecah di antara pendukung kedua tim dan bahkan beberapa penonton berhasil menjebol barikade pembatas tribun.
Adalah Sadio Mane yang kemudian menjadi protagonis dengan tetap bertahan di pinggir lapangan serta membujuk kawannya kembali bermain dan menyelesaikan pertandingan. Aksi Mane membuahkan hasil setelah para pemain Senegal berkenan melanjutkan pertandingan.
Pertandingan dilanjutkan dengan tendangan penalti yang dieksekusi oleh Brahim Diaz ke gawang kiper Senegal, Edouard Mendy. Dalam momen menegangkan tersebut, Diaz melakukan teknik panenka yang sayangnya tidak mampu mengecoh Mendy sehingga bola tersebut jatuh ke pelukannya. Skor akhirnya tetap bertahan 0-0 ketika peluit waktu 90 menit pertandingan berakhir dibunyikan.
Gol kemenangan di babak perpanjangan waktu
Adapun pertandingan kembali dilanjutkan melalui babak perpanjangan waktu. Tak lama setelah perpanjangan waktu dimulai, Senegal justru mampu unggul terlebih dahulu melalui tendangan keras Pape Gueye. Tendangan yang dilesakkan tepat di depan kotak penalti tersebut menghujam pojok kiri atas gawang Yassine Bounou. Tuan rumah pun terdiam.
Pasca gol tersebut, Maroko yang tertinggal mengambil alih kendali permainan. Namun, percobaan tembakan Brahim Diaz pada menit ke-97 ditangkap dengan mudah oleh Edouard Mendy. Tak jauh berbeda, tandukan Youssef El-Nessyri pada menit ke-104 dan Nayef Aguerd pada menit ke-108 berturut-turut melebar dan dimuntahkan tiang gawang Senegal.
Skor 1-0 bertahan hingga akhir laga sekaligus memastikan Senegal melenggang menjadi juara Piala Afrika edisi ini di hadapan publik Maroko yang menjadi lawan mereka di babak final.
Paceklik gelar Maroko dan gelar kedua Senegal
Gelar Piala Afrika 2025 menjadi titel kedua Senegal dalam kompetisi dua tahunan yang telah berlangsung sejak 1957 ini. Adapun gelar pertama mereka peroleh pada tahun 2021 silam setelah mereka menang dalam babak adu penalti melawan Mesir (4-2). Sementara itu, bagi Maroko, kekalahan bagi tim berjuluk Singa Atlas di hadapan para pendukungnya ini membuat mereka gagal mengakhiri puasa gelar 50 tahun dalam kompetisi ini.
Meskipun demikian, pertandingan final ini berhasil menghadirkan pertandingan sarat kontroversi dan gengsi yang menarik untuk diulas dan dikomentari, mulai dari keputusan wasit yang memantik perdebatan, aksi walk-off sejumlah pemain Senegal sebagai bentuk protes, figur kepemimpinan Sadio Mané yang tampil dominan di momen krusial, hingga kegagalan penalti Brahim Diaz yang menjadi titik balik dan menutup harapan Maroko untuk menyamakan kedudukan.

