Dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung menjadi tanda peringatan keras atas krisis ekologis yang tengah melanda sungai utama Jakarta. Fenomena ini kerap disalahartikan sebagai bukti membaiknya kondisi lingkungan, padahal justru sebaliknya.
Ikan sapu-sapu yang banyak ditemukan di sungai-sungai Indonesia umumnya berasal dari genus Pterygoplichthys (keluarga Loricariidae). Spesies ini merupakan ikan introduksi dari Amerika Selatan, terutama Lembah Sungai Amazon, yang masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sebelum dilepas atau lolos ke perairan umum.
Berdasarkan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ledakan populasi ikan sapu-sapu mencerminkan rusaknya keseimbangan ekosistem sungai. Sungai kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dan mengurai beban limbah, sehingga hanya organisme yang toleran terhadap kondisi ekstrem yang mampu bertahan.
Kualitas air Ciliwung terus menurun
Sungai Ciliwung menjadi salah satu contoh nyata masifnya populasi ikan sapu-sapu. Peneliti senior BRIN dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM), Dyah Marganingrum, menegaskan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
“Kualitas air Sungai Ciliwung semakin menurun disebabkan oleh banyak sumber dan faktor,” ujar Dyah saat dihubungi, Kamis (15/1), sebagaimana dikutip dari Kompas.
Menurut Dyah, pencemaran Ciliwung tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai sumber pencemar yang saling berkelindan dan berlangsung dalam jangka panjang.
Limbah domestik jadi penyumbang terbesar
Dyah menjelaskan, terdapat tiga sumber utama pencemar Sungai Ciliwung, yaitu limbah domestik atau rumah tangga, limbah industri, dan limbah pertanian. Dari ketiganya, limbah domestik menjadi penyumbang terbesar.
Sekitar 80 persen air bersih yang digunakan rumah tangga akan berubah menjadi limbah cair. Namun, hingga kini sistem pengolahan air limbah domestik belum tersedia secara menyeluruh. Akibatnya, limbah rumah tangga masuk langsung ke badan sungai, baik secara langsung maupun melalui saluran drainase.
Kondisi tersebut diperparah oleh persoalan sampah. Laju timbulan sampah melampaui kapasitas pengelolaan yang tersedia, sementara kesadaran masyarakat masih rendah.
“Keterbatasan sarana dan prasarana persampahan diperburuk dengan kurangnya kesadaran masyarakat, yang masih membuang sampah langsung ke sungai atau menaruhnya di bantaran,” kata Dyah.
Perubahan iklim dan alih fungsi lahan
Selain pencemaran, tekanan terhadap Sungai Ciliwung juga dipicu oleh perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Dampak ini semakin terasa ketika perubahan iklim memicu fluktuasi debit sungai yang kian ekstrem.
Pada saat debit air berada pada kondisi minimum, sementara beban limbah domestik tetap tinggi, akumulasi limbah di badan Sungai Ciliwung pun meningkat. Kondisi tersebut melemahkan fungsi alami sungai sebagai pengencer dan pemurni limbah (self-purification), sehingga mengancam keberlangsungan ekosistem dan biota air di dalamnya.
Ikan sapu-sapu sebagai bioindikator
Dalam kondisi ekosistem yang tertekan, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat. Secara ekologis, fenomena ini menjadi sinyal penting penurunan kualitas lingkungan.
“Keberadaan ikan sapu-sapu bisa digunakan sebagai bioindikator pencemaran. Dominasi ikan ini menandakan gangguan keseimbangan ekosistem dan penurunan keanekaragaman ikan lokal,” jelas Dyah.
Menurutnya, Sungai Ciliwung sebenarnya memiliki kemampuan pemurnian diri. Namun, beban limbah yang masuk telah melampaui kapasitas tersebut sehingga menyebabkan degradasi berat.
Ancaman polutan baru dan logam berat
BRIN mencatat, sungai perkotaan seperti Ciliwung terpapar polutan yang semakin kompleks. Selain limbah organik dan nutrien berlebih, muncul pula kontaminan baru seperti mikroplastik serta residu farmasi dan kosmetik.
Riset BRIN pada 2023 di DAS Ciliwung menunjukkan konsentrasi timbal (Pb) di seluruh segmen sungai melampaui baku mutu 0,03 mg/L. Di kolom air, kadar Pb berkisar antara 0,045 hingga 0,11 mg/L, sementara di sedimen mencapai 0,66 mg/L.
“Ikan sapu-sapu suka mengeruk sedimen. Aktivitas ini meningkatkan kekeruhan dan melepaskan logam berat kembali ke kolom air,” ujar Dyah.
Kondisi tersebut berisiko memicu biomagnifikasi, yaitu penumpukan zat berbahaya dalam rantai makanan yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia.
Bukan solusi pencemaran
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu tidak dapat diposisikan sebagai solusi pencemaran sungai.
“DKPKP menilai ikan sapu-sapu bukan bio-remediator yang efektif, melainkan indikator perairan tercemar,” ujarnya.
Sebagai spesies invasif, ikan sapu-sapu bereproduksi cepat dan sangat toleran terhadap lingkungan ekstrem. Dominasi spesies ini justru menciptakan ekosistem dengan keanekaragaman rendah dan sulit dikendalikan.
Pemerintah daerah saat ini memprioritaskan edukasi publik agar masyarakat tidak melepas ikan invasif ke perairan umum. Pemanfaatan ikan sapu-sapu hanya dimungkinkan secara terbatas sebagai pakan ternak atau pupuk, dengan syarat melalui uji logam berat dan patogen.
Bagi para peneliti, dominasi ikan sapu-sapu merupakan alarm keras bahwa Sungai Ciliwung berada di ambang krisis ekologis.

