Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Perlukah Tes Kesehatan Mental pada Anak

Perlukah Tes Kesehatan Mental pada Anak?

Oleh:

Orang tua tidak cukup hanya memantau tumbuh kembang fisik dan pencapaian akademik anak, tetapi juga perlu memberi perhatian serius pada kesehatan mental mereka. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, dapat mengalami stres, kecemasan, dan tekanan emosional. Namun, anak sering belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan secara jelas karena keterbatasan bahasa dan kematangan emosi. Akibatnya, orang dewasa kerap melewatkan persoalan kesehatan mental anak dan baru menyadarinya ketika dampaknya sudah meluas ke berbagai aspek kehidupan.

Kesehatan Mental Anak Tak Bisa Diabaikan

Gangguan kesehatan mental pada anak bukan persoalan sepele. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari penurunan prestasi akademik, kesulitan bersosialisasi, munculnya keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas, hingga menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan. Anak yang mengalami tekanan emosional berkepanjangan juga berisiko tumbuh dengan rasa percaya diri yang rapuh dan kesulitan mengelola emosi di kemudian hari.

Data menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat sistemik dan meluas. Hasil penelitian Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat bahwa satu dari tiga anak berusia 10–17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Temuan ini, sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia, menjadi sinyal kuat bahwa banyak anak Indonesia sedang menghadapi tekanan psikologis yang tidak selalu tampak di permukaan. Angka tersebut menggambarkan kondisi kesehatan mental anak dan remaja secara nasional, sekaligus menegaskan bahwa isu ini bukan kasus-kasus terisolasi.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara lain. Korea Selatan, Inggris, hingga Amerika Serikat menghadapi tantangan yang sama dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja. Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh anak dan remaja usia 10–19 tahun hidup dengan gangguan kesehatan mental. Data ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak merupakan persoalan yang kompleks.

Mengapa Tes Kesehatan Mental Anak Penting Dilakukan?

Kesehatan mental anak berpengaruh langsung terhadap kemampuan belajar, relasi sosial, dan pembentukan karakter. Anak yang mengalami tekanan emosional berkepanjangan sering kali menunjukkan dampak di berbagai aspek kehidupan, meskipun tidak selalu disadari oleh orang dewasa di sekitarnya.

Tes kesehatan mental membantu mendeteksi masalah sejak dini, sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius. Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat dan lebih ringan. Dalam banyak kasus, dukungan sederhana seperti konseling, penguatan relasi keluarga, atau penyesuaian lingkungan dapat membantu anak kembali merasa aman dan stabil secara emosional.

Selain itu, tes kesehatan mental juga berperan dalam pencegahan. Anak yang dipahami kondisi emosionalnya sejak awal cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik di masa depan. Ini menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi tekanan akademik, sosial, maupun perubahan fase kehidupan.

Kapan Tes Kesehatan Mental Anak Perlu Dilakukan?

Tidak ada usia tertentu yang menjadi patokan pasti untuk melakukan tes kesehatan mental pada anak. Pada dasarnya, asesmen dapat dilakukan kapan saja, terutama ketika orang tua atau lingkungan sekitar mulai merasa ada sesuatu yang berubah pada kondisi emosional maupun perilaku anak. Tes kesehatan mental tidak harus menunggu masalah besar muncul. Justru, pemeriksaan sejak tanda-tanda awal terlihat dapat membantu mencegah persoalan berkembang menjadi lebih kompleks.

Kebutuhan tes kesehatan mental sering kali muncul ketika anak menunjukkan perubahan perilaku yang cukup mencolok dan berlangsung dalam waktu yang tidak singkat. Anak yang sebelumnya ceria bisa menjadi lebih menarik diri, mudah meledak secara emosional, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan penurunan prestasi belajar. Pada beberapa anak, tekanan emosional juga muncul dalam bentuk keluhan fisik.

Selain sebagai respons terhadap perubahan perilaku, tes kesehatan mental juga dapat dilakukan sebagai bagian dari pemantauan perkembangan rutin, terutama pada anak usia dini. Pendekatan ini bersifat preventif, bukan reaktif. Dengan memahami kondisi psikologis anak sejak awal, orang tua dapat menyesuaikan pola pengasuhan dan cara berkomunikasi yang lebih aman dan mendukung kebutuhan emosional anak.

Berikut beberapa tanda yang patut mendapat perhatian lebih. Tanda-tanda ini tidak selalu berarti anak mengalami gangguan kesehatan mental, tetapi dapat menjadi alasan kuat untuk melakukan asesmen lebih lanjut:

1. Merasa Sedih, Takut, atau Cemas Secara Berkepanjangan

Perasaan sedih, takut, atau cemas merupakan emosi yang wajar pada anak. Namun, ketika perasaan tersebut muncul terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua perlu lebih waspada. Anak sebaiknya diajak berbicara dalam suasana yang aman dan nyaman agar ia merasa didengar dan berani menceritakan apa yang sedang ia alami.

2. Menghindari Interaksi Sosial

Anak umumnya senang bermain dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Jika anak tiba-tiba menjadi lebih pendiam, menarik diri, dan enggan berinteraksi, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya tekanan emosional. Gangguan kesehatan mental sering membuat anak kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya ia sukai.

3. Lebih Mudah Marah dan Emosional

Perubahan suasana hati yang drastis, seperti menjadi lebih mudah marah, rewel, atau sering terlibat konflik, dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan mental. Anak mungkin kesulitan mengelola emosinya dan meluapkannya melalui perilaku agresif atau ledakan emosi.

4. Menyakiti Diri Sendiri

Pada kondisi tertentu, seperti depresi kronis, gangguan cemas, atau trauma, anak berisiko melakukan perilaku menyakiti diri sendiri. Perilaku ini sering menjadi cara anak meluapkan emosi yang sulit ia ungkapkan, seperti marah, takut, kecewa, atau putus asa. Situasi ini memerlukan perhatian dan pendampingan profesional segera.

5. Membicarakan Kematian atau Bunuh Diri

Ucapan yang berkaitan dengan kematian atau keinginan menghilang tidak boleh dianggap sebagai candaan atau dramatisasi. Pada anak, ungkapan tersebut sering mencerminkan keputusasaan dan ketidakmampuan mengelola beban emosional. Pendampingan orang tua dan konsultasi dengan psikolog anak sangat penting untuk mencegah risiko yang lebih serius.

6. Perubahan Nafsu Makan

Gangguan kesehatan mental juga dapat memengaruhi pola makan anak. Anak bisa makan jauh lebih sedikit atau justru berlebihan. Jika perubahan ini terjadi bersamaan dengan perubahan emosi dan perilaku, orang tua perlu memberi perhatian ekstra dan membantu anak merasa aman dengan perasaannya.

Mendiagnosis gangguan kesehatan mental pada anak memang bukan hal yang mudah. Anak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga belum selalu mampu memahami dan menggambarkan perasaannya secara jelas. Oleh karena itu, tes kesehatan mental berperan penting sebagai alat bantu untuk membaca kondisi psikologis anak secara lebih utuh, sekaligus menjadi langkah awal dalam memberikan dukungan yang tepat.