Board of Peace (Dewan Perdamaian) memberi kesan Gaza segera berhenti berdarah. Dikendalikan Donald Trump, penyokong utama genosida dan penculik Maduro Presiden Venezuela, dewan ini menerbitkan kesan supremasi moral polisi dunia sekaligus kehebatan teknokrasi real estate rancangan Kushner-Witkoff.
Bahwasanya keadilan kapan saja bisa ditunda asalkan perang dapat dihentikan untuk menata Gaza sebagai ruang kosong bagi modal dan teknologi. Seakan-akan krisis kemanusiaan di Gaza adalah pertikaian yang setara dan bukan pembantaian sistematis dan terencana.
Prabowo ada di dalamnya bersama para pendukung garis keras Rezim Zionis Netanyahu di PBB seperti Javier Milei dari Argentina dan Victor Orban dari Hungaria. Tentu di sana ada negara-negara Arab yang pragmatis, yang sebelumnya sudah terkunci dalam Abraham Accords-nya Trump dan Netanyahu seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania dan Mesir.
Sesat pikir genosida
Mengapa Prabowo bergabung dalam dewan yang problematis ini? Argumen Prabowo tidak meyakinkan. Yaitu kondisi Gaza sudah lebih baik sekarang ini mengacu pada masuknya bantuan kemanusiaan. Dia tak menyebut itu tetap diatur Netanyahu, Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich. Alhasil, setelah terbentuk, tentara Israel makin brutal memborbardir Gaza, membunuh anak-anak dan perempuan.
Aksi Prabowo tidak lebih dari blunder seorang kepala negara dengan avonturismenya sendiri. Tanpa konsultasi publik, dia tergelincir dalam permainan geopolitik Trump yang sepenuhnya didikte Netanyahu, Miriam Adelson, AIPAC dan tentakel lobi zionis di Gedung Putih dan Capitol Hill.
Prabowo tak paham sepenuhnya. Dia tak menghitung peran strategis Iran dan axis of Palestine Struggle, khususnya Houti di Yemen dan Hezbollah di Libanon. Iran adalah pendukung terpenting dan terdepan dari kemerdekaan Palestina dan musuh terbesar rezim zionis yang bersikeras dengan solusi satu negara Israel raya, Make Israel Greater Again.
Hubungan dua peristiwa penting dalam satu momentum, usulan Board of Peace dan infiltrasi regime changeserta ancaman agresi militer di Iran oleh Trump dan Netanyahu hilang dari radar polugrinya. Diplomasinya telah keluar dari amanat konstitusi. Dengan cara yang sama dia mengeluarkan akar masalah genosida sejalan dengan perdamaian tanpa keadilan (peace without justice) yang ditularkan Donald Trump di Davos.
Tak jauh beda dari pernyataannya di Sidang Umum PBB tentang jaminan keamanan bagi Israel. Presiden kedelapan ini memandang genosida di Gaza sebagai isu konflik internasional antar-bangsa dan bukannya sebagai isu global settler colonialism dari rezim apartheid warisan antisemitisme di Eropa dalam dua perang dunia yang belum tuntas teratasi.
Prabowo lupa bahwa deskalasi genosida bukan karena aksinya gebrak podium SU PBB 23 September 2025, yang disanjung Trump dan Netanyahu. Namun, disebabkan dua hal. Pertama, solidaritas global lintas benua mengutuk rezim genosida, Zionisme Israel. Kedua, diredakan oleh perang misil antara Teheran dan Tel-Aviv selama 12 hari, 13-24 Juni 2025. Khamenei merelakan 680 warganya termasuk perempuan dan anak-anak terbunuh rudal Israel untuk menghentikan puncak kebiadaban IDF dan teknologi kematian Palantir Microsoft, Amazon dan Google di Gaza.
Dewan homo sacer
Prabowo terjebak manipulasi berlapis dari Donald Trump dan pragmatisme negara-negara Arab. Tujuan geopolitik Rezim MAGA Neokon atau Israel Firsters memulihkan reputasi Israel sebagai ‘korban’ aksi Hamas 7 Oktober 2023. Sementara tujuan terpenting negara-negara Arab adalah isu Palestina tidak boleh memperluas pengaruh dan kapasitas militer Iran sebagai kekuatan tanpa tandingan (Amerika-Israel-Turki) di Timur-Tengah.
Dari segi itu, Prabowo secara akrobatik mengubah posisi Indonesia dari Non-Block menjadi Go-Block. Yang terakhir ini satir, dari tragedi jadi komedi, atau sebaliknya. Karena dipastikan tujuan tersurat dari dewan ini muskil terwujud di tengah bekerjanya tujuan terselubung dari Amerika Serikat dan negara-negara Arab.
Presiden tidak membaca rekayasa kebuntuan yang niscaya berulang. Bahwa Netanyahu sedang mempercepat rencana MIGA yang makin didukung faksi-faksi politik Israel. Bagi Netanyahu, BoP adalah kemustahilan yang diperlukan untuk meneruskan teror dan kekerasan sampai Hamas bubar dan warga Palestina pasrah pada tata kelola Gaza ala Trump, Marco Rubio, Tony Blair, Kushner dan Witkoff.
Presiden Trump tidak lagi memiliki legitimasi etis-moral bagi masyarakat internasional. Bahkan bagi masyarakat Amerika Serikat sendiri Board of Peace adalah manifestasi terjauh dari rekolonisasi Gaza oleh rezim Israel Firster di Washington. Sebagaimana aksi-aksi brutal ICE sebagai wujud terdekat dari rekolonisasi Amerika oleh rezim otoritarian America Firsters versi militerisme Neokon dan tentakel bilioner teknologi perang. Gaza dan Amerika sedang ditata kembali oleh kekuatan yang sama.
Di ujung dari blunder Prabowo ini adalah warga Gaza dipreteli kapasitas politiknya sebagai pejuang kemerdekaan. Kematian dan kedukaan mereka dinetralisir sebagai kesalahan Hamas dan kegagalan Free Palestine. Sekaligus ketidakberdayaan masyarakat terjajah atas tubuh dan tanah air.
Alih-alih menyatukan negara-negara Arab dan Iran, Prabowo ikut mengubah martabat manusia Palestina menjadi makhluk hidup paling tragis, homo sacer. Empatinya dibajak Trump untuk memilih model dehumanisasi total. Menjadikan warga Gaza sepenuhnya obyek intervensi militer dan teknologi bilioner zionis dan raja-emir migas Arabia untuk pada akhirnya terkelola dalam Israel Raya atau ditiadakan sama sekali.
Tak terbayangkan oleh Presiden dirinya sedang menggiring warga Gaza sebagai homo sacer ke altar pengorbanan geopolitik abad ini. Tentu ini tidak mencerminkan amanat kemerdekaan rakyat Indonesia sebagai panggilan internasionalisme ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Gaza sebatas dipandang sebagai koloni tanpa sandang, pangan dan papan. Dalam Board of Peace, Prabowo dibutakan hati dan pikirannya untuk melihat siapa yang merampas tanah dan air mereka. Tak jernih lagi membaca sejarah, permainan dan kepentingan di balik tragedi ini. Sekaligus cermin diri sendiri, yang kabur membaca konstitusi dan sejarah bangsa sendiri yang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

