Imlek merupakan perayaan tahun baru dalam penanggalan Tionghoa yang didasarkan pada peredaran bulan. Bukan sekadar pergantian tahun, Imlek juga menjadi momen penting yang sarat makna budaya dan keagamaan. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, khususnya bagi umat Konghucu, perayaan ini menjadi bagian dari ritual peribadatan yang mengandung nilai refleksi diri, rasa syukur, dan harapan untuk memulai hidup yang lebih baik di tahun yang baru.
Perayaan Imlek identik dengan momen berkumpul bersama keluarga besar, berbagi angpao sebagai simbol doa dan harapan, mengenakan baju baru sebagai tanda lembaran hidup yang baru, hingga dominasi warna merah yang melambangkan kegembiraan dan keberuntungan. Di balik seluruh makna tersebut, meja makan juga menjadi pusat kebersamaan, dipenuhi hidangan khas yang tak hanya lezat tetapi juga penuh simbol. Lalu, apa saja makanan Imlek yang wajib hadir saat perayaan?
1. Kue Keranjang
Kue keranjang menjadi salah satu simbol paling kuat dalam perayaan Imlek. Rasanya manis dengan tekstur kenyal yang khas, membuatnya mudah dikenali dan selalu dinantikan. Namun, daya tarik kue keranjang tidak hanya terletak pada cita rasanya, melainkan juga pada filosofi yang dikandungnya. Kue ini dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, kekayaan, dan kebahagiaan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Penataannya yang biasanya disusun bertumpuk memiliki makna tersendiri. Tumpukan tersebut melambangkan peningkatan rezeki dan posisi yang lebih tinggi dalam kehidupan. Harapannya, kehidupan di tahun yang baru akan mengalami kemajuan dalam kehidupan. Semakin tinggi susunannya, semakin tinggi pula doa yang dipanjatkan. Kue keranjang bukan sekadar hidangan penutup, melainkan simbol optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
2. Kue Mangkok
Kue mangkok atau fa gao hadir dengan bentuk yang menyerupai bunga yang sedang mekar. Terbuat dari tepung beras, kue ini mengembang di bagian atas sehingga membentuk kelopak-kelopak yang indah. Warna-warninya pun sering kali cerah dan menarik, yang mencerminkan semangat baru yang ingin disambut dalam perayaan Imlek.
Bentuk bunga yang mekar dipercaya melambangkan rezeki yang sedang berkembang. Dalam tradisi Tionghoa, perkembangan dan pertumbuhan adalah simbol keberhasilan dan kemakmuran. Oleh karena itu, kue mangkok sering disebut sebagai kue kemakmuran. Ada keyakinan bahwa semakin banyak kelopak yang terbentuk saat dikukus, semakin besar pula keberuntungan yang akan datang. Kehadirannya di meja makan bukan hanya sebagai camilan manis, tetapi juga sebagai representasi doa agar kehidupan terus bertumbuh dan membaik.
3. Kue Ku
Kue ku memiliki ciri khas yang mudah dikenali, yaitu bentuknya yang menyerupai tempurung kura-kura dan warnanya yang merah cerah. Terbuat dari tepung ketan dengan isian kacang hijau yang lembut dan manis, kue ini menghadirkan perpaduan tekstur yang kenyal di luar dan lembut di dalam. Warna merah yang dominan menjadi simbol keberuntungan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.
Bentuk kura-kura sendiri melambangkan umur panjang dan ketahanan. Sementara isian kacang hijau yang manis mencerminkan harapan akan kehidupan yang makmur. Tak jarang, bagian atas kue ku dicetak dengan huruf atau simbol keberuntungan yang semakin mempertegas makna baik di dalamnya. Kue ku menjadi representasi doa akan kemakmuran yang stabil dan kehidupan yang panjang serta penuh berkah.
4. Kue Bulan
Kue bulan atau moon cake identik dengan bentuknya yang bulat sempurna. Biasanya berisi pasta kacang merah yang lembut dengan rasa manis yang khas, kue ini memiliki tekstur yang padat dan tampilan yang elegan. Meski sering dikaitkan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur, kue bulan juga kerap hadir dalam perayaan Imlek sebagai simbol keutuhan.
Bentuknya yang bulat melambangkan kesempurnaan dan kebersamaan keluarga. Dalam momen pergantian tahun, keutuhan keluarga menjadi nilai yang sangat dijunjung tinggi. Mengonsumsi kue bulan dipercaya dapat mendatangkan rezeki, kemakmuran, dan kesehatan yang utuh selama setahun ke depan. Setiap potongannya seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan terbesar sering kali terletak pada kebersamaan yang sederhana.
5. Manisan Segi Delapan
Manisan segi delapan atau yang dikenal sebagai tray of togetherness merupakan sajian manisan yang dikemas dalam wadah berbentuk segi delapan. Angka delapan dalam budaya Tionghoa sering diasosiasikan dengan keberuntungan dan kelimpahan. Karena itu, wadah segi delapan menjadi simbol doa yang menyeluruh untuk berbagai aspek kehidupan.
Di dalamnya terdapat beragam manisan dengan makna masing-masing. Manisan melon melambangkan kesehatan, semangka merah melambangkan kebahagiaan, dan jeruk kumquat melambangkan keberuntungan serta kemakmuran. Manisan kelapa kering mencerminkan kebersamaan keluarga, biji teratai melambangkan kesuburan, kelengkeng melambangkan harapan memiliki banyak keturunan, sementara kacang tanah menjadi simbol doa agar panjang umur. Kehadiran manisan ini seakan merangkum seluruh harapan yang ingin dicapai dalam satu tahun ke depan.
6. Dumpling
Dumpling atau jiaozi memiliki bentuk yang menyerupai uang Tiongkok kuno. Bentuk inilah yang menjadikannya simbol kemakmuran dan kekayaan. Biasanya berisi daging sapi dan sayuran segar, dumpling memiliki rasa gurih yang hangat dan mengenyangkan. Hidangan ini sering disantap bersama keluarga pada malam pergantian tahun.
Ada kepercayaan bahwa semakin banyak dumpling yang dikonsumsi saat malam Imlek, semakin besar pula rezeki yang akan diperoleh di tahun baru. Proses membuat dumpling bersama keluarga juga menjadi momen kebersamaan yang bermakna. Dari menggulung adonan hingga melipat kulit pangsit, setiap tahapnya menghadirkan suasana hangat yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
7. Lumpia
Lumpia khas Imlek memiliki warna cokelat keemasan yang menyerupai emas batangan. Bentuknya yang panjang dan padat menjadikannya simbol kekayaan dan keberuntungan. Isian daging dan sayuran di dalamnya memberikan rasa gurih yang kaya, terlebih saat disantap hangat.
Dalam perayaan Imlek, lumpia tidak hanya menjadi camilan lezat, tetapi juga simbol harapan akan kelimpahan rezeki. Setiap gigitan menghadirkan rasa renyah di luar dan lembut di dalam, seakan menggambarkan perjalanan hidup yang penuh dinamika namun tetap menyimpan kebaikan di dalamnya.
8. Mi Panjang Umur
Mi panjang umur menjadi hidangan yang sarat makna. Sesuai dengan namanya, mi ini melambangkan harapan akan umur panjang dan kehidupan yang penuh keberuntungan. Biasanya disajikan dalam bentuk mi goreng dengan helaian yang panjang dan utuh.
Ada satu hal yang sangat diperhatikan dalam penyajiannya, yakni mi tidak boleh terputus. Mi yang terpotong dianggap melambangkan nasib kurang baik atau umur yang terpendekkan. Karena itu, proses memasak dan menyantapnya dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Hidangan ini mengingatkan bahwa setiap tahun baru bukan hanya tentang rezeki, tetapi juga tentang kesehatan dan umur panjang yang patut disyukuri.

