Forum 2045 menghasrati kembalinya marwah kampus sebagai gerakan epistemik organik melalui diskusi ilmiah bertema, Orasi Epistemologi: Kebebasan Epistemik sebagai Pilar Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Orasi ini disampaikan oleh Dr. Arie Sujito, dan mendapat tanggapan dari sejumlah akademisi kampus dan perwakilan lembaga epistemik.
Turut hadir sebagai penanggap Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes; Yanuar Nugroho; Romo Charles Beraf SVD; Sudirman Said; Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo; dan Panji Dafa. Orasi Epistemologi berlangsung di University Club, Universitas Gadjah Mada, Kamis (26/02/2026), dan disiarkan secara online. Agenda berlangsung dua setengah jam melibatkan ratusan peserta.
Arie Sujito membawakan orasi bertajuk Kebebasan Epistemik dalam Demokrasi. Arie menyinggung arogansi kekuasaan yang tersublimasi secara organik melalui produksi pengetahuan. Negara berhasil melanggengkan hegemoni kekuasaannya melalui imperialisme pengetahuan; seolah-olah masa depan Indonesia cerah, padahal sesungguhnya yang terjadi adalah krisis eksistensi kedaulatan.
Wakil Rektor UGM itu juga menyuarakan soal kritik-kritik di ruang publik yang justru dinarasikan oleh kekuasaan sebagai ekspresi antek-antek asing, inkonstitusional, dan perlawanan terhadap legitimasi kekuasaan yang demokratis, sehingga upaya represif dianggap lumrah untuk menertibkan kritik publik.
Arie menyoroti ketiadaan oposisi di dalam parlemen sehingga publik berupaya mengisinya sebagai suatu tanggung jawab etis warga negara. Ini pun dilihat oleh kekuasaan bukan sebagai ekspresi kebebasan demokrasi, melainkan bentuk perlawanan terhadap legitimasi rezim. Pembungkaman terhadap kritik diproduksi melalui teror, dengan maksud menakut-nakuti. Ancamannya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyerang psikologis. Publik tidak boleh melihat kritik sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi harus dilihat sebagai gerakan emansipasi dan counter hegemoni terhadap arogansi kekuasaan rezim.
Lebih lanjut, Arie mengarisbawahi imperialisme pengetahuan oleh dominasi pengetahuan Barat telah mengubah gerak peradaban untuk bertumbuh sesuai arus kemajuan Barat. Bangsa ini tenggelam dalam gerak arus demikian sehingga kita tidak melihat peradaban pengetahuan yang telah mengakar jauh sebelumnya di bumi Nusantara. Karena itu, bangsa ini perlu melakukan dekolonisasi pengetahuan untuk mengembalikan keberagaman pengetahuan lokal demi menyelamatkan peradaban. Pluralitas harus dijaga, dan lokalitas pengetahuan diangkat kembali.
Menanggapi orasi ilmiah Arie, Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes menegaskan pada ide-ide dekolonisasi. Winda juga menyoroti aspek representasi warga yang kini telah berubah menjadi representasi elit. Terjadi pergeseran fokus untuk melayani kepentingan kelompok kecil elit oligarki. Tanggapan lain disampaikan oleh Yanuar Nugroho dengan tesis menariknya, yakni pengetahuan itu tidak pernah netral; pengetahuan dan kekuasaan saling memproduksi kebenaran, dan itu sangat nyata. Orasi epistemologi ini memperluas gerak emansipasi yang tidak hanya berlangsung di kampus, tetapi di dalam ruang-ruang masyarakat sipil.
Sudirman Said menyoroti kemerosotan ekonomi, politik, dan demokrasi yang sedang terjadi. Pemimpin baru yang diharapkan membawa perubahan karena transisi kekuasaan memungkinkan arah baru, ternyata gagal. Pemilu 2024 hanya menghasilkan rezim yang memanfaatkan kerusakan yang diciptakan sepanjang satu dekade sebelumnya. Seolah-olah menang dan kuat sudah cukup, dan tidak lagi berbicara apa itu ‘benar’. Pengurus negara ini lupa fungsi negara dan lupa makna dari kemerdekaan. Pada penghujung forum ilmiah ini, Arie Sujito menyatakan bahwa kontestasi itu adalah kepentingan elit, dan bukan kepentingan masyarakat sipil.

