Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Rayakan International Women’s Day dengan 7 Buku Karya Penulis Perempuan Ini

Rayakan International Women’s Day dengan 7 Buku Karya Penulis Perempuan Ini

Oleh:

Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat akan besarnya kontribusi perempuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam dunia sastra. Banyak penulis perempuan menghadirkan kisah-kisah yang menggambarkan kehidupan, ketidakadilan sosial, pencarian identitas, hingga pengalaman perempuan yang kerap luput dari ruang percakapan publik. Melalui karya-karya tersebut, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang yang lebih beragam, reflektif, dan mendalam.

Membaca karya penulis perempuan pun bisa menjadi cara sederhana namun bermakna untuk merayakan Hari Perempuan Sedunia. Jika kamu sedang mencari bacaan yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu membuka perspektif baru, berikut beberapa buku karya penulis perempuan yang layak masuk ke dalam daftar bacaanmu.

1. Lebih Senyap dari Bisikan

Penulis: Andina Dwifatma
Jumlah halaman: 164 halaman

Lebih Senyap dari Bisikan mengisahkan kehidupan Amara dan suaminya, Baron, yang telah delapan tahun menikah tanpa anak. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan sederhana seperti “sudah isi belum?” terus menghampiri Amara setiap kali bertemu keluarga atau teman. Pertanyaan yang sering dianggap basa-basi itu ternyata menyimpan tekanan sosial yang besar bagi perempuan. Amara merasa hidupnya seperti berada di tengah arena pertarungan antara keinginannya sendiri dan harapan masyarakat. Berbagai usaha untuk memiliki anak telah mereka lakukan, mulai dari cara yang umum hingga metode yang ekstrem.

Namun, cerita dalam buku ini tidak berhenti ketika Amara akhirnya hamil. Justru di situlah pergulatan baru dimulai. Pengalaman menjadi ibu ternyata tidak selalu seindah yang sering digambarkan. Ada banyak hal yang tidak pernah dijelaskan dalam “panduan menjadi orang tua”. Buku ini memperlihatkan perjalanan emosional seorang perempuan dari masa lajang, menjadi istri, hingga menjadi ibu. Kisah Amara menggambarkan bagaimana perempuan sering kali harus menghadapi ekspektasi sosial yang tidak selalu adil.

2. Perempuan di Titik Nol

Penulis: Nawal El Saadawi. DiterjemahkanMoh Amir Sutaarga
Jumlah halaman: 176 halaman

Perempuan di Titik Nol merupakan buku yang terinspirasi dari kisah nyata yang ditemui penulis ketika bekerja sebagai psikiater di penjara perempuan Mesir. Cerita ini berpusat pada tokoh Firdaus, seorang perempuan yang menunggu hukuman mati karena membunuh seorang pria yang selama ini mengeksploitasinya. Dari balik sel penjara, Firdaus menceritakan perjalanan hidupnya sejak masa kecil di desa hingga akhirnya menjadi pekerja seks di Kota Kairo. Sepanjang hidupnya, ia mengalami berbagai bentuk kekerasan, pengkhianatan, dan ketidakadilan dari orang-orang terdekat, mulai dari keluarga, suami, hingga majikan.

Yang membuat kisah ini begitu kuat adalah cara Firdaus memandang hidupnya sendiri. Ia tidak selalu menempatkan dirinya sebagai korban. Dalam beberapa momen, ia justru mencoba mengambil kendali atas hidupnya, bahkan melalui pilihan-pilihan yang dianggap kontroversial oleh masyarakat. Buku ini menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap struktur masyarakat patriarkal. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menggugah, buku ini sering disebut sebagai salah satu karya feminis paling berpengaruh dari dunia Arab.

3. Entrok

Penulis: Okky Madasari
Jumlah halaman: 288 halaman

Entrok membawa pembaca ke kehidupan Marni, seorang perempuan Jawa dari keluarga miskin yang tidak bisa membaca maupun menulis. Ia hidup dengan keyakinan pada tradisi leluhur dan berusaha bertahan hidup dengan bekerja keras demi mengumpulkan uang. Ambisi sederhana Marni pada awalnya hanya satu, yaitu memiliki entrok atau kutang, barang yang pada masa itu dianggap mewah bagi perempuan desa. Namun keinginan kecil itu justru menjadi titik awal perjalanan panjangnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Cerita juga menyoroti hubungan Marni dengan anaknya, Rahayu. Berbeda dengan ibunya, Rahayu tumbuh dengan pendidikan modern dan keyakinan agama yang kuat. Perbedaan cara pandang membuat keduanya sering berseberangan, bahkan terasa seperti orang asing satu sama lain. Di balik kisah keluarga tersebut, buku ini juga menggambarkan situasi sosial-politik pada masa pemerintahan militer di Indonesia. Kehadiran aparat bersenjata, tekanan kekuasaan, serta ketidakadilan terhadap masyarakat kecil menjadi latar yang memperkuat cerita.

4. Kitab Kawin

Penulis: Laksmi Pamuntjak
Jumlah halaman: 312 halaman

Kitab Kawin merupakan kumpulan cerita pendek yang menyoroti berbagai sisi kehidupan perempuan dalam relasi pernikahan. Dalam buku ini, pembaca akan bertemu dengan beragam tokoh perempuan, mulai dari pekerja toko, karyawan kantor, seniman, hingga ibu rumah tangga dari kalangan menengah atas. Setiap cerita menghadirkan konflik yang berbeda. Ada perempuan yang berselingkuh karena merasa hubungannya sudah dingin, ada yang terjebak dalam pernikahan poligami, hingga ada yang mengalami kekerasan dari pasangannya.

Melalui kisah-kisah tersebut, buku ini memperlihatkan bahwa pernikahan tidak selalu seindah yang sering digambarkan dalam cerita romantis. Ada banyak dinamika emosional, kesepian, bahkan luka yang dialami perempuan di balik institusi yang dianggap sakral itu. Namun di sisi lain, beberapa tokohnya juga menunjukkan keberanian untuk melawan atau merumuskan kembali makna pernikahan bagi diri mereka sendiri. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat hubungan manusia dengan cara yang lebih jujur dan realistis.

5. Paya Nie

Penulis: Ida Fitri
Jumlah halaman: 196 halaman

Paya Nie berlatar konflik bersenjata di Aceh pada awal tahun 2000-an, ketika perang antara Tentara Nasional Indonesia dan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka masih berlangsung. Cerita berfokus pada empat perempuan, yaitu Mawa Aisyah, Cuda Aminah, Kak Limah, dan Ubiet, yang sedang mencari purun danau di sebuah rawa bernama Paya Nie. Dalam perjalanan mereka, percakapan santai tentang kehidupan sehari-hari perlahan membuka berbagai kisah masa lalu kampung mereka.

Melalui obrolan-obrolan tersebut, pembaca diajak melihat bagaimana masyarakat sipil hidup di tengah konflik militer. Desas-desus, legenda lokal, dan pengalaman pribadi bercampur menjadi gambaran tentang ketakutan, harapan, serta ketidakpastian yang mereka alami. Buku ini menarik karena menghadirkan perspektif perempuan dalam konflik bersenjata.

6. Sihir Perempuan

Penulis: Intan Paramaditha
Jumlah halaman: 168 halaman

Dalam Sihir Perempuan, penulis menggabungkan unsur horor, mitologi, dan cerita rakyat dengan perspektif feminis. Buku ini berisi sebelas cerita pendek yang menampilkan perempuan dalam berbagai peran, sebagai ibu, anak, pekerja, hingga sosok misterius yang sulit ditebak. Alih-alih menghadirkan kisah horor biasa, cerita-cerita dalam buku ini menggunakan elemen supranatural untuk menggambarkan pengalaman perempuan yang sering kali dipenuhi tekanan sosial dan kekerasan.

Tokoh-tokohnya menghadapi dunia yang penuh bayangan gelap, seperti hantu, vampir, hingga pembunuh, yang sebenarnya menjadi metafora bagi ketakutan dan ketidakadilan yang mereka alami. Dengan gaya penceritaan yang puitis sekaligus menegangkan, buku ini menawarkan cara berbeda dalam melihat pengalaman perempuan melalui lensa sastra horor.

7. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

Penulis: Dian Purnomo
Jumlah halaman: 300 halaman

Buku ini mengangkat kisah Magi Diela, seorang perempuan dari Sumba yang menjadi korban praktik kawin tangkap. Tradisi tersebut memaksa perempuan menikah dengan laki-laki yang menculiknya, meskipun tanpa persetujuan. Magi, yang memiliki mimpi untuk membangun daerahnya, harus menghadapi kenyataan pahit ketika hidupnya dikendalikan oleh adat dan tekanan masyarakat. Ia dipaksa menikah dengan seorang pria yang tidak ia cintai, sementara suaranya sendiri nyaris tidak didengar.

Melalui perjalanan Magi, buku ini memperlihatkan pergulatan seorang perempuan yang berusaha mempertahankan kebebasan atas hidupnya. Ia harus memilih antara mengikuti tradisi, melawan keluarga, atau mencari jalan lain untuk menyelamatkan dirinya. Buku ini tidak hanya menghadirkan cerita emosional, tetapi juga membuka diskusi tentang bagaimana tradisi dan struktur sosial dapat memengaruhi kebebasan perempuan.