Pemerintah Bangladesh mengambil kebijakan darurat menutup aktivitas di universitas dan menetapkan libur lebaran lebih awal untuk menghemat listrik dan bahan bakar. Hal ini sebagai langkah untuk mengantisipasi adanya krisis energi akibat konflik di Timur Tengah yang kian memanas.
Aturan ini berlaku untuk seluruh universitas negeri dan swasta di Bangladesh. Pemerintah menilai penutupan kampus ini akan menurunkan penggunaan listrik dengan signifikan. Pemerintah menyoroti konsumsi listrik yang besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan pendingin ruangan.
“Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini,” Kementerian Pendidikan Bangladesh dalam arahannya.
Pemerintah juga mengeluarkan pedoman untuk mendorong institusi dan perkantoran agar mengunakan listrik dengan lebih efisien. Arahan menjelaskan agar memaksimalkan cahaya alami dan mengurangi konsumsi daya yang tidak perlu.
Sebagai informasi, Bangladesh dalam memenuhi kebutuhan energinya mengandalkan impor lebih dari 90 persen. Konflik di Timur Tengah menjadi ancaman adanya kenaikan biaya dan kelangkaan energi.

