Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Budidaya Itik
Suasana pemindahan itik di Lapas Mojokerto. Sumber: HumasLapasMoke.

Lapas Mojokerto Budidaya Itik, Bina Kemandirian, Dukung Ketahanan Pangan

Oleh:

Ardha Kesuma

Penulis yang aktif dalam gerakan literasi dan lingkungan hidup. Menaruh perhatian pada perkembangan isu publik.

Mojokerto – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto terus mengembangkan aktivitas pembinaan melalui budidaya itik. Setelah memindahkan 200 ekor itik ke kandang pembesaran, Lapas Mojokerto kembali menambah 400 bibit itik untuk memperluas kegiatan peternakan sekaligus meningkatkan keterampilan warga binaan. 

Sebanyak 200 ekor itik sebelumnya dipindahkan dari kandang pembibitan ke kandang pembesaran pada Jumat (28/8/2026). Pemindahan dilakukan setelah itik memasuki usia 18 hari dan dinilai siap untuk melanjutkan tahap pemeliharaan berikutnya. 

Petugas Kegiatan Kerja Lapas Mojokerto, Bayu R. mengatakan pemeliharaan selanjutnya untuk mengoptimalkan perkembangan itik. 

“Itik yang dipindahkan sebanyak 200 ekor dan saat ini sudah berusia 18 hari. Selanjutnya, pemeliharaan akan dilakukan secara rutin di kandang pembesaran untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangannya tetap optimal,” ujar Bayu. 

Setelah 200 ekor itik memasuki tahap pembesaran, Lapas Mojokerto kemudian melanjutkan pengembangan budidaya dengan menambah 400 ekor bibit itik untuk ditempatkan di kandang inkubator pada Selasa (1/9/2026). 

Penambahan bibit menjadi langkah untuk menjaga keberlanjutan aktivitas budidaya. Dengan adanya bibit baru, proses budidaya dapat terus berjalan secara bertahap, mulai dari masa awal pemeliharaan hingga nantinya memasuki tahap pembesaran. 

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Bimnadik & Giatja) Lapas Mojokerto, Anggi Fauzi, mengatakan penambahan bibit merupakan bagian dari pengembangan program pembinaan kemandirian. 

“Penambahan bibit itik ini merupakan bagian dari upaya kami untuk terus mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian. Warga binaan tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam merawat ternak, tetapi juga belajar bagaimana mengelola kegiatan peternakan secara bertahap dan bertanggung jawab,” ujar Anggi. 

Aktivitas budidaya itik ini melibatkan petugas lapas, warga binaan, dan peserta magang. Keterlibatan berbagai pihak membuat kegiatan tidak hanya menjadi aktivitas peternakan, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bersama. 

Baca Juga:  11 Macam Sambal Khas Indonesia yang Wajib Dicoba!

Ruang mengasah keterampilan

Bagi warga binaan, aktivitas budidaya ituk bukan sekadar menjalankan program pembinaan. Lebih dari itu, aktivitas ini menjadi sarana mengasah keterampilan dan memperoleh  pengalaman kerja untuk diterapkan ketika kelak kembali ke masyarakat.

Seorang warga binaan, SA, mengungkapkan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk mempelajari teknis budidaya sekaligus membangun semangat untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat setelah bebas. 

“Kami belajar merawat ternak, menjaga kebersihan, dan memastikan produksi berjalan setiap hari agar menjadi bekal setelah bebas serta bermanfaat untuk sekitar,” ungkapnya. 

Hal senada disampaikan warga binaan lainnya, UP. Ia mengaku kegiatan peternakan memberikan pengalaman baru dalam memahami proses pemeliharaan hewan secara langsung. 

“Selama mengikuti kegiatan ini kami belajar untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab, karena itik harus dirawat setiap hari. Kami merasa senang dan bangga karena hasilnya berasal dari kegiatan yang kami lakukan bersama,” ujar UP.

Keterlibatan warga binaan dalam budidaya itik ini menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berkaitan dengan pembinaan kepribadian. Kegiatan produktif dapat menjadi ruang untuk membangun keterampilan yang memiliki manfaat praktis dan berpotensi dikembangkan sebagai aktivitas ekonomi setelah warga binaan kembali ke masyarakat. 

Ketahanan pangan yang produktif dan berkelanjutan

Selain menjadi bagian dari pembinaan kemandirian, pengembangan budidaya itik di Lapas Mojokerto juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan. Kepala Lapas Mojokerto, Arifin Akhmad, menegaskan pihaknya akan terus mendorong kegiatan ketahanan pangan yang produktif dan berkelanjutan.

“Kami akan terus mendorong kegiatan ketahanan pangan yang produktif dan berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi bentuk pembinaan kemandirian sekaligus upaya memberikan keterampilan nyata kepada warga binaan,” ujar Arifin.

Baca Juga:  Hari Anak Nasional Jadi Pengingat Pentingnya Lingkungan Bermain yang Aman bagi Anak

Menurut Arifin, pengembangan budidaya itik juga menjadi bagian dari dukungan Lapas Mojokerto terhadap implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).

“Kami ingin memastikan 15 Program Aksi Kemenimipas dapat diimplementasikan secara konsisten di Lapas Mojokerto. Melalui sinergi petugas, warga binaan, dan peserta magang, program ketahanan pangan diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat yang nyata,” katanya.

Pengembangan budidaya itik ini menunjukkan bahwa program ketahanan pangan di Lapas Mojokerto tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi sekaligus diarahkan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Warga binaan dilibatkan secara langsung agar memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah menjalani masa pidana.