Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Tarique Rahman, Bangladesh

Tarique Rahman Dilantik Jadi Perdana Menteri Bangladesh

Oleh:

Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) Tarique Rahman resmi dilantik menjadi perdana menteri pada Selasa (17/2/2026). Kesempatan ini menandai kembalinya BNP ke dalam kekuasaan setelah hampir dua dekade berada di luar pemerintahan.

“Saya akan dengan setia menjalankan tugas jabatan perdana menteri pemerintah sesuai dengan hukum,” katanya pada hari Selasa, setelah dilantik oleh Presiden Mohammed Shahabuddin.

Pelantikan digelar di Dhaka setelah BNP memenangkan pemilu parlemen dengan merebut mayoritas kursi. Hal ini memberikan mandat pada BNP dalam hal pembentukan pemerintahan dan kabinet baru tanpa bergantung pada koalisi.

Pemilu Setelah 15 Tahun Penantian

Pemilu 2026 di Bangladesh dapat dipandang sebagai titik balik demokrasi, pasalnya pemungutan suara yang kompetitif ini dapat digelar kembali usai dominasi kekuasaan dalam jangka panjang. Pemilu pada 12 Februari 2026 menjadi pemilu pertama usai jatuhnya pemerintahan lama yang dipimpin oleh Sheikh Hasina.

Sheikh Hasina telah berkuasa sepanjang 15 tahun dan lengser oleh gerakan protes kaum muda di Bangladesh pada akhir 2024 lalu. Pada pemilu pertama ini, partisipasi pemilih relatif tinggi dan dapat dipandang sebagai sinyal kembalinya kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi dalam negaranya.

Dinasti Politik dan Tantangan Masa Depan

Tarique Rahman merupakan putra mantan perdana menteri Khaleda Zia, yang pernah mendominasi panggung politik nasional. Kemenangan BNP dalam pemilu 2026 ini menandai kembalinya kekuatan dinasti politik.

Namun, melalui pidato perdananya, Rahman menegaskan untuk memperkuat demokrasi, memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta memulihkan stabilitas ekonomi. Kabinet baru pimpinan Rahman akan segera mengumumkan fokus kerja dalam mencapai tujuannya.

Meski meraih kemenangan besar, pemerintahan ini tetap menghadapi tantangan politik di tengah polarisasi masyarakat yang kian terasa. Dalam hal menghadapi geopolitik, Bangladesh juga harus lebih serius menjaga stabilitas keamanan dan hubungan luar negeri khususnya di kawasan Asia Selatan.

Pelantikan ini menandai babak baru politik Bangladesh setelah periode panjang ketidakpastian. Keberhasilan pemerintahan baru akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga stabilitas politik sekaligus memenuhi ekspektasi publik terhadap perubahan.