Selama menjalani ibadah puasa, tubuh sebenarnya sedang menghadapi perubahan besar dalam pola hidup sehari-hari. Jeda tanpa asupan yang lebih panjang, serta perubahan pola istirahat membuat ritme tubuh menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Pada fase penyesuaian ini, tidak sedikit orang merasakan energi lebih cepat turun di siang hari atau mengantuk pada jam-jam yang sebelumnya terasa produktif.
Kondisi tersebut merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan pola hidup selama berpuasa. Rasa lemas yang muncul pun sebenarnya berkaitan dengan proses penyesuaian ini. Ketika pola makan, asupan cairan, aktivitas, dan istirahat diatur dengan baik, tubuh dapat beradaptasi dengan lebih baik sehingga energi tetap terjaga hingga waktu berbuka.
Lalu, bagaimana cara agar tubuh tetap prima selama puasa?
1. Pola Makan Menentukan Energi
Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup panjang. Situasi ini membuat apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka menjadi sangat berpengaruh terhadap energi sepanjang hari. Ketika rasa lapar memuncak, pilihan makanan tinggi gula, garam, dan lemak memang sering terasa paling menggugah selera. Namun, jenis makanan seperti ini cenderung cepat dicerna dan dapat memicu rasa haus, sehingga tubuh lebih mudah kembali merasa lapar dan kurang bertenaga sebelum waktu berbuka.
Sebaliknya, makanan bergizi seimbang membantu tubuh mempertahankan energi lebih stabil. Sumber karbohidrat kompleks dari biji-bijian utuh, serat dari sayur dan buah, serta protein dari kacang-kacangan atau lauk yang diolah dengan cara dipanggang atau dikukus dicerna lebih lambat, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Keinginan menikmati makanan manis saat berbuka tetap wajar, tetapi sebaiknya dalam porsi kecil dan lebih baik berasal dari pilihan alami seperti buah atau kurma. Dengan komposisi makan yang tepat, tubuh memiliki cadangan energi yang cukup untuk menjalani puasa dengan lebih nyaman.
2. Sahur dan Hidrasi yang Cukup
Sahur memegang peran penting sebagai sumber energi utama selama berpuasa. Pada waktu inilah tubuh mengisi kembali cadangan energi dan cairan yang akan digunakan sepanjang hari. Ketika sahur dilewatkan, tubuh tidak memiliki bekal yang cukup untuk menopang aktivitas, sehingga lebih mudah merasa lemas, haus, hingga mengalami keluhan pencernaan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan asupan saat sahur.
Menu sahur idealnya mengandung kombinasi karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk menjaga kenyang lebih lama, serat dari sayur atau buah, serta cairan yang cukup. Komposisi ini membantu pelepasan energi berlangsung bertahap sehingga tubuh tidak cepat lapar. Prinsip makan secukupnya juga penting diterapkan. Makan berlebihan saat sahur memang terasa mengenyangkan di awal, tetapi justru dapat membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman sepanjang hari, bahkan memicu kantuk setelah makan.
Selain makanan, pemenuhan cairan juga perlu diatur dengan baik meski waktu minum terbatas. Alih-alih minum banyak sekaligus saat sahur, kebutuhan cairan lebih efektif dipenuhi secara bertahap sejak berbuka hingga menjelang imsak. Pola ini membantu tubuh tetap terhidrasi tanpa membuat perut terasa kembung. Dengan sahur yang cukup dan seimbang, tubuh memiliki bekal energi dan cairan yang memadai untuk menjalani puasa dengan lebih stabil dan nyaman.
3. Tetap Bergerak Saat Puasa
Aktivitas fisik tetap diperlukan selama berpuasa untuk menjaga kebugaran dan membantu tubuh beradaptasi dengan ritme baru. Puasa bukan berarti tubuh harus sepenuhnya beristirahat dari gerak, karena olahraga ringan justru dapat membantu melancarkan sirkulasi, menjaga kekuatan otot, serta mempertahankan metabolisme agar tetap stabil. Agar tetap nyaman, waktu dan intensitas olahraga perlu disesuaikan.
Intensitasnya tidak perlu berat, cukup aktivitas ringan seperti berjalan santai, peregangan, yoga, atau latihan sederhana di rumah. Olahraga ini membantu tubuh tetap aktif tanpa menguras cadangan energi yang dibutuhkan selama berpuasa. Dengan aktivitas fisik yang terjaga, tubuh cenderung terasa lebih bugar dan siap menjalani aktivitas harian hingga waktu berbuka.
4. Tidur dan Istirahat Berkualitas
Agar kebutuhan istirahat tetap terpenuhi, tidur malam dapat dioptimalkan dengan rutinitas yang lebih teratur, lalu dilengkapi dengan tidur siang singkat sekitar 20–30 menit. Tidur singkat ini membantu memulihkan kewaspadaan dan energi tanpa membuat tubuh terasa lebih berat setelah bangun. Selain itu, memberi jeda istirahat beberapa menit di sela aktivitas ketika tubuh mulai lelah juga dapat membantu menurunkan ketegangan dan mengembalikan stamina.
Istirahat yang cukup berperan besar dalam menjaga keseimbangan tubuh selama puasa. Dengan tidur yang berkualitas, konsentrasi tetap terjaga, suasana hati lebih stabil, dan tubuh terasa lebih bugar menjalani aktivitas hingga waktu berbuka. Sebaliknya, kurang tidur dapat memperkuat rasa lemas dan membuat puasa terasa lebih berat. Oleh karena itu, pengaturan waktu tidur yang baik selama berpuasa membantu tubuh tetap prima sepanjang hari.
Dengan pengaturan pola makan, asupan cairan, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup selama berpuasa, tubuh dapat beradaptasi lebih baik terhadap perubahan ritme harian. Keseimbangan ini membantu menjaga energi tetap stabil, sehingga puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman dan tubuh tetap terasa prima hingga waktu berbuka tiba.

