Untuk mendeteksi dinamika dan konsekuensi dari perang ini, pemahaman kita perlu dipandu empat pokok soal yang menjadi latar belakang, tujuan, dan penyebab utama. Keempat pokok soal itu adalah agenda regime-change yang gagal, keunggulan strategis militer Iran, skandal Epstein yang menyandera Trump, dan pertarungan antara kekuatan multipolar versus kekuatan unipolar.
Dalam cara pandang Sosiologi Global atau World System Theory, perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat adalah bagian integral dari transformasi kapitalisme-imperialisme global, agenda dekolonisasi Global South dan kebuntuan PBB pasca genosida Palestina. Karena itu, peristiwa konflik bersenjata ini tidak semata-mata perang antarnegara, tetapi terpenting lagi, seteru antara demokrasi dekolonial dan autoritarianisme imperial.
Regime-change berbalik arah
Agenda Trump-Netanyahu untuk mengganti rezim di Teheran tidak terjadi. Sebaliknya, perlawanan rakyat Iran makin militan dan ideologis. Kematian Ali Khamenei justru menjadi simbol resistensi tak berkesudahan dan model bagi nasionalisme anti-imperialisme. Membunuh Khamenei adalah kekeliruan strategis. Tidak terdapat prasyarat politik, ideologi, dan gerakan politik di internal Iran yang dapat memanfaatkan momentum agresi imperial ini.
Iran justru memperpanjang konfrontasi dengan tujuan terjadinya regime-change di Israel dan Amerika Serikat. Agresi Zionis Imperial ini makin menajamkan antagonisme politik antara elit dan rakyat di dua negara tersebut termasuk di Eropa. Selain itu, perang berlarut memicu perlawanan rakyat terhadap monarki absolut di negara-negara teluk dan juga mengubah perilaku Turki dan Mesir.
Skenario terbaik dari perang ini adalah AS terusir dari Timur Tengah, agenda Israel Raya tersabotase dan gelombang demokratisasi mengoreksi monarki. Ini adalah konsekuensi struktural yang bisa diharapkan dari konfrontasi yang berlarut-larut.
Namun demikian, skenario ideal ini berjalan bersama manuver zionis-imperial melakukan destabilisasi di Libanon, disintegrasi Suriah, dan menggunakan separatis Kurdi di wilayah perbatasan Iran, Irak, dan Turki. Sebab tujuan utama dari agenda Israel Raya bukan regime-change, melainkan krisis permanen di seluruh kawasan Timur Tengah.
Keunggulan strategi perang Iran
Krisis ini membuktikan keunggulan strategi perang non-nuklir Iran. Iran memiliki escalation dominance atau kapasitas untuk mengendalikan eskalasi. Misil hipersonik seperti Fatah, Khebar, Sejjil, dan Korasam menjadi bukti daya deterensi Iran. Israel-AS tidak memonopoli instrumen eskalasi. Dengan keunggulan misil hipersonik jarak jauh, kekuatan logistik perang Iran mendekati kapasitas destruksi nuklir strategis-taktis.
Rudal balistik dan drone diluncurkan bukan untuk mengenai target di darat, tapi untuk diintersepsi di udara oleh rudal terbaru Israel yang jumlahnya terbatas. Taktik ini terbukti efektif mengingat kapasitas produksi Pentagon tidak sebanding dengan logistik misil hipersonik Iran yang relatif banyak. Digunakan secara efisien untuk menghancurkan target strategis dalam perang jangka panjang. Ditunjang topografi Iran berdataran tinggi dan pegunungan, invasi darat hanya mengulangi tragedi Paman Sam di Vietnam dan Afganistan.
Faktor penting lainnya adalah kontrol atas Selat Hormuz dan kawasan Jazirah Arab. Itu berarti Iran mengontrol produksi dan distribusi migas dunia baik melalui eskalasi ancaman maupun destruksi nyata. Disrupsi migas bakal menghancurkan ekonomi EU dan NATO yang mendukung agresi imperial ini. Sementara itu, China terbantu dengan pasokan maksimal dari Rusia. India yang tidak mengutuk agresi ini bakal sangat terdampak ekonominya.
Perang Epstein
Bagi para penstudi geopolitik, perang ini disebut Perang Epstein (Epstein War). Trump melayani agenda MIGA Netanyahu yang berhasil membajak kasta politik Amerika melalui AIPAC, pendonor Zionis bipartisan, dan para bilioner teknologi yang terintegrasi ke dalam ‘Departemen Perang’ atau Industri perang Pentagon.
Perilaku Trump-Netanyahu adalah puncak dari banalitas kapitalisme finansial menuju techno-capitalism atau techno-feudalism. Dalam transformasi ini, kekuatan imperial bergerak bebas dari biopolitik atau pengaturan atas kehidupan menuju nekropolitik atau kapitalisasi atas kematian untuk keberlanjutan rezim zionisme-imperial.
Netanyahu adalah simbol Zionisme radikal yang melakukan rasialisasi terhadap agama. Tujuannya agar sistem apartheid terus berlangsung, sebagai warisan ideologi The Chosen People, yang diujicobakan Hitler di Eropa. Nazisme dan Zionisme adalah satu cetakan sejarah imperialisme yang sama. Adapun Trump adalah sosok paradoksal dari periode globalisasi tak terkendali. Trumpisme menistakan China atas stagnasi ekonomi Amerika Serikat sambil melakukan nasionalisasi terhadap tentakel oligarki IT-AI untuk menghadang laju China sebagai episentrum ekonomi multipolar.
Beda dari narasi Perang Epstein, media zionis-imperial mempropagandakan Perang Iran. Narasi ini menciptakan persepsi bahwa Iran adalah aktor utama dari axis of evil, penyebar teror di Timur Tengah, teokrasi fasis yang anti-demokrasi dipimpin seorang diktator Islamis. Target audiens dari narasi ini bukanlah masyarakat Global South yang anti-imperialisme tetapi ditujukan untuk masyarakat ‘Barat’ di AS dan Eropa, yang hari ini semakin sadar akan narasi rasis dari kekuatan zionis-imperial yang membajak ‘peradaban Barat’ dan ‘kekristenan’ untuk membenarkan genosida dan islamofobia.
Kekuatan multipolar versus unipolar
Perang ini bersifat strategis bagi kekuatan multipolar Rusia-China dan kekuatan unipolar imperial. Israel ingin mempercepat agenda Israel Raya dan Amerika Serikat ingin menghancurkan Iran sebagai pilar penyangga aliansi Rusia-China untuk episentrum Euroasia. Karena itu, agresi terhadap Iran tak terpisahkan dari dua agenda zionisme-imperial: menata ulang Timur Tengah dan arsitektur dunia pasca momen unipolar.
Sementara itu, Iran berada dalam arsitektur ekonomi-keamanan multipolar. Melalui perang ini, Iran sedang menghadang wujud terkini dari kapitalisme imperial, yaitu Zionisme imperial yang mengendalikan Washington dan NATO-Uni Eropa di Brussel. Iran mengandalkan kohesi internal dan kapitalisasi potensi strategisnya, sedangkan kekuatan unipolar Israel-Amerika Serikat mengandalkan kepatuhan rezim-rezim monarki Arab tanpa dukungan masyarakat politik di dalam negeri masing-masing.
Faktor dukungan negara-negara utama Eropa untuk agresi ini bukanlah variabel penting karena cepat atau lambat akan mengubah kebijakan karena tekanan politik dari rakyatnya sendiri dan stagnasi ekonomi akibat disrupsi migas di Selat Hormuz. Pada akhirnya, resiliensi perlawanan Iran akan memperkuat gerakan demokrasi untuk pergantian rezim imperial di Israel dan Amerika Serikat.

