Film anak sering dipahami sebagai tontonan ringan yang dekat dengan dunia imajinasi. Namun Na Willa menunjukkan bahwa masa kecil juga selalu bersentuhan dengan realitas di sekitarnya. Film keluarga Indonesia bergaya slice of life ini menghadirkan nostalgia tentang masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Melalui pengalaman kecil yang dialami tokohnya, film ini perlahan memperlihatkan bagaimana seorang anak memahami lingkungan dan perubahan di sekitarnya.
Disutradarai Ryan Adriandhy, Na Willa menceritakan kehidupan seorang anak perempuan berusia enam tahun di Surabaya era 1960-an yang percaya bahwa gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia paling sempurna. Visual imajinatif dan cerita yang hangat membuat film ini terasa ringan dan nyaman. Namun dibalik visualnya yang penuh keceriaan, Na Willa membuka ruang refleksi yang lebih luas bagi penonton.
Lalu, apa saja realitas sosial yang coba ditunjukkan pada film Na Willa?
1. Perbedaan dan Keberagaman
2. Rasisme yang Dialami Anak-Anak
Salah satu bagian penting dalam film ini muncul ketika Na Willa, yang memiliki keturunan Tionghoa-Sabu (Nusa Tenggara Timur), mendapat perlakuan rasis di sekolah barunya. Teman-temannya mengejeknya, guru sempat tidak mempercayainya, dan ia dipanggil dengan sebutan yang merendahkan. Semua itu terjadi dalam keseharian sekolah.
Film ini menunjukkan bahwa rasisme bisa muncul dalam hal-hal yang terlihat kecil dan dianggap biasa. Sikap anak-anak di sekolah tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk dari lingkungan di sekitar mereka. Dari situ, penonton bisa melihat bahwa cara orang dewasa memandang perbedaan ikut memengaruhi cara anak-anak bersikap terhadap temannya.
3. Disabilitas dari Perspektif yang Berbeda
Melalui pertemuan Na Willa dengan Dul di rumah sakit, film ini mencoba melihat disabilitas dari perspektif yang berbeda. Kondisi Dul tidak dipandang sebagai sesuatu yang menyedihkan setelah kecelakaan yang dialaminya. Dul justru terlihat senang dan bangga dengan kaki barunya. Ia masih bisa melihat sisi positif dari kejadian yang dialaminya, bahkan mengatakan bahwa kakinya kini tidak bisa dicubit atau digigit nyamuk dan membuatnya merasa istimewa.
Adegan ini menunjukkan bahwa kehilangan tidak selalu harus diikuti rasa kasihan. Setelah kecelakaan membuatnya kehilangan fungsi kaki, Dul tetap hadir sebagai bagian dari keseharian teman-temannya dengan bermain, bercanda, dan berinteraksi seperti biasa. Anak-anak melihat perbedaan dengan cara yang lebih sederhana, tanpa stigma seperti yang sering muncul dari sudut pandang orang dewasa. Melalui momen ini, film Na Willa memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas tetap bisa merasa bahagia, diterima, dan disayangi tanpa harus diperlakukan berbeda.

