Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
blank
Ilustrasi logo Muhammadiyah. Sumber: muhammadiyah.or.id

Islam Tanpa Sekat: Rahasia Muhammadiyah Tetap Relevan Melintasi Zaman

Oleh:

Fenomena “Login Muhammadiyah” yang tengah viral di media sosial patut dibaca dengan rasa syukur sekaligus refleksi mendalam. Muncul pertanyaan mendasar: apakah trend ini sekadar pencarian identitas baru, atau merupakan manifestasi kerinduan publik terhadap model keberagamaan yang waras, mandiri, dan jauh dari kebisingan?

Bagi mereka yang mendalami gerakannya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dengan ribuan kantor cabang, melainkan sebuah “cara kerja akal” yang dipandu oleh wahyu. Ia mewujud sebagai sistem operasional yang dinamis dan menolak usang ditelan zaman. Rahasia di balik daya tahan dan relevansi tersebut terletak pada satu kata yang menjadi denyut nadi gerakannya: Tajdid.

Tajdid: bukan sekadar modernisasi, tapi pembebasan

Banyak orang keliru menganggap bahwa menjadi modern berarti meninggalkan tradisi. Di Muhammadiyah, pembaruan atau tajdid justru berarti kembali ke sumber asli (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk mengambil api semangatnya, bukan abunya. Kita tidak sedang mengubah agama, melainkan membersihkan karat-karat pemikiran yang membuat agama tampak berat dan menakutkan.

Dalam perspektif Muhammadiyah, beragama itu harus membebaskan. Ia membebaskan manusia dari TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat), bukan untuk menjadikannya kering secara spiritual, melainkan agar manusia bisa berpikir jernih dan berdaulat atas akalnya sendiri. Spirit ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Haedar Nashir (2015), bahwa karakter Islam Berkemajuan adalah menyemaikan benih kebaikan, kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan hidup yang bersifat utama bagi seluruh umat manusia tanpa diskriminasi.

Ketika dunia didera ketidakpastian, Muhammadiyah hadir dengan institusi yang nyata. Tidak hanya berwacana tentang kemiskinan di atas mimbar, tetapi juga membangun panti asuhan. Tidak hanya mengutuk kebodohan, tetapi mendirikan ribuan sekolah. Inilah “Islam Tanpa Sekat”, sebuah gerakan yang melampaui batas-batas primordial karena kasih sayang (rahmat) Tuhan memang harus dirasakan oleh semua orang, tanpa memandang apa latar belakang agamanya.

Manhaj Tarjih: laboratorium akal sehat

Relevansi Muhammadiyah yang terus terjaga tidak lepas dari keberadaan laboratorium pemikiran bernama Majelis Tarjih, tempat gagasan segar digodok melalui pendekatan saintifik. Dalam menentukan awal Ramadan, misalnya, penggunaan metode hisab menjadi bukti nyata penyelarasan iman dengan ilmu astronomi. Saat ini juga Muhammadiyah merilis Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT sebagai terobosan ijtihad kontemporer untuk menyatukan umat Islam global tanpa lagi bergantung pada perbedaan lokal.

Begitu pula saat menghadapi krisis kesehatan global, langkah-langkah yang diambil senantiasa berpijak pada pertimbangan para dokter dan ahli epidemiologi. Harmonisasi antara iman dan ilmu pengetahuan ini membuktikan bahwa pembaruan dalam Muhammadiyah bukanlah sekadar upaya mengikuti arus, melainkan sebuah tanggung jawab intelektual untuk memastikan Islam hadir sebagai solusi nyata bagi problematika kemanusiaan, bukan sekadar menjadi catatan beban sejarah.

Keberanian untuk menempuh jalan ijtihad kolektif inilah yang memungkinkan organisasi ini melintasi berbagai zaman dengan tetap relevan. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Ideologi Gerakan Muhammadiyah, gerakan ini menempatkan rasio pada posisi yang terhormat sebagai instrumen untuk memahami realitas sosial yang terus berubah (Syarifuddin, 2010).

Dengan menempatkan akal sebagai mitra wahyu, Muhammadiyah mampu berbicara mengenai kedaulatan air, fiqh lingkungan, hingga etika kecerdasan buatan (AI) dengan sangat fasih. Alih-alih memandang masa depan sebagai ancaman yang menakutkan, organisasi ini justru memilih untuk menyiapkannya melalui kerja-kerja peradaban yang terukur dan penuh perhitungan.

Menjadi kader: merawat keikhlasan dalam sistem

Namun, rahasia terbesar relevansi Muhammadiyah bukan hanya pada kecanggihan otaknya, melainkan pada keikhlasan tangannya. Ada budaya sepi ing pamrih, rame ing gaweyang mendarah-daging di dalam diri tiap kader. Di Muhammadiyah, jabatan bukanlah rebutan, melainkan amanah yang sering dihindari. Muhammadiyah terbiasa bekerja dalam sistem yang sangat organik.

Rumah besar Muhammadiyah menawarkan keteduhan bagi siapa pun yang ingin mengenal Islam lebih dekat melalui kacamata kemanusiaan. Kekuatan utama organisasi ini terletak pada tiadanya pengultusan tokoh, di mana ketaatan sepenuhnya diletakkan pada sistem dan nilai organisasi. Mekanisme inilah yang menjadi rahasia di balik daya tahan Muhammadiyah dalam menghadapi fluktuasi politik dan dinamika sosial di Indonesia dari masa ke masa.

Islam tanpa sekat adalah tentang bagaimana kita menghadirkan wajah Tuhan melalui rumah sakit yang melayani semua orang tanpa tanya, apa agamamu? Ia adalah sekolah yang mendidik anak-anak bangsa tanpa tanya, siapa pilihan politik orang tuamu? Relevansi Muhammadiyah adalah relevansi cinta yang mewujud dalam kerja-kerja nyata.

Pada akhirnya, Muhammadiyah lebih dari sekadar struktur organisasi; ia adalah sebuah komitmen panjang untuk terus belajar, berbenah, dan memberi tanpa henti. Gerakan ini mengajak setiap insan di dalamnya untuk menjadi pribadi yang tangannya selalu di atas, dengan pemikiran yang senantiasa melangkah lebih maju mendahului zamannya. Jika hari ini muncul kekaguman terhadap apa yang telah dicapai Muhammadiyah, hal itu sejatinya hanyalah pantulan dari cahaya Islam yang diamalkan dengan penuh ketulusan serta akal sehat yang jernih.