Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
UMY, Pelatihan UMKM, Kemasan Produk, UMKM DIY
Para peserta pelatihan kemasan makanan yang diselenggarakan oleh UMY di Sleman, Minggu (26/4/2026).

UMY Dampingi Pelaku Usaha Kecil di Sleman Mahir Seni Kemasan Produk

Oleh:

Sleman – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali membuktikan komitmennya dalam pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) berbasis komunitas. Tim pengabdi UMY menggelar pelatihan kemasan produk bagi puluhan pelaku IKM Kader Aisyiyah Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Pakem di Limasan Watuadeg, Pakem, Minggu (26/4/2026).

Pelatihan ini merupakan program berkelanjutan UMY dalam mendampingi kelompok usaha perempuan sejak 2023. Pelatihan tahun pertama menyentuh digital marketing, tahun kedua merambah e-commerce, dan kini di tahun ketiga fokus pada packagingsebagai jantung daya saing produk.

Kemasan adalah investasi

Ketua Tim Pengabdian UMY Dr. Nanik Prasetyoningsih, S.H., M.H. meyakini kemasan yang baik akan meningkatkan penjualan produk. “Jika kemasan produknya eye catching, maka orang akan tertarik membeli,” ujar Nanik dalam sesi pelatihannya.

Nanik menegaskan kemasan adalah investasi, bukan sekadar biaya produksi. Menurut Nanik, Produk dengan cita rasa unggul sekalipun bisa kalah saing jika tampilannya tidak memikat. Sebaliknya, kemasan yang menarik secara visual dapat mendongkrak nilai jual produk dan membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar digital.

Perwakilan PCA Aisyiyah Pakem, Sri Wahyuni turut membagikan tantangan pelaku IKM pemula. Menurutnya, berwirausaha membutuhkan tiga modal sekaligus. Sri menekankan pentingnya modal mental untuk terus bertahan, modal jejaring agar tidak berjalan sendiri, dan kemampuan memasarkan produk secara efektif. Pelatihan seperti ini, kata Sri, menjadi jembatan nyata bagi para kader untuk membangun ketiga modal tersebut.

Dari teori ke praktik

Dalam pelaksanaan program ini, UMY menggandeng Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG) Provinsi DIY sebagai mitra teknis. Kepala BPTTG Provinsi DIY Anton Raharja hadir langsung bersama jajarannya untuk memfasilitasi sesi praktik. Hal ini merepresentasikan sebuah langkah yang mengubah pelatihan dari sekadar ceramah menjadi pengalaman nyata di tangan peserta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DIY Yuna Pancawati, SE, M.Si. turut hadir memberikan materi. Ia mengajak peserta untuk mengenal karakteristik berbagai jenis kemasan berupa plastik food grade, foil, kaca, hingga kemasan tradisional, lengkap dengan teknik vacuum packaging untuk memperpanjang umur simpan produk. Yuna mengajarkan bahwa kemasan yang baik adalah kemasan yang jujur, yakni melindungi produk, merepresentasikan merek, dan menginformasikan konsumen secara transparan.

Tiga pilar kemasan: higienis, estetik, halal

Program pengabdian UMY ini secara khusus mendorong pelaku IKM untuk memahami dan menerapkan tiga pilar kemasan secara bersamaan. Kemasan higienis menjamin keamanan pangan dari kontaminasi biologis dan kimia. Kemasan estetik membangun identitas merek yang mudah dikenali di platform digital. Kemasan halal mencakup bahan, proses produksi, hingga kelengkapan label, menjadi jaminan kepercayaan bagi konsumen.

Pendekatan ini tidak lepas dari nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang menjadi landasan program. Prinsip itqan (profesionalisme) dan amanah (kejujuran) menjadi ruh yang mewarnai setiap sesi pelatihan, menegaskan bahwa aktivitas ekonomi adalah bagian dari ibadah sosial yang harus dijalankan dengan standar terbaik.

Tingkatkan kapasitas pelaku usaha

Program didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY Tahun Anggaran 2025/2026. Menargetkan seratus persen peserta mampu memahami dan menerapkan standar kemasan higienis, estetik, dan halal. Pengabdian juga mendorong peningkatan kapasitas pemasaran digital minimal 75 persen.

Bagi UMY, program ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban tri dharma perguruan tinggi. Ini adalah wujud nyata dari visi kampus sebagai mitra strategis masyarakat—hadir bukan hanya di ruang kuliah, tetapi juga di ruang produksi para pelaku usaha kecil dan menengah yang tengah berjuang membangun kemandirian ekonomi keluarga dan komunitasnya.