Suasana pagi di kawasan persawahan Kasihan, Kabupaten Bantul, terasa semakin semarak oleh langkah kaki puluhan peneliti keluarga besar Suryakanta Institute. Jalan santai yang digelar pada Sabtu (11/7/2026) itu menjadi bagian dari perayaan hari jadi ketiga lembaga Suryakanta Institute.
Tak sekadar menikmati hamparan sawah yang hijau dan mempererat kebersamaan, kegiatan ini sekaligus sebagai wujud dukungan lembaga pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Suryakanta Institute melibatkan pelaku usaha setempat dalam penyelenggaraan acara. Titik utama kegiatan berada di sebuah kafe sederhana bernuansa dekat dengan alam Kini Kupi yang dikelola oleh sekelompok anak muda.
Pemilihan lokasi dan aktivitas dengan melibatkan usaha kuliner di kawasan desa wisata Kasihan bagian dari komitmen lembaga untuk hadir dan bertumbuh bersama masyarakat. Rute jalan santai ditutup dengan aktivitas berkunjung dan berbelanja di rumah produksi bakpia yang telah lama menjadi denyut perekonomian warga.
Narmi, pelaku industri rumahan Bakpia Barokah, mengaku senang atas kunjungan para peserta jalan santai. Kehadiran rombongan tidak hanya untuk memperkenalkan produknya, tetapi juga memberikan tambahan pemasukan bagi usahanya. “Senang sekali sudah dilarisi,” ungkapnya.
Sehingga, hari jadi lembaga kajian Suryakanta Institute tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga besar lembaga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Mengusung tema Jejak Langkah Meneguhkan Komitmen, perayaan hari jadi ketiga lembaga yang didirikan oleh IGK Manila ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan sang pendiri.
Direktur Eksekutif Suryakanta Institute Agustinus Moruk Taek mengajak seluruh peserta membagikan pengalaman dan pelajaran hidup yang mereka peroleh dari sosok IGK Manila.
“Prinsip-prinsip hidup sosok Opa Manila hingga hari ini masih kita tanamkan dalam kehidupan keseharian dan budaya di lembaga. Opa Manila yang disiplin, sampai dengan Opa Manila yang berjiwa pluralisme. Menjunjung tinggi toleransi dan menghargai setiap perbedaan,” ungkap Agustinus.
Pengusaha Alexander Effendie bersama Suryadi Jaya turut hadir dalam rangkaian acara. Alex mengenang prinsip pantang menyerah yang selalu ditunjukkan IGK Manila. “Opa tidak pernah bilang tidak bisa, tapi selalu mengatakan pasti ada jalan,” kenang Alex lewat cerita-cerita perjalanan dan perjuangannya bersama IGK Manila.
Sementara itu, Suryadi Jaya yang kini semakin menseriusi sektor pertanian mengaku banyak terinspirasi oleh pemikiran IGK Manila. Menurutnya, fokus pada komoditas padi, jagung, dan kedelai merupakan buah gagasan IGK Manila dalam mengupayakan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.
Peneliti sekaligus fotografer Hadit Fikri juga mengenang berbagai motivasi yang diberikan IGK Manila sepanjang perjalanan kariernya. Hadit mengaku masih menerapkan wejangan-wejangan itu dalam membangun sekaligus menghidupi keterampilannya sebagai fotografer. “Saya ingat bagaimana Opa Manila selalu berpesan agar melakukan dengan sepenuh hati,” ujar Hadit.
“Dari pesan Opa agar datang lebih awal, saya berhasil membangun jaringan. Setiap ada acara, usahakan datang tepat waktu, bahkan tiba lebih awal, dan pulang lebih akhir. Ini kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru yang juga melakukan hal yang sama,” lanjutnya.
Di antara hamparan sawah dan usaha kecil yang senantiasa bergeliat, peringatan tiga tahun Suryakanta Institute menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Jalan santai menjelma menjadi ruang untuk merawat ingatan baik, sekaligus menegaskan bahwa nilai kehidupan yang diwariskan IGK Manila masih layak dan relevan untuk diterapkan, terutama dalam berbagi manfaat untuk sekitar.









