Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Side Husle
Ilustrasi pekerjaan kreator konten.

Kenapa Gen Z Makin Banyak Menjalani Side Hustle? Ini Alasannya

Oleh:

Annisa Aqila

Kebutuhan hidup yang terus berjalan membuat banyak orang mulai mencari cara untuk menambah penghasilan. Apalagi ketika mengandalkan satu sumber pendapatan saja terasa belum cukup, mencari peluang lain di luar pekerjaan utama pun jadi salah satu pilihan.

Perkembangan teknologi digital ikut membuat peluang tersebut semakin terbuka. Sekarang, mencari penghasilan tambahan bisa dilakukan lewat berbagai cara, seperti menjadi freelancer, menjual produk secara daring, mengelola media sosial, atau mengikuti program afiliasi. Banyak di antaranya juga bisa dikerjakan dengan lebih fleksibel tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Pekerjaan atau usaha tambahan seperti ini kemudian dikenal sebagai side hustle. Banyak side hustle bahkan bisa dimulai dari hal sederhana, tanpa harus punya tempat usaha atau modal besar. Cukup dengan laptop, smartphone, dan koneksi internet, seseorang sudah bisa mulai mencoba mencari penghasilan dari berbagai peluang yang tersedia.

Hal ini cukup dekat dengan keseharian Gen Z. Tumbuh ketika teknologi dan berbagai platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari membuat mereka lebih familiar dengan berbagai cara untuk menghasilkan uang. Tak heran kalau side hustle mulai menjadi sesuatu yang semakin sering dicoba, baik untuk mencari tambahan maupun karena ingin mencoba sesuatu di luar rutinitas.

Lalu, apa yang membuat side hustle semakin dekat dengan kehidupan Gen Z?

1. Peluang yang semakin terbuka di era digital

Mencari penghasilan tambahan sekarang tidak selalu berarti harus mengambil pekerjaan kedua dengan jam kerja yang sama. Perkembangan teknologi membuka lebih banyak pilihan, mulai dari freelance, jualan online, membuat konten, hingga mengikuti program afiliasi.

Peluang tersebut juga bisa dimulai dari kemampuan yang sudah dimiliki. Seseorang yang bisa desain, misalnya, dapat mengambil proyek di luar pekerjaan utamanya. Begitu juga dengan kemampuan menulis, mengedit video, mengelola media sosial, atau menjual produk secara digital.

Baca Juga:  Dari Rp1.000 jadi Rp1, Apa Itu Redenominasi Rupiah?

Bagi Gen Z, akses yang semakin mudah ini membuat side hustle menjadi pilihan yang cukup realistis ketika pemasukan tambahan mulai dibutuhkan.

2. Penghasilan utama belum cukup

Gaji masuk setiap bulan, tetapi kebutuhan juga terus berjalan. Setelah membayar kebutuhan sehari-hari, masih ada biaya transportasi, tagihan, tabungan, hingga pengeluaran lain yang kadang datang tanpa direncanakan.

Kondisi seperti ini membuat sebagian orang mulai mencari pemasukan tambahan. Bukan karena ingin bekerja tanpa henti, tetapi karena satu sumber penghasilan terkadang harus menanggung terlalu banyak kebutuhan.

Bagi Gen Z yang sedang mulai mandiri secara finansial, situasi tersebut bisa membuat side hustle terasa semakin relevan. Penghasilan tambahan dapat digunakan untuk menutup kebutuhan, menambah tabungan, atau sekadar memberi ruang lebih dalam mengatur keuangan.

3. Fleksibilitas membuatnya lebih mungkin dijalani

Mengambil pekerjaan kedua tentu bukan hal yang mudah jika harus mengikuti jadwal kerja yang sama. Oleh karena itu, fleksibilitas menjadi salah satu alasan side hustle banyak dipilih. Proyek freelance bisa dikerjakan setelah jam kantor. Jualan online dapat dilakukan dari rumah, sementara membuat konten atau menjalankan affiliate bisa disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Namun, fleksibel bukan berarti tanpa konsekuensi. Setelah pekerjaan utama selesai, masih ada waktu dan tenaga yang harus dibagi. Kalau tidak diatur dengan baik, waktu istirahat justru bisa ikut terpakai.

4. Punya satu pekerjaan belum aman

Pekerjaan tetap masih menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak orang. Namun, perubahan dunia kerja membuat sebagian pekerja mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Memiliki pemasukan dari aktivitas berbeda dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber penghasilan.

Bagi Gen Z, hal ini bisa berarti membangun kemampuan atau pengalaman lain sambil tetap menjalani pekerjaan utama. Bukan berarti mereka ingin meninggalkan pekerjaan yang sekarang. Ada kalanya side hustle justru dijalankan karena ingin punya pegangan tambahan jika suatu saat keadaan berubah.

Baca Juga:  Saat Buku Dianggap Mewah dan Angka Literasi Rendah

Jadi, kalau semakin banyak Gen Z harus mencari pekerjaan sampingan demi mencukupi kebutuhan, mungkin yang perlu dilihat bukan hanya seberapa pintar mereka mencari peluang. Mereka memang dituntut untuk kreatif dan terus mencari cara, tetapi sampai kapan kemampuan ‘memutar otak’ dianggap sebagai jawaban atas keadaan? Bukankah ada saatnya pemerintah juga perlu memastikan bahwa bekerja memang cukup untuk membuat seseorang hidup layak?