Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan gempa bumi. Letaknya di pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, membuat wilayah Indonesia punya banyak sumber gempa. Pergerakan dan tumbukan antar lempeng dapat memicu pelepasan energi yang menimbulkan guncangan di permukaan bumi.
Selain itu, aktivitas sesar aktif di daratan juga menjadi sumber gempa yang perlu diwaspadai.BMKGmenjelaskan bahwa memahami mekanisme gempa menjadi bagian penting dalam melakukan mitigasi bencana.
Peringatan mengenai pentingnya kesiapsiagaan kembali mengemuka pada Hari Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana yang diperingati setiap 13 Oktober. Peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1989 untuk mendorong kesadaran global tentang pengurangan risiko bencana.
Pada 2026, Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) mengusung temaResilience Starts at Homeatau ketangguhan dimulai dari rumah. Tema ini menekankan bahwa upaya mengurangi risiko bencana perlu dimulai dari tempat tinggal, termasuk melalui pembangunan hunian yang lebih aman.
Mengapa rumah penting dalam pengurangan risiko bencana?
Rumah bukan sekadar tempat, melainkan ruang bagi keluarga untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan membangun kehidupan. Namun, ketika bencana terjadi, rumah juga dapat menjadi sumber kerentanan. Hal ini apabila rumah berada di lokasi berisiko atau tidak dirancang untuk menghadapi ancaman di sekitarnya.
Kerusakan rumah akibat gempa tidak hanya mengancam keselamatan penghuninya, tetapi juga dapat menyebabkan kehilangan tempat tinggal, mengganggu mata pencaharian, dan menimbulkan beban ekonomi berkepanjangan. Karena itu, pengurangan risiko bencana perlu memperhatikan aspek keamanan hunian sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan.
Meski demikian, rumah yang lebih aman bukan hanya persoalan konstruksi, melainkan bagian dari upaya bersama untuk mengurangi risiko dan melindungi kehidupan keluarga.
Seperti apa rumah tahan gempa?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui portalInaRISKmenjelaskan persyaratan pokok rumah tahan gempa sebagai panduan praktis pembangunan bangunan hunian sederhana satu lantai. Panduan tersebut mencakup empat aspek utama, yaitu bahan bangunan, struktur utama, hubungan antarelemen struktur, dan pengecoran beton.
1. Menggunakan bahan bangunan yang sesuai
Material yang digunakan perlu memenuhi persyaratan teknis dan sesuai dengan rancangan bangunan. Kualitas bahan berpengaruh terhadap kekuatan serta kemampuan komponen bangunan dalam menahan beban dan guncangan.
2. Memiliki struktur utama yang memadai
Struktur utama, seperti fondasi, kolom, dan balok, perlu direncanakan dengan baik sesuai kondisi tanah dan ketentuan teknis yang berlaku. Struktur yang dirancang secara tepat membantu bangunan menghadapi gaya yang muncul saat gempa.
3. Memastikan hubungan antarelemen struktur kuat
Komponen bangunan tidak cukup hanya kuat secara terpisah. Hubungan antara fondasi, kolom, balok, dan bagian bangunan lainnya juga harus dirancang agar bekerja sebagai satu kesatuan. Sambungan yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko kerusakan ketika bangunan mengalami guncangan.
4. Memperhatikan proses pengecoran beton
Pengecoran perlu dilakukan sesuai prosedur teknis agar beton memiliki mutu yang direncanakan. Kualitas campuran, pengerjaan, dan perawatan beton menjadi bagian penting untuk memastikan komponen struktur berfungsi sebagaimana mestinya.
Namun, penerapan persyaratan rumah tahan gempa tidak cukup dilakukan dengan mengenali ciri fisik bangunan saja. Kondisi tanah, lokasi, kualitas pengerjaan, dan kesesuaian desain dengan standar teknis juga perlu diperhitungkan. Untuk pembangunan atau renovasi, masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga ahli yang kompeten.
Pengurangan risiko bencana dapat dimulai sejak memilih lokasi hunian, memastikan konstruksi memenuhi persyaratan, hingga membangun kebiasaan kesiapsiagaan bersama keluarga.

