Tenang sebelum Melangkah

Ada hari-hari ketika hal paling sederhana justru terasa paling berat. Memilih satu dari dua hal yang sama-sama baik. Memutuskan untuk berkata ya atau tidak. Bahkan sekadar menentukan harus mulai dari mana......

Oleh:

Baca Selengkapanya

Ada hari-hari ketika hal paling sederhana justru terasa paling berat. Memilih satu dari dua hal yang sama-sama baik. Memutuskan untuk berkata ya atau tidak. Bahkan sekadar menentukan harus mulai dari mana. Kita berdiri di sana, lebih lama dari yang seharusnya, sambil bertanya-tanya kenapa hal kecil ini bisa membuat kita bimbang. Lalu pelan-pelan kita sadar: yang membuat ragu ternyata bukan pilihan di depan mata, melainkan keadaan di dalam dada yang belum selesai.

Barangkali ini bagian dari tumbuh yang jarang kita bicarakan. Kita terbiasa mengukur kedewasaan dari hal-hal yang tampak seperti pekerjaan, usia, pencapaian. Padahal ada kedewasaan yang bekerja diam-diam, jauh dari sorotan: kemampuan menata apa yang bergejolak di dalam. Dewasa, ternyata, bukan tentang berhenti merasa ragu. Ia tentang belajar berdamai dengan keraguan itu, lalu tetap melangkah.

Hati yang belum tenang

Mari mengakui satu hal. Sebagian besar kebimbangan kita bukan lahir dari kurangnya pilihan, tapi dari penuhnya hati. Kita memikul terlalu banyak sekaligus, sehingga muncul rasa takut salah, cemas dinilai oleh pihak lain, ingin menyenangkan semua orang, sambil diam-diam membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Dan zaman tidak membantu. Layar di tangan kita tak pernah berhenti berbicara, menyodorkan kabar dan ukuran-ukuran yang bukan milik kita, sampai suara hati sendiri nyaris tak terdengar. Hati yang sesak seperti ini tentu sulit diajak berpikir jernih.

Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan keadaan sebaliknya dengan bahasa yang menenangkan. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS Ar-Ra’d: 28). Kata kerja yang dipakai, tathma’innu, berakar sama dengan thuma’ninah, istilah yang dalam khazanah Islam berarti ketenangan hati. Dan thuma’ninah bukan ketenangan dalam arti hidup tanpa masalah, sebab siapa pula yang hidupnya tanpa masalah?

Baca Juga:  Challenging e-Democracy

Ia adalah ketenangan yang berakar, hati yang menemukan tempat bersandar sehingga tidak mudah terombang-ambing. Bedanya halus tapi mendasar: bukan tenang karena tak ada gelombang, melainkan tenang karena tahu di mana berpegang ketika gelombang datang. Dan ketenangan semacam itu tidak jatuh dari langit. Ia dicari, diusahakan, dirawat sedikit demi sedikit.

Berpijak, lalu melangkah

Namun ada yang perlu diluruskan. Tenang tidak sama dengan diam. Kita kerap salah mengira menata hati sebagai bentuk mundur, menarik diri dari keramaian, menunggu sampai segalanya terasa aman baru bergerak. Padahal bukan itu maksudnya. Hati yang tenang bukan hati yang berhenti, melainkan hati yang akhirnya berani. Ketenangan itu bukan garis akhir tempat kita beristirahat; ia tanah yang kokoh tempat kaki kita berpijak sebelum melangkah.

Karena itu, menata hati sejatinya kerja manusia yang selalu aktif. Ada perlawanan di dalamnya melawan kebiasaan menunda, melawan bising keraguan, melawan keinginan untuk menyerah pada kebimbangan dan menyebutnya takdir. Dan kita harus jujur: ini bukan pekerjaan yang tuntas dalam semalam.

Pagi ini hati tertata, siang nanti mungkin berserak lagi. Itu wajar. Justru dalam mengulang-ulang usaha itulah kita perlahan bertumbuh. Tidak seorang pun di antara kita yang sudah sampai; kita semua masih di tengah jalan, sama-sama belajar, sama-sama jatuh dan bangun.

Maka lain waktu, ketika kita kembali terpaku di depan sebuah pilihan yang tampak sepele, semoga kita berhenti sejenak bukan untuk mundur, tapi untuk berbenah. Sebab langkah yang mantap selalu berangkat dari hati yang lebih dulu tenang. Menata hati dan menata langkah adalah satu perjalanan yang sama panjang, berliku, dan akan selalu pantas untuk ditempuh.

Baca Juga:  Deforestation in Sumatra: Between Leadership and Institutional Structures
Judul Halaman Otomatis