Halloween merupakan perayaan yang sangat populer di seluruh dunia, terutama di negara-negara Barat. Setiap akhir Oktober, orang-orang berdandan menyeramkan, rumah dihiasi labu dan hiasan hantu, sementara anak-anak berkeliling meminta permen. Perayaan ini kini juga dikenal dan dirayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Lantas, bagaimana sejarah Halloween dan apa kaitannya dengan hantu yang menakutkan?
Apa itu Halloween?
Halloween adalah perayaan yang diadakan setiap tanggal 31 Oktober, di mana banyak orang mengenakan kostum menyeramkan dan berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta permen atau hadiah. Dikutip dari Country Living, kata “Halloween” berasal dari tradisi Kristen abad pertengahan. Kata “hallow” berarti suci atau orang suci dalam bahasa Inggris kuno.
Pada abad ke-5 hingga ke-15, umat Kristiani merayakan hari raya yang dikenal sebagai All Hallows’ Day, atau yang disebut All Saints’ Day. Sehari sebelumnya, mereka menjalani misa malam yang disebut All Hallows’ Eve, yang kemudian disingkat menjadi Halloween. Pada masa itu, umat Kristiani percaya dunia orang hidup dan dunia arwah menjadi dekat, sehingga Halloween dipenuhi simbol kematian, arwah, dan makhluk supranatural seperti hantu, vampir, dan penyihir.
Seiring waktu, Halloween berkembang menjadi festival menyenangkan dengan parade kostum, pesta bertema, dan hiasan menyeramkan, tetapi akarnya tetap terkait makna spiritual dan tradisi Kristen.
Sejarah Halloween
Meski namanya berasal dari tradisi Kristen, Halloween berakar dari festival Samhain yang sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu. Festival ini dirayakan bangsa Celtic kuno yang tinggal di wilayah yang saat ini menjadi Irlandia, Inggris, dan utara Perancis. Mereka merayakan tahun baru pada 1 November, sehingga malam sebelumnya menandai akhir musim panas dan panen serta awal musim dingin yang gelap.
Bangsa Celtic percaya malam itu merupakan batas antara dunia orang hidup dan dunia mati menjadi tipis, sehingga roh orang mati kembali ke bumi. Untuk menyambut Samhain, para Druid atau pendeta Celtic menyalakan api unggun besar dan mengadakan persembahan berupa tanaman atau hewan, dengan mengenakan kostum dari kepala atau kulit binatang untuk menakuti arwah.
Ketika Romawi menaklukkan wilayah Celtic, festival Samhain digabung dengan perayaan Romawi. Pada 609 M, Paus Boniface IV mengadakan peringatan untuk semua umat Kristiani yang tewas dalam peperangan. Kemudian, Paus Gregorius III menetapkan 1 November sebagai Hari Semua Orang Kudus, menggantikan festival Samhain. Malam sebelumnya dikenal sebagai All Hallows’ Eve yang kemudian disingkat menjadi Halloween.
Pada abad ke-19, imigran Irlandia yang melarikan diri dari kelaparan membawa tradisi Halloween ke Amerika Serikat, dan perayaan ini mulai populer secara nasional. Sejak itu, Halloween menyebar ke berbagai negara dan tidak selalu dikaitkan dengan perayaan agama tertentu. Mulai 1920, Halloween menjadi hari libur di AS, dengan anak-anak bermain “trick-or-treat” dan orang-orang mengenakan kostum menyeramkan, yang awalnya dimaksudkan agar roh-roh yang kembali ke bumi tidak mengenali mereka.
Cara Merayakan Halloween
-
Mengukir Jack-o’-Lantern
Tradisi ini bermula di Irlandia menggunakan lobak yang berkaitan dengan legenda Stingy Jack yang terjebak dengan iblis dan diberi batu bara untuk menuntun jalannya di dunia roh. Saat dibawa ke Amerika, labu menjadi pilihan utama. Kini orang mengukir wajah lucu atau menyeramkan di labu dan menyalakan lilin di dalamnya sebagai hiasan khas Halloween.
-
Trick-or-Treating
Tradisi ini berasal dari kebiasaan memberi makanan kepada roh pada festival Samhain. Biasanya, anak anak akan menggunakan kostum dan berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta permen. Saat ini, trick-or-treating menjadi momen paling dinanti dalam Halloween.
-
Mengenakan Kostum Menyeramkan
Orang-orang mengenakan kostum hantu, penyihir, atau monster untuk merayakan Halloween. Tradisi ini berasal dari keyakinan orang Celtic yang memakai kostum untuk mengelabui roh jahat pada malam Samhain. Kini kostum bervariasi dari menyeramkan hingga lucu, menciptakan suasana yang seru dan menyenangkan.
Halloween di Indonesia
Di Indonesia, Halloween mulai dikenal dan berkembang akibat globalisasi pada akhir abad ke-20 yang mempercepat pertukaran informasi dan budaya. Perayaan ini diadopsi sebagai tren hiburan, terutama bagi generasi muda, ekspatriat, dan pengunjung di tempat-tempat seperti mall atau pusat perbelanjaan. Berbeda dengan negara asalnya, Halloween di Indonesia tidak terkait tradisi lokal atau latar belakang agama, sehingga tidak sepopuler di Amerika Serikat atau negara Barat lain.
Perayaan ini umumnya berlangsung di kota besar atau destinasi wisata populer yang sering mengadakan acara khusus untuk wisatawan dan ekspatriat. Dengan demikian, Halloween di Indonesia lebih dianggap sebagai momen bersenang-senang dan hiburan, terutama saat tanggal 31 Oktober jatuh pada akhir pekan, tanpa makna keagamaan seperti di negara asalnya.

