Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Tanggul laut raksasa, Giant Sea Wall
Pohon bakau tumbuh di samping tanggul laut di kawasan Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, Rabu (5/2/2025). Sumber: Antara Foto/Sulthony H.)

Pemerintah Prioritaskan Giant Sea Wall 575 Km di Utara Jawa

Oleh:

Jakarta – Pemerintah memprioritaskan pembangunangiant sea wall atau tanggul laut raksasa yang membentang sepanjang 575 kilometer di pantai utara (pantura) Jawa. Giant sea wallditargetkan untuk menangani banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa. Pembangunan ini pernah masuk dalam perencanaan Kementerian PPN/Bappenas tahun 1995 dan kembali mendapat perhatian pada awal masa kepemimpinan Presiden Prabowo.

Agenda semakin mengemuka karena masuk dalam pembahasan rapat infrastruktur perlindungan Pesisir Pantura Jawa, di Gedung Mina Bahari III, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (4/52026). Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memimpin rapat yang diikuti oleh sejumlah pemangku kebijakan.

AHY menyebut proyek giant sea wallmendesak dikarenakan adanya ancaman dampak fenomena alam terhadap masyarakat pesisir. “Ada 5 Provinsi, 20 Kabupaten dan 5 Kota di Pantura Jawa yang tentu berdampak langsung akibat tantangan dan ancaman alam yang kita hadapi bersama,” ujarnya.

Selain keselamatan warga, AHY juga menyoroti pentingnya menjaga aktivitas ekonomi di pesisir. “Ada 17 juta dari 52 juta masyarakat di sekitar Pantura, dan juga untuk melindungi ekonomi yang berkontribusi terhadap PDB secara nasional itu kurang lebih 27,53 persen. Jadi ini adalah sesuatu yang sangat strategis,” tegas AHY.

“Jadi kalau kita memiliki proyeksi yang positif, maka kita harus menangani kondisi Pantura Jawa ini dengan baik dan serius. Jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan yang semakin buruk,” lanjutnya.

Pembangunan bertahap

Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengungkapkan saat ini proyek dalam tahap perencanaan. Pemerintah akan melaksanakan pembangunan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketahanan kawasan pesisir saat terjadinya fenomena alam.

Didit menyampaikan perencanaan di sejumlah daerah telah mencapai hampir 80 persen dan disiapkan sebagai prioritas awal pembangunan. “Jadi dimasukkan sekarang kan sudah kita hitung besarannya untuk Kendal, Semarang, Demak sudah hampir 80 persen itu perencanaan detailnya. Nah, yang Pekalongan kita sedang melaksanakan mitigasi,” ujarnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut baik pembangunan giant sea wallini. Menurutnya, langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah pusat dalam pembangunan di daerah. Ia menyatakan akan segera bertemu dengan bupati dan wali kota agar segera menjalin komunikasi dengan masyarakat.

“Kajiannya sudah selesai di Jawa Tengah. Dari Badan Otorita Pantura Jawa itu sudah kulo nuwun kepada kami sejak tujuh bulan yang lalu. Saya minta nanti bupati dan wali kota segera turun, berkoordinasi dengan masyarakat bahwa ini akan segera ada pembangunan giant sea wall,” ujarnya.

Janjikan relokasi tingkatkan ekonomi

AHY menjanjikan relokasi masyarakat dan nelayan terdampak akan difokuskan pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Relokasi ini tentunya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraannya, bukan untuk menggusur tanpa tujuan, apalagi membuatnya lebih sengsara,” ujarnya.

AHY menekankan pemerintah akan membuka peluang kerja di luar perikanan. “Dengan ini kita berharap kesejahteraan nelayan semakin baik, nilai tukar nelayan meningkat, dan semakin banyak masyarakat, termasuk anak-anak muda, terserap ke lapangan pekerjaan di luar profesi nelayan,” jelas AHY.

Pihaknya akan menghubungkan relokasi pengembangan proyek dengan program Kampung Nelayan Merah Putih dan revitalisasi kawasan pesisir.