Istilah performative male ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial seperti X, TikTok, dan Instagram. Fenomena ini mencuat ke permukaan usai kontes ‘Most Performative Male’ yang diadakan di Taman Langsat, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 2 Agustus. Acara ini dipelopori oleh akun X @alergikiwi dan diikuti oleh sejumlah laki-laki muda yang saling adu gaya dan sikap untuk dinobatkan sebagai laki-laki paling performatif. Keenan Avalokita, putra dari penulis Dee Lestari, akhirnya terpilih sebagai pemenangnya.
Apa Itu Performative Male?
Istilahperformative male merujuk pada perilaku laki-laki yang sengaja membentuk citra tertentu demi menarik perhatian, terutama dari perempuan. Citra ini bukan muncul secara alami, melainkan dirancang dan ditampilkan dengan sadar sebagai strategi sosial.Sosokperformative male kerap berpura-pura menjadi laki-laki yang lembut, intelektual, atau bahkan feminis, yang semata-mata karena ia tahu bahwa karakteristik tersebut sedang dianggap menarik. Bukan karena ia benar-benar peduli pada nilai-nilai itu, melainkan karena ia sadar bahwa tampil sebagai laki-laki yang sensitif, peka, dan ‘berbeda dari laki-laki kebanyakan’ bisa mendatangkan validasi, baik secara sosial maupun romantis.Dengan kata lain, ini adalah bentuk pencitraan baru yang membungkus kepentingan personal dalam kemasan yang lebih manis.
Ciri-Ciri Performative Male
1. Gaya Berpakaian Klasik dan Estetik
Perfomative male tampil dengan gaya berpakaian vintage atau klasik dengan menggunakan kemeja longgar, celana potongan lebar, dan palet warnaearth tone yang menenangkan. Gaya ini menciptakan kesan tenang, artistik, dan “berbudaya,” seolah melawan stereotip laki-laki macho yang kaku dan dominan.
2. Menggunakan Totebag Putih
Totebag, khususnya berwarna putih polos, menjadi simbol performative male. Tas ini tidak hanya berfungsi secara praktis, tapi juga sebagai bagian dari estetika yang ingin mereka tampilkan, yaitu sadar lingkungan, minimalis, dan non-maskulin.
3. Matcha Lebih Populer dari Kopi
Biasanya laki-laki identik dengan kopi hitam tanpa gula,performative male cenderung memilih matcha latte atau minuman-minuman manis bernuansa estetis. Pilihan ini bukan sekadar soal selera, tapi bagian dari upaya membentuk citra lembut, terawat, dan penuh kesadaran akan estetika. Semuanya mendukung narasi bahwa mereka ‘beda dari laki-laki kebanyakan.’
4. Membawa Buku Bertema Feminisme
Salah satu properti wajib adalah buku, khususnya buku feminis atau sastra klasik. Ini digunakan untuk menunjukkan kepedulian terhadap isu sosial dan memperkuat kesan intelektual.
5. Selera Musik Lembut dan Alternatif
Musik menjadi bagian penting dari branding perfomative male. Pilihannya jatuh pada musisi seperti Clairo, Laufey, atau genre musik yang cenderung mellow dan emosional. Ini menyampaikan pesan bahwa mereka peka dan mampu mengekspresikan perasaan.
6. Aksesoris Lucu
Gantungan kunci karakter seperti Labubu atau stiker-stiker lucu di tas dan ponsel menjadi elemen pelengkap. Aksesoris ini memberi sentuhan ‘quirky’ yang membuat mereka tampak menyenangkan dan tidak mengancam.
7. Headset Kabel
Alih-alih mengikuti tren wireless, performative male sering terlihat memakai headset kabel. Atribut ini dipilih karena dianggap lebih autentik dan jadul yang sejalan dengan kesan vintage dan non-mainstream yang mereka bangun.
Kenapa Performative Male Bisa Viral?
Viralnya performative male tak lepas dari pergeseran nilai dan ekspektasi terhadap maskulinitas, terutama di kalangan Gen Z. Dulu, laki-laki dianggap menarik jika kuat, dingin, dan dominan. Kini, laki-laki yang hangat, emosional, dan peka justru lebih disukai.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh berkembangnya budaya ‘aesthetic lifestyle’ di media sosial, di mana visual dan narasi personal dibentuk untuk menciptakan persona yang tampak ideal. Performative male hadir sebagai respons terhadap tuntutan zaman bahwa menjadi laki-laki yang terlihat lembut dan sadar sosial kini dianggap lebih menarik secara romantis dan sosial.
Namun, viralitas ini juga mengundang kritik. Banyak pihak menilai bahwa persona performative male bisa menyesatkan, terutama bagi perempuan yang sulit membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang sekadar performatif. Bahkan, dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan krisis identitas dan relasi yang tidak sehat.
Perfomative Male Bentuk Maskulinitas Baru?
Menariknya, performative male dapat dilihat sebagai cerminan dari kegelisahan laki-laki masa kini. Di tengah dorongan untuk meninggalkan maskulinitas toksik sekaligus tuntutan untuk tampil lebih sensitif dan empatik, banyak laki-laki akhirnya memilih membangun citra, bukan melakukan perubahan nilai yang sesungguhnya.
Ini bukan hanya soal gaya berpakaian atau musik yang didengarkan, tapi tentang bagaimana citra maskulinitas dibentuk ulang untuk menyesuaikan zaman. Sayangnya, ketika perubahan ini hanya berhenti di permukaan, maka ia kehilangan makna substansial dan justru menjadi bentuk baru dari manipulasi sosial.
Fenomena performative male menjadi gambaran menarik tentang bagaimana media sosial dan budaya populer membentuk ulang konsep maskulinitas di era modern. Di satu sisi, tren ini membuka ruang untuk maskulinitas yang lebih ekspresif dan empatik. Namun di sisi lain, kita juga perlu waspada terhadap lapisan pencitraan yang bisa menutupi intensi dan karakter asli seseorang.
Bagi remaja dan dewasa muda, penting untuk memahami bahwa menjadi peka, hangat, dan sadar sosial bukan tentang terlihat seperti itu di media sosial, melainkan tentang benar-benar meyakini dan menghidupi nilai-nilai tersebut dalam keseharian. Karena pada akhirnya, ketulusan tidak bisa dipalsukan dengan seberapapun estetiknya penampilanmu.

