Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Sampah Masyarakat Atau Sampah Pemerintah
Sampah Masyarakat Atau Sampah Pemerintah

Suryakanta Institute Gelar Kanta Talk #1, Bahas Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

Oleh:

Yogyakarta – Suryakanta Institute menggelar Kanta Talk #1 bertema “Sampah Masyarakat atau Sampah Pemerintah? Bedah Ilmu Lingkungan” pada Sabtu (8/11). Webinar ini menghadirkan Irene Sohilait, Ph.D Candidate University of Wisconsin-Madison, aktivis dan akademisi lingkungan, sekaligus pendiri NGO Green Moluccas dan Yayasan Kamboti. Diskusi dipandu oleh Hendra Prasetya Tri Ananda sebagai pembawa acara dan Lukas Benevides sebagai moderator serta peneliti Suryakanta Institute.

Webinar berlangsung secara daring selama dua jam dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari peneliti Suryakanta hingga masyarakat umum. Suasana berlangsung antusias dengan diskusi interaktif yang menggugah pemikiran.

Dalam sambutannya, Ardha Kusuma mewakili Suryakanta Institute menjelaskan bahwa Suryakanta berawal dari sekelompok orang yang memiliki inisiatif menyelesaikan berbagai isu sosial dan lingkungan melalui riset dan dialog publik. “Diskusi publik merupakan ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung, termasuk komunitas yang peduli pada isu lingkungan hidup. Tahun ini, pemerintah mulai menjalankan program waste to energy. Pertanyaannya, apakah program ini cocok diimplementasikan dengan kondisi Indonesia yang kondisi daerahnya beragam? Teman-teman dapat menyampaikan pendapat dan aspirasinya,” ujarnya.

Moderator Lukas Benevides memaparkan hasil mini survei Suryakanta Institute yang dilakukan pada 8–22 September 2025 terhadap lebih dari 100 responden dari berbagai daerah. Survei menunjukkan program waste to energy berpotensi menimbulkan double produksi karbon dan memperkuat legitimasi atas produksi sampah berlebih. “Waste to energy adalah pendekatan top-down yang tidak akan berjalan jika tidak disertai kesadaran kolektif untuk mengurangi sampah sejak dari rumah tangga,” jelas Lukas.

Dalam sesi pemaparan, Irene Sohilait menguraikan kondisi terkini pengelolaan sampah di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 109 Tahun 2025 tentang penanganan sampah perkotaan melalui pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan, tercatat pada tahun 2023 Indonesia menghasilkan 56,63 juta ton sampah per tahun, namun 60,99 persen di antaranya belum terkelola dengan baik. “Kebiasaan masyarakat masih menjadi tantangan besar. Sebanyak 42,9 persen masyarakat masih tidak membuang sampah pada tempatnya,” paparnya.

Baca Juga:  Prabowo Bagi-Bagi Becak Listrik untuk Tukang Becak Lansia

Irene menambahkan, tantangan pengelolaan sampah semakin kompleks karena faktor pertumbuhan populasi, infrastruktur yang belum merata, lemahnya kelembagaan, serta keterbatasan pendanaan. “Dalam perencanaan, sudah ada target nasional yang diatur lewat kebijakan. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana pemerintah daerah memberi perhatian terhadap isu lingkungan di wilayahnya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti target ambisius pemerintah untuk merealisasikan proyek waste to energy pada 2025 dan 2027. “Kalau masyarakat dilibatkan dan diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, saya yakin program ini bisa berjalan. Tapi jika komunikasi hanya satu arah dari pemerintah, waktu dua tahun tentu tidak cukup,” kata Irene.

Selain itu, Irene menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, kegiatan pengelolaan sampah tidak hanya fokus pada pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang belajar dan bekerja bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Irene juga memaparkan beberapa langkah yang dapat menjadi arah masa depan pengelolaan sampah di Indonesia. Ia menekankan bahwa perilaku berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri, disertai peningkatan kesadaran melalui edukasi dan sosialisasi yang konsisten. Pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi sirkular dinilai penting untuk menciptakan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi timbulan sampah. Selain itu, penegakan hukum dan tata kelola persampahan yang tegas perlu diimbangi dengan komitmen pemerintah dalam memberikan penghargaan dan sanksi yang jelas. Irene juga menyoroti pentingnya investasi dan pengembangan energi bersih, serta kerja sama lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Webinar ditutup dengan pesan optimistis dari Suryakanta Institute bahwa pengelolaan sampah nasional hanya dapat berhasil melalui kerja sama lintas pihak. Suryakanta Institute menegaskan komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara aspirasi publik dan kebijakan publik agar pengelolaan sampah di Indonesia dapat bergerak lebih maju.

Baca Juga:  Air dan Kesetaraan

Baca Juga