Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Museum Ki Pahare, Kota Sukabumi, Sunda
Diorama ruang dapur dan ruang suwung khas rumah masyarakat adat Sunda di Museum Ki Pahare Sukabumi. Kantapos/Peppy.

Museum Ki Pahare: Ruang Memahami Tradisi Masyarakat Adat Sunda

Museum Ki Pahare mungkin terdengar seperti nama seorang tokoh. Namun, siapa sangka bahwa Ki Pahare sebenarnya merupakan nama sebuah tumbuhan yang memiliki kaitan dengan sejarah terbentuknya wilayah Sukabumi.

Menurut pengelola museum, ada empat tumbuhan yang menjadi penanda terbentuknya kawasan Sukabumi. Ada pakujajar, suci badak, suci domba, dan ki pahare. Di Sukabumi, tumbuhan pakujajar sebenarnya lebih banyak dan mudah ditemukan. Meski demikian, nama Ki Pahare dipilih sebagai identitas museum karena dinilai lebih unik dan mampu memancing rasa penasaran masyarakat.

“Kami ambil Ki Pahare sebagai nama museum kami untuk strategi marketing, supaya orang penasaran,” ujar Sandi, salah satu pengelola Museum Ki Pahare.

Museum Ki Pahare tidak hanya memiliki keunikan dari segi nama, tapi juga dari lokasi, koleksi, hingga pesan edukasi yang dibawanya. Museum Ki Pahare berada di Komplek Terminal K.H. Ahmad Sanusi, tepatnya di Jalan Lingkar Selatan, Kota Sukabumi. Meski di terminal, lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Sukabumi sehingga mudah dijangkau.

Koleksi unik Museum Ki Pahare

Di dalam museum, pengunjung dapat menemukan beragam koleksi yang berkaitan dengan perkembangan aksara, senjata tradisional, fosil, alat pertanian, hingga foto-foto prasasti. Museum yang usianya menuju satu dekade ini, akan mencuri perhatian pengunjung lewat replika sebuah dapur di rumah masyarakat adat.

Replika dapur dipamerkan secara detail. Berbagai peralatan memasak tersusun sesuai fungsi dan tata letak yang hingga hari ini masih digunakan dalam kehidupan masyarakat adat Sunda. Lewat display ini, pengunjung diajak memahami hubungan erat antara budaya, pertanian, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.

Sandi menjelaskan, bagi masyarakat adat Sunda dapur memiliki peran penting dalam siklus kehidupan manusia. Ia menekankan dapur sebagai potret korelasi antara kehidupan manusia dengan sistem pertanian. Setelah menanam, merawat, dan panen, dapur adalah ruang memanfaatkan pangan untuk penunjang keberlanjutan kehidupan. Hal ini yang menjadikan dapur sebagai pusat kehidupan yang ada di rumah.

Baca Juga:  Buku Terdidik: Pendidikan dan Perjalanan Melawan Tradisi

Keyakinan dan tradisi dari dapur

Tak berhenti pada mengolah hasil panen, dapur khas masyarakat adat Sunda juga lekat dengan momen perenungan. Sudut dapur harus disertai ruang yang disakralkan. Di sana hasil panen disimpan, kemenyan dibakar, sesaji dipersembahkan, dan doa dilayangkan.

Masyarakat adat Sunda menyebutnya ruang Suwung. Di mana kekosongan dan keberpasrahan saling menemukan keutuhan di dalamnya. “Suwung itu kosong, nah saat kekosongan ini, kami menenangkan diri, berdoa,” ujar Sandi.

“Ini bentuk keyakinan, kebiasaan atau tradisi masyarakat,” lanjutnya.

Pada waktu-waktu tertentu, Museum Ki Pahare mengadakan kegiatan ekspresi budaya yang terbuka bagi publik. Mulai dari seni pertunjukan hingga lokakarya bertema pertanian.

Museum Ki Pahare memang menawarkan pengalaman berkunjung yang berbeda. Para petugasnya museum tak hanya seorang profesional, tetapi juga warga masyarakat adat Sunda yang masih mempraktikan sistem pertanian tradisional.

Menariknya, museum ini dapat dikunjungi secara gratis. Pengelola berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik datang ke museum, menambah ilmu pengetahuan, sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.