Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Pamungkas, Nerimo Ing Pandum
Ilustrasi ekspresi penerimaan. Sumber: Pinterest/Lionel Michel.

Refleksi Lagu Pamungkas: Menerima yang Tak Pernah Kita Mengerti

Oleh:

Rifqi Amirullah

Pembelajar yang selalu ingin tahu perkembangan ilmu, terus bertanya, lalu melangkah.

Berapa kali kita akan saling memaafkan? Pertanyaan itu menggantung di udara, menolak untuk dijawab dengan mudah. Pamungkas melemparkannya lewat single terbarunya yang bertajuk sama, sebuah lagu yang sederhana dalam melodi, tetapi menyimpan luka dan kebijaksanaan yang dalam. Satu baris di dalamnya terus terngiang setiap kali didengar: pengakuan bahwa ada hal yang tak akan pernah benar-benar dipahami, sebab seseorang tak pernah melalui apa yang dilalui orang lain.

Rahasianya baru terungkap dalam sebuah wawancara. Duduk di sebuah studio yang dikelilingi gitar dan perangkat rekaman, Pamungkas mengaitkan lagu itu dengan sebuah falsafah Jawa yang nyaris terlupakan: nerimo ing pandum. Seusai berbicara, ia mengangkat gitarnya dan mulai jamming lagunya sendiri, nada-nada lembut yang seketika membuat segalanya terasa lebih jujur. Momen itu menyingkapkan sesuatu: lagu ini bukan sekadar kisah cinta yang retak, melainkan renungan tentang penerimaan dan batas pemahaman manusia.

Nerimo yang disalahpahami

Lagu itu memikat justru karena tidak menjanjikan akhir yang manis. Intinya terletak pada pengakuan yang getir namun jujur: tidak semua hal bisa diluruskan, dan tidak semua luka bisa benar-benar dimengerti. Pamungkas menulisnya dari pengalaman personal, hubungan dengan sang ayah yang kini hanya bisa diselesaikan lewat penerimaan, bukan penjelasan. Setiap kali lagu ini diputar, ada rasa yang sulit dijelaskan: seolah ia berbisik bahwa memaafkan tidak selalu berarti memahami. Kadang ia berarti merangkul apa yang tetap kabur, lalu memilih untuk terus berjalan.

Banyak orang keliru membaca nerimo ing pandum sebagai sikap pasrah atau kemalasan jiwa yang menyerah pada nasib. Maknanya jauh lebih dewasa dari itu. Nerimo adalah penerimaan yang aktif, sedangkan menerima pandum, bagian yang telah ditakdirkan dan berada di luar kuasa kita, supaya tenaga tidak habis untuk melawan yang tak bisa diubah, melainkan terarah pada yang masih bisa diperjuangkan. Lagu itu menyentuh titik yang sama ketika berbicara tentang luka lama yang telah diterima. Penerimaan semacam itu bukan melupakan luka, melainkan memeluknya sebagai bagian dari perjalanan dan anehnya, justru di situ letak ketenangannya.

Baca Juga:  5 Tanda Kalau Kamu Seseorang yang Tone Deaf!

Kearifan semacam ini terasa asing di tengah generasi yang fasih berbicara soal healing, inner peace, dan moving on. Istilah-istilah itu memenuhi linimasa, tetapi sering berhenti di permukaan, penerimaan dipersempit menjadi sekadar teknik mengelola emosi, semacam pertolongan pertama bagi hati yang lelah. Menenangkan diri tentu tidak salah. Persoalannya, penerimaan yang hanya bertumpu pada teknik mudah goyah ketika luka datang berulang dan jawaban tak kunjung tiba. Tanpa akar yang lebih dalam, melepaskan berubah menjadi sekadar menekan, dan kelelahan batin pun menumpuk diam-diam tanpa kita sadari.

Berapa kali Allah memaafkan kita

Nerimo ing pandum menawarkan pijakan yang lebih kokoh, sebab ia berakar pada kesadaran akan adanya Yang Maha Kuasa di atas segala rencana manusia. Penerimaan tidak lagi bergantung pada apakah persoalan berhasil dipahami atau diselesaikan, melainkan pada keyakinan bahwa ada tangan yang lebih besar yang mengatur segala sesuatu. Falsafah Jawa itu pun bertemu dengan ajaran Islam secara mengejutkan rapi. Apa yang disebut nerimo sejatinya beririsan dengan ridha, kerelaan hati menerima ketetapan Allah dan tawakkal, yaitu menyerahkan hasil kepada-Nya setelah ikhtiar ditunaikan. Keduanya bukan bentuk menyerah, melainkan kedewasaan jiwa yang mengenali batas kuasanya sendiri.

Pertanyaan yang diajukan lagu itu pun menemukan jawabannya di sana, berapa kali kita akan saling memaafkan? Islam menjawabnya dengan ukuran yang melampaui hitungan. Allah menyandang nama Al-Ghafur, Maha Pengampun, dan At-Tawwab, Maha Penerima tobat, yang membuka pintu maaf bagi hamba-Nya berulang kali tanpa pernah lelah. Allah pun melarang manusia berputus asa dari rahmat-Nya: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az-Zumar: 53). Sang Pencipta tak pernah jemu mengampuni makhluk-Nya yang berkali-kali tergelincir, maka terlalu angkuh rasanya bila manusia merasa berhak berhenti memaafkan sesamanya.

Baca Juga:  Orasi Ilmiah Arie Sujito Tekankan Dekolonisasi Pengetahuan

Mungkin itulah sebabnya lagu ini terasa begitu dekat setiap kali didengar. Ia tidak menggurui, tetapi menemani, mengingatkan bahwa penerimaan dan pengampunan yang berulang bukanlah tanda kekalahan, melainkan pertanda jiwa yang telah matang. Jiwa yang berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dimengerti, dan tidak semua luka bisa diluruskan. Al-Qur’an bahkan menempatkan maaf sebagai keutamaan: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah” (QS. Asy-Syura: 40). Pada akhirnya, menerima yang tak pernah kita mengerti adalah cara paling jujur untuk tetap melangkah, dengan hati yang lapang, tangan yang terbuka, dan kepercayaan bahwa apa yang lepas dari pemahaman kita tidak pernah lepas dari genggaman-Nya.