Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
danantara

Danantara Suntik Rp30,5 Triliun ke Garuda Indonesia

Oleh:

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyuntikkan dana sebesar US$1,84 miliar atau sekitar Rp30,5 triliun ke PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Investasi ini dilakukan melalui anak usahanya, PT Danantara Asset Management (DAM), dengan tujuan memperbaiki kondisi keuangan Garuda secara menyeluruh serta menjaga keberlanjutan operasional perusahaan dan entitas anaknya. Pengumuman tersebut langsung mendorong saham GIAA melonjak hingga batas auto rejection atas (ARA) pada perdagangan Rabu (8/10/2025), naik 9,06% menjadi Rp96 per saham.

Mengapa Suntikan Modal Ini Diperlukan?

Manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa meski restrukturisasi pada 2022 berhasil menurunkan nilai utang dan memperbaiki ekuitas, perusahaan masih menghadapi berbagai hambatan besar yang menghalangi transformasi menuju kondisi keuangan yang benar-benar sehat. Beberapa faktor utama di antaranya adalah gagalnya realisasi rights issue tahap II untuk investor strategis, belum tercapainya ekuitas positif yang membatasi akses terhadap pendanaan baru, serta potensi delisting dari bursa efek.

Selain itu, meningkatnya biaya maintenance dan restorasi pesawat turut menekan kinerja operasional Garuda dan anak usahanya, Citilink. Restrukturisasi sebelumnya juga dinilai terlalu berfokus pada entitas induk, sehingga Citilink belum mendapatkan dukungan optimal, sementara pemulihan trafik penerbangan berlangsung lebih lambat dari perkiraan awal.

Baca Juga: Kementrian ESDM Terapkan Impor BBM Satu Pintu melalui Pertamina

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi audited per 30 Juni 2025, Garuda mencatat modal kerja bersih negatif sebesar US$1,496 miliar, dengan total liabilitas mencapai US$8,01 miliar atau 123% dari total aset senilai US$6,51 miliar. Kondisi tersebut memenuhi syarat untuk melaksanakan PMTHMETD di atas 10% dari modal ditempatkan, mengingat rasio liabilitas yang sudah melampaui 80% aset.

Baca Juga:  Dari Rp1.000 jadi Rp1, Apa Itu Redenominasi Rupiah?

“Pelaksanaan PMTHMETD oleh DAM sebagai pihak terafiliasi dilakukan dengan mempertimbangkan urgensi perbaikan posisi keuangan Perseroan secara menyeluruh serta kebutuhan pendanaan yang mendesak untuk menjaga kelangsungan usaha dan operasional Perseroan dan entitas anak,” tulis manajemen Garuda dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (7/10/2025).

Rincian Suntikan Modal dan Konversi Utang

Suntikan modal dari Danantara mencakup dua komponen utama. Pertama, penyetoran tunai sebesar US$1,441 miliar atau sekitar Rp23,9 triliun yang dialokasikan untuk pengambilan saham baru melalui skema PMTHMETD. Kedua, konversi pinjaman pemegang saham (Shareholder Loan / SHL) menjadi saham baru senilai US$405 juta atau sekitar Rp6,7 triliun. Pinjaman tersebut berasal dari perjanjian antara Garuda, DAM, dan Citilink pada 24 Juni 2025, di mana DAM telah mencairkan seluruh fasilitas pinjaman senilai Rp6,65 triliun guna mendukung kebutuhan modal kerja dan operasional sementara.

Harga pelaksanaan PMTHMETD ditetapkan sebesar Rp75 per saham, berdasarkan hasil penilaian independen dari KJPP Areyanto & Rekan. Transaksi ini tidak akan mengubah status pengendali Garuda, mengingat DAM tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi kepemilikan lebih dari 20% hak suara.

Manajemen menegaskan bahwa partisipasi DAM mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan Garuda. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian pendanaan untuk restrukturisasi keuangan, pelunasan kewajiban, serta memperkuat modal kerja perusahaan.

Alokasi Dana dan Fokus pada Citilink

Dana hasil PMTHMETD, setelah dikurangi biaya transaksi, akan sepenuhnya dialokasikan untuk memperkuat keberlanjutan usaha serta memperbaiki posisi keuangan Garuda Group. Rencana penggunaan dana tersebut meliputi:

  • 29% untuk pembiayaan modal kerja dan operasional Garuda, termasuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat.
  • 37% untuk peningkatan modal Citilink guna mendukung kebutuhan modal kerja dan operasional, termasuk perawatan pesawat.
  • 22% untuk ekspansi armada Garuda dan Citilink.
  • 12% untuk peningkatan modal Citilink, khususnya dalam pembayaran utang pembelian bahan bakar dari Pertamina periode 2019–2021.
Baca Juga:  Serba-Serbi Tax Amnesty yang Perlu Kamu Tahu

Secara keseluruhan, Citilink menjadi penerima alokasi terbesar, yakni 49% dari total dana, yang menunjukkan strategi Garuda untuk memperkuat posisi anak usahanya di segmen low-cost carrier (LCC) sebagai penopang utama pertumbuhan di tengah pemulihan industri penerbangan.

Penggunaan dana ini diharapkan dapat meningkatkan ekuitas, memperkuat struktur permodalan, serta mendukung keberlanjutan operasional Garuda Group, mengingat peran strategisnya dalam menjaga konektivitas penumpang dan logistik di tingkat nasional maupun internasional.

Proses Persetujuan dan Dampak Pasar

Pelaksanaan PMTHMETD akan membutuhkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 12 November 2025 di Tangerang. Rapat ini wajib dihadiri oleh pemegang saham Seri A Dwiwarna serta pemegang saham lainnya dengan kuorum sesuai ketentuan anggaran dasar. Adapun pihak yang berhak hadir dan memberikan suara adalah pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per 20 Oktober 2025 pukul 16.00 WIB.

Baca Juga: Serba-Serbi Tax Amnesty yang Perlu Kamu Tahu

Secara pasar, dampak kebijakan ini langsung tercermin pada pergerakan saham GIAA, yang naik 20% dalam dua hari, hampir 40% dalam sebulan, dan 74% sejak awal tahun. Namun, aksi korporasi ini juga akan menyebabkan dilusi kepemilikan saham publik dari 27,46% menjadi 5,03%.

Manajemen Garuda tetap optimistis bahwa langkah strategis ini akan memperkuat fondasi keuangan perusahaan, memperbaiki likuiditas, serta mendukung peran Garuda sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional melalui konektivitas udara yang andal.

Baca Juga