Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Sejumlah kondisi atmosfer seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby sedang aktif dan dapat memicu hujan lebat, angin kencang, hingga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Peringatan ini dikeluarkan setelah BMKG mencatat hujan lebat di berbagai daerah pada 13–17 November 2025, dengan curah hujan mencapai 50–100 mm per hari. Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Tanah Merah di Papua Selatan (92,2 mm), Palembang (65,2 mm), Tanjung Harapan di Kalimantan Timur (60 mm), Nunukan di Kalimantan Utara (70,2 mm), Bandaneira di Maluku (62,9 mm), Makassar (61,4 mm), Mimika di Papua (58,2 mm), dan Tolitoli di Sulawesi Tengah (56,3 mm).
Menurut BMKG, kondisi ini masih mungkin berlanjut akibat pengaruh sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat daya Sumatera, Banten, Laut Cina Selatan, serta keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Laut Timor Selatan Maluku. Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi cuaca dan berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.
Mengapa Risiko Cuaca Ekstrem Meningkat?
Meningkatnya potensi cuaca ekstrem disebabkan oleh kombinasi berbagai fenomena atmosfer, mulai dari skala global hingga lokal, yang membuat pembentukan awan hujan semakin intens. Pada skala global, beberapa indikator seperti Dipole Mode Index (DMI) dan ENSO berada pada kondisi yang mendorong pembentukan cuaca basah, sementara Monsun Asia yang semakin kuat ikut menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
Saat ini, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada di fase aktif dan memengaruhi beberapa wilayah seperti Samudra Hindia barat Sumatra, Laut Arafuru, hingga Papua. Kehadiran gelombang atmosfer lain seperti Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin di berbagai wilayah Indonesia juga membuat pertumbuhan awan hujan semakin mudah terjadi.
Kombinasi fenomena MJO, Rossby, dan Kelvin, diperkirakan memengaruhi area seperti Laut Andaman, Natuna, Aceh, Yogyakarta, hingga Papua Selatan. Hal ini menimbulkan dampak berupa potensi hujan lebat di wilayah tersebut meningkat.
Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di selatan Laut Timor serta sirkulasi pusaran angin di Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan menciptakan daerah pertemuan angin yang memperkuat pembentukan awan hujan. Kondisi ini diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi dan atmosfer yang sangat labil, sehingga cuaca ekstrem lebih mudah berkembang.
Prediksi Cuaca Sepekan ke Depan
Dalam sepekan ke depan, cuaca di berbagai wilayah Indonesia diperkirakan masih didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, sejumlah daerah perlu mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang, terutama di Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Bali, serta hampir seluruh wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Beberapa wilayah bahkan masuk dalam kategori siaga untuk hujan lebat–sangat lebat, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, potensi angin kencang juga perlu diantisipasi di Bengkulu, Lampung, Banten, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Maluku, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Pegunungan.









