Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Menabung, Bitcoin, Tabungan Digital
Ilustrasi pilihan investasi. Sumber: Fakhri Amal.

Bitcoin: Menabung Terbaik di Era Digital

Oleh:

Fakhri Amal

Guru dan orang tua sering memberikan nasihat kepada anak-anaknya untuk menabung. Mereka sering membagikan motivasi dengan pepatah lawas menabung pangkal kaya. Anak-anak pun mulai menabung memakai celengan tanah liat, kaleng, bambu dan berbagai benda yang dapat dijadikan penyimpanan.

Aktivitas menabung dengan menyimpan uang telah mengajarkan anak untuk tidak boros dengan uang yang mereka miliki. Hal ini mengajarkan anak konsep low time preference atau memikirkan tentang masa depan dan bukan hanya hari ini; menghargai uang; dan bekal kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Sayangnya, kebiasaan baik ini seringkali dirampok diam-diam oleh musuh yang tidak terlihat, yaitu Inflasi. Sebuah fenomena di mana daya beli sebuah mata uang secara perlahan turun dari waktu ke waktu. Fenomena ini terjadi secara perlahan sehingga masyarakat umum kurang merasakan hingga pada akhirnya masyarakat menjadi kaget kenapa barang-barang mengalami kenaikan harga.

Uang seratus ribu rupiah di tahun 2026 ini tidaklah sama nilainya dengan sepuluh tahun lalu. Terlebih lagi di tahun ini, bahan bakar minyak mengalami kenaikan yang signifikan akibat dari gejolak geopolitik mengakibatkan pengeluaran rumah tangga juga meningkat.

Itulah sebabnya Robert Kiyosaki mengatakan bahwa penabung adalah pecundang. Bukan karena kebiasaan menabung itu buruk, tetapi karena menabung uang kertas (fiat) di sistem keuangan yang terus-menerus mencetak uang baru tanpa batas memberikan garansi bahwa uang akan membeli lebih sedikit barang pada masa mendatang.

Selamatkan diri dari inflasi

Orang yang memiliki literasi finansial dan sadar akan hal ini memilih untuk tidak menabung uang kertas dan justru mengalihkannya ke aset-aset yang bisa menyelamatkan dan melindungi harta mereka dari inflasi.

1. Properti

Nilai properti cenderung naik dari tahun ke tahun, tetapi perlu modal awal yang besar dan tergolong bukan aset yang likuid.

Baca Juga:  Apa Itu Bitcoin? Yuk Kenali Uang Tanpa Inflasi

2. Saham

Saham menghadirkan potensi pertumbuhan harta, tetapi butuh pengetahuan yang luas dan mendalam tentang pasar modal hingga dinamika sosial-politik yang memengaruhinya.

3. Komoditas (Emas dan Perak)

Emas dan perak telah terbukti selama ribuan tahun sebagai penyimpanan nilai meskipun tidak praktis dibawa dan butuh penyimpanan ekstra.

Ketiga contoh di atas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di era digital ini muncul kontestan baru yang lahir pada tahun 2008 dan dipercaya oleh banyak orang sebagai emas digital yaitu Bitcoin.

Karakteristik Bitcoin

Bitcoin dipandang sebagai salah satu aset penyimpan nilai terbaik di zaman ini karena ia kebal dari manipulasi apapun termasuk pemerintah dan bank sentral. Merujuk pada argumen Saifedean Ammous dalam bukunya The Bitcoin Standard, ada 3 karakteristik mengapa Bitcoin dianggap unggul sebagai penyimpan nilai:

1. Tidak bisa “diencerkan” oleh siapa pun

Bitcoin dirancang secara matematika untuk dibatasi jumlahnya hanya 21 juta koin, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada kemungkinan teknis untuk meningkatkan suplainya meskipun permintaanya bertambah. Tidak ada pemerintah, tidak ada bank sentral dan tidak ada institusi manapun yang bisa mengubah batasan tersebut.

Ekosistem Bitcoin juga mengenal istilah halving, yaitu laju pertumbuhan koin yang dapat ditambang akan berkurang setiap 4 tahun. Menjadikan aset ini semakin langka karena stoknya yang tidak mudah untuk ditambah. Ini tentu berkebalikan dengan uang fiat yang terus diencerkan oleh bank sentral.

2. Tidak butuh biaya penyimpanan yang mahal

Memiliki properti memerlukan maintenance dan tentu saja dikenakan pajak. Menyimpan saham perlu rekening sekuritas dengan adanya berbagai biaya yang mesti dikeluarkan seperti jasa broker, PPN, PPh dll. Memiliki emas atau perak tentu membutuhkan brankas fisik ataupun biaya untuk menggunakan jasa custodian.

Baca Juga:  Perbedaan E-Wallet dan E-Money: Kenali Fungsi, Kelebihan, dan Kekurangannya

Bitcoin hanya perlu selembar kertas yang isinya 12-24 kata (seedphrase). Bahkan, jika Kamu mau, bisa menghafal dan mengingatnya dalam kepala, sehingga biaya untuk memilikinya nyaris Rp0. Memiliki Bitcoin tidak memerlukan brankas fisik, biaya sewa, dan kekhawatiran akan intervensi pihak ketiga

3. Bisa dipindahkan melintasi benua dalam hitungan menit

Memindahkan emas ataupun perak secara fisik memang bisa dilakukan, tapi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, logistik yang rumit, dan tentu saja memerlukan waktu yang lama. Bitcoin mendukung mobilitas tinggi yang bisa dikirimkan ke manapun, di seluruh dunia dalam hitungan menit, dengan biaya yang tidak terlalu besar, dan tidak memerlukan pihak ketiga seperti bank ataupun negara. Miliaran rupiah bisa berpindah melampaui batas negara dan sistem keuangan selama internet masih bisa diakses.

Risiko Bitcoin

Muncul pertama kali tahun 2008, Bitcoin menjadi salah satu aset yang masih seumur jagung. Belum banyak yang percaya terhadap aset ini, terlebih lagi volatilitas harga dalam nilai fiat yang masih sangat tinggi. Pada tahun 2022, harga Bitcoin turun sekitar 77 persen dari titik tertingginya dan butuh waktu 1 tahun lebih untuk mencapai titik yang sama, sehingga aset ini sangat tidak cocok untuk disimpan dalam jangka waktu pendek.

Selain volatilitas pasar, fitur keamanan dan kedaulatan terbaik yang dimiliki Bitcoin justru bisa menjadi pisau bermata dua. Menyimpan Bitcoin secara mandiri (self-custody) mengharuskan seseorang bertanggung jawab penuh atas hartanya; hanya ia yang bisa disalahkan jika Bitcoin yang ia miliki hilang.

Lebih jauh lagi, kebebasan absolut ini seringkali menjadi titik buta dalam perencanaan keuangan jangka panjang. Apa yang terjadi pada Bitcoin yang dimiliki jika pemiliknya meninggal dunia tanpa persiapan? Tanpa adanya perencanaan waris (legacy planning) yang memadai untuk memastikan aset tersebut aman setelah pemiliknya meninggal, maka aset yang dikumpulkan dengan susah payah akan terkunci selamanya di dalam jaringan blockchain.

Kebebasan dari inflasi dengan Bitcoin datang bersamaan dengan tanggung jawab yang besar, baik untuk diri sendiri ataupun ahli waris. Para investor yang percaya pada Bitcoin selalu berpikir jangka panjang dan mau memahami aset ini secara utuh. Bitcoin memberikan sesuatu yang belum dimiliki oleh jenis aset manapun di muka bumi yaitu kepastian bahwa nilai yang disimpan tidak bisa diencerkan oleh keputusan politik siapa pun.

Baca Juga:  11 Rekomendasi Film Horor yang Tayang pada September 2025

Menabung dengan media yang tepat

Menabung bukanlah sesuatu yang buruk, menabung pangkal kaya mengajarkan banyak hal positif, terutama disiplin. Disiplin untuk menyisihkan sebagian penghasilan adalah salah satu jalan untuk membangun kekayaan. The Richest Man in Babylon karya George S. Clason mengajarkan bahwa salah satu cara untuk membangun kekayaan adalah menyisihkan 1 keping emas dari setiap 10 keping emas yang didapatkan sebagai fondasi untuk membangun kekayaan.

Jika ditarik di zaman sekarang, aturannya tetap sama. Sisihkan 10 persen dari gaji yang didapatkan, dan yang perlu diperbarui adalah pilihan media tempat kita menyimpan nilai tersebut.

Sistem moneter modern di mana uang bisa dicetak hanya dengan menekan 1 tombol, secara perlahan mengurangi nilai tabungan secara diam-diam. Memiliki aset yang melindungi dari inflasi adalah sebuah keharusan bagi siapapun. Namun, pemilihan ini hanyalah langkah awal. Langkah pamungkasnya memastikan bahwa jerih payah tersebut tidaklah hilang.

Di sinilah letak revolusi sebenarnya. Di era digital ini Bitcoin tidak sekedar datang untuk menjawab pertanyaan di mana kita harus menabung. Namun, menuntut kita untuk berpikir bagaimanakah cara memastikan tabungan masa depan bisa diwariskan secara tepat dan aman kepada keluarga.