Inflasi Pengamat dan Rentetan Kekeliruan Seskab Teddy

Beberapa hari ini jagat maya riuh ria dipenuhi beragam tanggapan terhadap celoteh salah kaprah Teddy Indra Wijaya perihal inflasi pengamat. Ada yang mendukung Teddy, ada yang mengkritik habis-habisan, ada pula yang.....

Oleh:

Baca Selengkapanya

Beberapa hari ini jagat maya riuh ria dipenuhi beragam tanggapan terhadap celoteh salah kaprah Teddy Indra Wijaya perihal inflasi pengamat. Ada yang mendukung Teddy, ada yang mengkritik habis-habisan, ada pula yang hanya ikut ramai dengan agenda terselubung lain. Yang pasti, trendingnya begitu tinggi, menutupi keresahan para tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah MGR Gabriel Manek SVD, Kabupaten Belu, dan siswa SDN Tando, Manggarai Barat, di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jakarta memang lebih magnetis dari daerah luar, apalagi sekelas NTT yang tampak tidak berkontribusi apa-apa untuk mimpi Indonesia Emas 2045. Komentar seorang sekretaris kabinet (Seskab), ditambah keelokan parasnya, tentu lebih seksi, lebih memikat media. Media sosial dan konvensional pasti tidak akan membuang momentum untuk mendapatkan banyak views tersebut.

Namun, yang banyak dilupakan adalah kebenaran seringkali datang dari pinggiran, bukan daerah sekitar istana yang banyak polesan, manipulasi, dan popularitas. Kata Rocky Gerung, “pembuat hoax terbaik adalah penguasa.” Artikel ini bertujuan membongkar kekeliruan salah satu pembuat hoaks di lingkaran istana penguasa.

Inflasi pengamat

Seskab Teddy baru saja menggegerkan seluruh Indonesia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (10/4/2026). Ia dengan sengaja menimbulkan riak-riak dengan menciptakan sebuah neologi yang ia sendiri tidak paham, inflasi pengamat. Berikut kutipan panjang pernyataan Teddy perihal neologi tersebut.

“… sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta. Dari sebagian besar pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah mempengaruhi warga, membentuk opini publik, bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi presiden. Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo… itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi.”

Kutipan di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan inflasi pengamat adalah membanjirnya jumlah pengamat yang mengomentari isu-isu yang tidak sesuai expertisenya. Pengamat-pengamat ini bahkan sudah berjamur mempengaruhi dan membentuk opini publik sebelum Prabowo merebut kursi kepresidenan. Jika demikian, Teddy keliru dalam beberapa hal.

Kekeliruan pertama Teddy terdapat pada konsep ekonomi ‘inflasi’ pengamat. Sederhananya, inflasi berarti harga barang dan jasa meningkat sehingga daya beli menurun. Harga menanjak lantaran demand melebihi supply atau cost production turut naik. Jika logika sederhana inflasi ini dipakai pada neologi Teddy, artinya jumlah pengamat meningkat. Pemahaman Teddy hanya sebatas itu.

Dengan demikian, Teddy keliru. Ekonomi adalah ilmu yang menjelaskan perilaku dan memprediksi. Karena itu, ekonomi selalu bertanya perihal causalty and conditionality. Misalnya, mengapa pengamat meningkat? Ada banyak variabel. Salah satunya, karena buruknya kebijakan pemerintah: dari awal policymaking, implementasi, hingga monitoring, evaluasi, dan outcome. Teddy tentu tidak memahami ekonomi, apalagi siklus evidence-based and democratic policymaking.

Rentetan kekeliruan Teddy

Kekeliruan kedua, masih pada soal neologi inflasi pengamat ala Teddy. Ia tidak membedakan mana yang naik: harga barang atau permintaan, jumlah pengamat atau jumlah warga yang meminati analisis para pengamat. Kelihatan Teddy hanya paham soal harga barang yang naik. Padahal, mana ada barang yang naik tanpa variabel seperti demand dan cost-production yang meningkat? Tidak mungkin ada banyak pengamat, jika tidak ada pasarnya, permintaan publik.

Kekeliruan ketiga Teddy disebut di dalam ilmu logika dasar Bahasa Latin sebagai contradictio in terminis, kontradiksi di dalam konsep yang dipakai. Teddy mengatakan “sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat.” Berselang beberapa detik, ia menambahkan “dari sebagian besar pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah mempengaruhi warga, membentuk opini publik, bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi presiden.”

Di awal Teddy mengklaim inflasi pengamat adalah fenomena baru (sekarang). Namun, kemudian ia membantah sendiri: sudah sejak sebelum Prabowo jadi presiden, para pengamat ini sudah lantang bergeliat.

Kekeliruan keempat disebut di dalam ilmu logika sebagai contradictio in actu, bahasa gaulnya, lain mulut, lain tindakan. Teddy menuduh para pengamat menggubris isu yang tidak selaras background-nya, tanpa menjelaskan yang ia maksudkan dengan background: pendidikan atau pekerjaan, dan lain-lain. Padahal Teddy sendiri bekerja tidak sesuai background pendidikan dan pekerjaan. Teddy juga berkomentar tentang isu dan menggunakan konsep yang ia sendiri tidak pelajari. Satu jari Teddy menuduh orang lain, tapi empat jari lain mengarah ke diri sendiri.

Kekeliruan kelima, Teddy bertendensi memfalsifikasi kompetensi dan isi komentar para pengamat, tetapi hanya membeberkan data tanpa kejelasan sumber bahwa “96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo.” Banyak soal bisa dibeberkan di sini: data mana yang Teddy pakai? Data pengamat mana yang ia bandingkan dan falsifikasi?

Kekeliruan terakhir, Teddy kelihatan menuduh para pengamat berasumsi, “… itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi.” Padahal ia sendiri bermain di atas asumsi yang ia tidak pahami. Teddy tidak mampu membedakan objective and subjective assessments di dalam metodologi riset pengumpulan dan analisis data.

Beberapa baris kekeliruan Teddy di atas menunjukkan Teddy tidak kompeten sebagai pribadi dan seorang profesional. Ia tidak hanya tidak layak duduk di kursi seskab yang terhormat, tetapi juga tidak layak mengomentari para pengamat. Di dalam kategori kompetensi pejabat publik, Teddy tidak memenuhi syarat “technical competencies, leadership competencies, and ethical competencies” (Bowman, et al., 2014).

Alih-alih mengomentari orang, Seskab Teddy sebaiknya belajar logika dasar, cara mengumpulkan dan menganalisis data, dan public speaking.

Judul Halaman Otomatis

Opini Terkini