Pemimpin Lupa Diri: Saat Kekuasaan Menjauh dari Jiwa Kehambaan

Ada sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang sangat ringkas namun menyimpan beban yang luar biasa berat: kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan.....

Oleh:

Baca Selengkapanya

Ada sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang sangat ringkas namun menyimpan beban yang luar biasa berat: kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi,setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah kontrak teologis yang tidak bisa dinegosiasikan — tidak di meja politik, tidak di lorong kekuasaan, dan tidak pula di balik jubah jabatan.

Kekuasaan adalah titipan, bukan kepemilikan

Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kontrak sosial, melainkan kontrak teologis yang menghubungkan pemimpin dengan Allah SWT dan masyarakat. Kekuasaan dalam Islam dipandang sebagai titipan Allah, bukan milik pribadi. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh memperlakukan jabatan sebagai sarana memperkaya diri atau kelompok.

Ini bukan wacana abstrak. Ini adalah standar yang seharusnya mengukur setiap keputusan yang diambil oleh siapapun yang memegang kekuasaan, dari presiden hingga kepala desa, dari hakim hingga pejabat eselon terbawah.

Konsep manusia sebagai pemimpin dalam Islam berakar pada ajaran Al-Qur’an dan Hadist yang menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, wakil Allah yang diberi tugas untuk mengelola alam, menegakkan keadilan, dan memakmurkan kehidupan. Oleh karena itu, khalifah tidak diartikan sebagai penguasa absolut, melainkan pengelola yang bertanggung jawab kepada Allah atas amanah yang diembannya.

Pertanyaannya: apakah para pemimpin kita hari ini masih ingat bahwa mereka adalah pengelola, bukan pemilik?

Cermin yang retak: melihat Indonesia hari ini

Kita tidak perlu jauh-jauh mencari jawaban. Data berbicara dengan keras. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2025 merosot ke peringkat 109 dari 180 negara, turun signifikan dari peringkat 99 pada 2024. Skor Indonesia kini sejajar dengan Aljazair, Laos, Malawi, dan Bosnia & Herzegovina.

Ironi ini menjadi lebih menyakitkan ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim, umat yang kitab sucinya dengan tegas memerintahkan keadilan, kejujuran, dan amanah dalam setiap lini kehidupan, termasuk dalam bernegara.

Korupsi memburuk juga karena tergerusnya independensi peradilan, lembaga peradilan berada di bawah pengaruh kekuasaan eksekutif. Pertanggungjawaban pemimpin yang seharusnya untuk kepentingan bersama kini bergeser demi melayani kepentingan kelompok tertentu.

Dalam bahasa Islam, inilah yang disebut khianat amanah,pengkhianatan terhadap titipan yang paling berharga.

Hamba sebelum penguasa

Islam tidak melarang seseorang menjadi pemimpin. Islam justru mendorong orang-orang terbaik untuk tampil memimpin. Namun, Islam menegaskan satu syarat yang tidak bisa ditawar: pemimpin adalah hamba Allah sebelum ia menjadi penguasa manusia.

Seorang pemimpin memegang amanah yang berat dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Islam menegaskan bahwa seorang pemimpin bukan untuk dimuliakan karena kedudukannya, tetapi karena tanggung jawabnya melindungi rakyat dan menegakkan keadilan.

Artinya, setiap kebijakan yang menzalimi rakyat, setiap anggaran yang dikorupsi, setiap putusan yang diperjualbelikan, semua itu bukan hanya pelanggaran hukum negara. Semua itu adalah hutang kepada Allah yang tidak akan lunas hanya dengan masa tahanan yang ringan atau amnesti politik.

Rakyat pun punya tanggung jawab

Namun hal ini tidak boleh berhenti pada kritik kepada pemimpin semata. Islam tidak hanya bicara tentang kewajiban pemimpin, ia juga bicara tentang kewajiban yang dipimpin.

Rakyat yang diam di hadapan kezaliman, yang memilih pemimpin berdasarkan amplop bukan integritas, yang apatis terhadap urusan publik karena merasa “tidak ada gunanya” mereka pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Kepemimpinan dalam Islam tidak terbatas pada jabatan formal atau kekuasaan politik, tetapi melekat pada diri setiap individu. Semua bentuk kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah.

Kembali ke titik awal

Di tengah carut-marut kondisi bangsa ini, Islam menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kritik politik, ia menawarkan framework moral yang berakar pada kesadaran bahwa ada pertanggungjawaban yang lebih tinggi dari sekadar pemilu lima tahunan.

Pemimpin yang lupa bahwa ia adalah hamba Allah akan cenderung merasa tidak ada yang mengawasi. Padahal, seorang pemimpin yang mengkhianati amanah berarti telah merusak tatanan moral dan spiritual masyarakat, sekaligus menentang prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Qur’an.

Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang pintar. Yang langka adalah pemimpin yang takut,bukan takut pada rakyat, bukan takut pada media, tetapi takut kepada Allah. Sebab hanya dari rasa takut itulah lahir keadilan yang sesungguhnya.

Judul Halaman Otomatis

Opini Terkini