Cowok Bingung dari Sudut Pandang Psikologi

“What would be so bad about being with me?“ “I have never been with you, Bear.“ Dialog tersebut mungkin terdengar familiar bagi penonton Film Obsession. Film ini mengisahkan Bear, sosok pria.....

Oleh:

Anisa Febriyanti

Baca Selengkapanya

What would be so bad about being with me?

I have never been with you, Bear.

Dialog tersebut mungkin terdengar familiar bagi penonton Film Obsession. Film ini mengisahkan Bear, sosok pria yang lembut, penyayang binatang, dan ramah. Bear diam-diam menyukai Nikki, yang juga terbuka untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Namun, alih-alih menyatakan perasaannya dan memperjelas hubungan, Bear terus diliputi keraguan. Ketidakmampuannya mengambil keputusan membuat hubungan mereka berjalan tanpa kepastian. Hingga akhirnya, Bear membuat sebuah wish agar Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.

Sejak keinginan itu terucap, hidup Bear dan Nikki berubah drastis. Karakter Bear kemudian ramai dilabeli netizen sebagai representasi “cowok bingung” karena sikapnya yang mendekati seseorang, tetapi enggan memberikan kejelasan.

Dari Film Obsession ini, banyak netizen pada akhirnya melabeli Bear sebagai cowok bingung karena tidak memiliki keberanian untuk memperjelas hubungannya dengan Nikki. Lalu, sebenarnya apa itu fenomena cowok bingung? Frasa baru ini trending di media sosial dan menggambarkan sosok cowok yang terkesan mendekati, tapi tampak ragu, tidak memiliki kemauan yang jelas, dan tidak mendefinisikan kedekatan yang terjalin (Ariyani, 2026).

Realita psikologi di balik cowok bingung

Fenomena cowok bingung ini berkaitan erat dengan psikologis, terdapat beberapa hal yang bisa membuat cowok berada di dalam kondisi bingung. Salah satu penyebabnya adalah gamophobia atau ketakutan untuk menjalin suatu hubungan. Gamophobia ini bisa disebabkan oleh pengalaman interaksi sebelumnya. Pengalaman yang terjadi, baik saat dialami sendiri, atau melihat dinamika hubungan orang lain, bisa menimbulkan trauma mendalam.

Trauma yang belum teratasi bisa memengaruhi cara pandang seseorang terhadap suatu hubungan, atau memengaruhi cara seseorang memposisikan dirinya di dalam suatu hubungan. Hal ini terjadi akibat munculnya ketakutan akan terjadi hal yang sama dengan apa yang sudah menjadi pengalaman orang tersebut di masa lalu. Perilaku tersebut muncul untuk menghindari rasa sakit yang kemungkinan bisa terjadi (Nisa & Abdullah, 2024).

Baca Juga:  Pemkot Solo Uji Coba WFA ASN di 9 OPD

Penyebab selanjutnya adalah avoidant attachment atau kelekatan menghindar dalam gaya kelekatan. Avoidant attachment merupakan kondisi di mana seseorang cenderung menjaga jarak agar tidak terlalu dekat, menghindari keintiman, dan menghindari konflik dalam suatu hubungan. Gaya kelekatan seperti ini bisa menyebabkan ketidakstabilan dalam suatu hubungan dan membuat jarak emosional dengan pasangan. Hal ini dipengaruhi oleh ketidakmampuan seseorang yang memiliki avoidant attachment untuk mengekspresikan perasaan dan kebutuhan emosionalnya kepada pasangan.

Ketakutan ketergantungan dan munculnya konflik menjadi landasan kuat seseorang dengan avoidant attachment tidak mengekspresikan perasaannya. Kondisi ini akan bermuara pada kurang sehatnya interaksi yang terjalin dalam hubungan (Hartono & Rahayu, 2025).

Selain dipengaruhi oleh dua hal di atas, fenomena cowok bingung ini juga bisa dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Secara teori, pola asuh orang tua terdiri dari aspek kendali orang tua, tuntutan kemandirian, komunikasi orang tua, dan pemberian kasih sayang. Aspek tersebut penting untuk membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Jika semua aspek pola asuh terpenuhi dalam tumbuh kembang anak, anak akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi untuk membuat keputusan dalam hidupnya. Di sisi lain, kemampuan pengambilan keputusan ini juga dipengaruhi oleh kemampuan komunikasi sosial dan kemampuan beradaptasi dalam tekanan (Adha et al., 2026). 

Pola asuh bisa dikategorisasikan menjadi pola asuh otoritatif dan demokratis. Pola asuh otoritatif cenderung membuat anak terbiasa didikte, menerima keputusan orang tua yang sudah mengatur jalan hidupnya. Sedangkan pola asuh demokratis, cenderung memberikan dukungan, ruang, dan pengawasan.

Dua pola tersebut bisa menghasilkan efek yang berbeda. Anak yang dididik dengan pola asuh otoritatif cenderung sulit membuat keputusan karena jalan hidupnya sudah ditentukan oleh orang tua. Sebaliknya, anak dengan pola asuh orang tua yang demokratis akan cenderung berani mengambil keputusan dan bisa belajar dari pengalaman pengambilan keputusan yang dia pilih (Adha et al., 2026).

Baca Juga:  Wali Kota New York City Sampaikan Penolakan terhadap Serangan Trump ke Venezuela

Ketiga faktor tersebut sebenarnya saling berkaitan. Pola asuh yang minim kelekatan emosional dapat membentuk gaya attachment menghindar. Dalam jangka panjang, pengalaman hubungan yang buruk kemudian memperkuat ketakutan terhadap komitmen. Akibatnya, seseorang tampak ingin dekat tetapi terus menghindari kepastian hubungan.

Akibat cowok bingung

Jika dinamika pelik yang ada di diri cowok bingung tidak diproses, akan menimbulkan beberapa permasalahan dalam komunikasi sosial. Terlebih lagi jika cowok bingung memilih mendekati seorang cewek. Cewek dalam hubungan tersebut bisa mendapatkan dampak dari traits yang dimiliki cowok bingung. Perilaku mendekati tapi tidak bisa mendefinisikan hubungan dapat membuat cewek mengalami emotional drain karena harus menerjemahkan kode yang tidak jelas dari cowok.

Hal ini bisa memicu pertanyaan pada diri cewek terkait kepantasan diri yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri. Selain itu, jika kondisi seperti ini terjadi secara terus menerus, cewek juga akan dirugikan dari segi waktu. Hal ini tentu tidak adil karena perempuan harus terbebani dengan dinamika trauma internal yang dimiliki cowok bingung (Ariyani, 2026).

Pada akhirnya, fenomena cowok bingung bukan sekadar persoalan laki-laki yang tidak berani berkomitmen. Di balik perilaku tersebut bisa tersimpan trauma, pola asuh, hingga gaya kelekatan yang membentuk cara seseorang memandang hubungan. Namun, memahami penyebab psikologis tidak berarti membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan keberanian untuk jujur, mengambil keputusan, dan menghargai waktu serta perasaan pasangan.

Judul Halaman Otomatis

Opini Terkini