Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors
Judul Halaman Otomatis
Papua
Potret keramahan masyarakat Papua. Sumber: unsplash.com.

Papua Maju Tanpa Kehilangan Pesonanya

Oleh:

Lukas Benevides

Peneliti demokrasi, partai politik, kebijakan pemerintah lokal, dan human trafficking

Seminggu berkeliling Manokwari tentu belum cukup untuk mengenal Papua secara utuh. Papua terlalu luas untuk dipahami dalam hitungan hari, terlalu kaya untuk diringkas dalam beberapa lembar catatan perjalanan. Di tanah seluas ini, setiap kampung menyimpan cerita, setiap gunung menyimpan sejarah, dan setiap bentang alam menawarkan kekaguman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Namun, kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk jatuh cinta pada sebuah tempat dan orangnya. Ada daerah yang membutuhkan bertahun-tahun untuk dipahami, ada orang yang memerlukan sekian purnama untuk dikenali. Namun ada juga yang membuat kita terperangah, terkesima, dan terpikat dengannya dalam pandangan pertama. Sekali mendarat di Manokwari, Anda pasti jatuh hati. Kelak, raga boleh meninggalkan, tapi hati pasti tertawan.

Menjalani perjalanan singkat di Papua cukup untuk menyadarkan saya bahwa Bumi Cenderawasih bukan sekadar wilayah paling timur Indonesia. Papua adalah anugerah alam yang luar biasa. Ia adalah rumah bagi hutan-hutan tropis yang masih berdiri tegak, laut yang masih jernih, udara yang masih segar, dan masyarakat yang masih menjaga hubungan harmonis dengan lingkungannya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Papua justru menghadirkan kesan sebaliknya: tenang, lambat, dan manusiawi. Bukan cuma slow living, Manokwari juga menawarkan lovely living.

Wajah-wajah jujur dari Timur

Salah satu hal yang paling membekas dari Papua bukanlah pemandangannya, melainkan manusianya. Orang Papua hidup dalam kesederhanaan yang menenangkan. Mereka berbicara apa adanya, tanpa banyak lapisan kepura-puraan. Dalam tatapan mata mereka terdapat ketulusan yang jarang ditemukan di kota-kota besar yang penuh kesibukan. Dalam percakapan sederhana, tersimpan keramahan yang membuat orang asing merasa seperti keluarga.

Beberapa kali saya berbincang dengan warga lokal, pedagang, dan pegawai pemerintah secara tidak sengaja berpapasan di pinggir jalan. Hampir semua percakapan berlangsung hangat, tanpa jarak. Tidak ada kesan tergesa-gesa. Tidak ada keinginan untuk segera mengakhiri pembicaraan. Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan menjawab dengan ketulusan.

Mungkin karena mereka hidup begitu dekat dengan alam. Atau mungkin karena Papua masih menyimpan sesuatu yang mulai hilang di banyak tempat lain: kemurnian dalam hubungan antarmanusia. Di Negeri Noken ini, alam dan manusia tampak belum tercerabut satu sama lain.

Negeri yang diberkati hujan

Jika ada satu hal yang segera terasa ketika tiba di Manokwari, itu adalah hujan. Ketika banyak daerah di Indonesia menghadapi musim kemarau yang panjang atau suhu yang semakin panas akibat perubahan iklim, Manokwari seolah memiliki ritmenya sendiri. Hujan datang begitu akrab. Kadang turun perlahan seperti sapaan, kadang deras seperti curahan langit yang tak kunjung habis.

Baca Juga:  5 Alasan Kirab 1 Suro Semakin Diminati Gen Z!

Pagi dapat dimulai dengan langit biru yang bersih. Menjelang siang, awan perlahan berkumpul. Gerimis turun membasahi jalanan. Sore hari, matahari kembali muncul untuk menghadirkan senja yang begitu memesona.

“Semua Papua memang seperti ini. Banyak hujan. Hampir setiap hari,” ujar seorang warga Manokwari saat kami berbincang di depan kantor Bappeda pada suatu siang.

Kalimat sederhana itu ternyata menjelaskan banyak hal. Hujan adalah alasan mengapa bumi Papua tetap hijau. Hujan adalah alasan mengapa hutan-hutannya masih lebat. Hujan adalah alasan mengapa sungai-sungainya tetap mengalir dan kehidupan terus tumbuh. Ketika di banyak tempat hujan sering dianggap gangguan, hujan di Tanah Mutiara Hitam adalah berkah yang menjaga kehidupan.

Kota buah di ujung Timur Indonesia

Kehijauan Manokwari sudah terlihat bahkan sebelum pesawat menyentuh landasan Bandara Rendani. Dari balik jendela pesawat, bukit-bukit hijau tampak berlapis-lapis hingga ke cakrawala. Hutan membentang tanpa putus. Pepohonan memenuhi hampir seluruh pandangan. Pemandangan itu memberi kesan bahwa alam masih menjadi pemilik utama tanah ini.

Berkat kesuburannya, Manokwari dikenal sebagai Kota Buah. Di sepanjang kawasan Wosi dan berbagai sudut kota lainnya, lapak-lapak buah berjajar hampir tanpa terputus. Durian yang baru dipetik dari pohonnya tersusun rapi di pinggir jalan. Rambutan, langsat, mangga, matoa, dan berbagai buah tropis lainnya begitu mudah ditemukan.

Buah-buahan di Papua tidak hanya soal jual-beli. Namun, menjadi simbol bagaimana alam Papua terus memberi. Bagi pendatang yang berasal dari daerah perkotaan, melihat buah-buahan segar melimpah sepanjang jalan menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa kagum sekaligus rasa syukur bahwa di tengah modernisasi yang begitu cepat, masih ada tempat yang tetap hidup dari kesuburan alamnya.

Laut yang menenangkan jiwa

Bumi Papua tidak hanya berbicara tentang hutan. Lautnya memiliki cara sendiri untuk membuat orang jatuh hati. Di pesisir Manokwari, air laut terlihat begitu jernih hingga dasar perairan dapat terlihat dengan jelas. Ikan-ikan bercumbu di pinggir pantai tanpa malu. Cahaya matahari memantul di permukaan air yang tenang. Pasir putih yang lembut membentang di sepanjang pantai. Pulau-pulau kecil berdiri kokoh di kejauhan, seolah menjadi penjaga teluk yang setia.

Di pesisir Papua, waktu terasa berjalan lebih lambat. Suara ombak tidak terdengar sebagai kebisingan, melainkan sebagai irama: ritmis, syahdu. Angin laut membawa kesejukan yang menenangkan pikiran. Langit dan laut bertemu di garis cakrawala yang seakan tidak berujung.

Baca Juga:  4 Efek Samping Matcha yang Jarang Disadari

Bagi siapa pun yang terbiasa hidup di tengah kemacetan, kebisingan kendaraan, dan tekanan pekerjaan, pemandangan bibir pantai Papua menghadirkan kemewahan yang sesungguhnya: ketenangan. Papua mengajarkan bahwa kekayaan tidak selalu berbentuk gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan yang megah. Kadang-kadang kekayaan hadir dalam bentuk laut yang masih jernih dan hutan yang masih hijau.

Bagaimana membangun Papua?

Namun justru karena Papua begitu indah, pertanyaan tentang pembangunan menjadi semakin penting sekaligus rumit. Bagaimana memajukan Papua tanpa merusak keindahan yang dimilikinya?

Bagaimana menghadirkan jalan, sekolah, rumah sakit, listrik, internet, dan lapangan pekerjaan tanpa mengorbankan hutan yang menjadi paru-paru kehidupan? Bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa membuat mereka kehilangan tanah adat, budaya, dan identitas yang telah diwariskan turun-temurun?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Di satu sisi, masyarakat Papua berhak menikmati pembangunan yang setara dengan daerah lain di Indonesia. Mereka berhak mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, pendidikan yang baik, infrastruktur yang memadai, dan kesempatan ekonomi yang lebih luas. Namun di sisi lain, pembangunan yang salah arah dapat menghancurkan setiap hal yang membuat Papua begitu istimewa.

Ketika kemajuan memiliki korban

Sejarah pembangunan di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa kemajuan sering kali datang bersama pengorbanan. Antropolog John H. Bodley dalam karyanya Victims of Progress (1998) menjelaskan bagaimana masyarakat lokal dan adat di berbagai belahan dunia sering menjadi pihak yang menanggung biaya terbesar dari pembangunan. Atas nama kemajuan, hutan ditebang. Sungai dibendung. Tanah adat berpindah tangan. Ruang hidup masyarakat perlahan menyusut.

Pembangunan memang menciptakan jalan baru, kawasan industri baru, dan pertumbuhan ekonomi baru. Namun tidak jarang pembangunan juga menciptakan kelompok baru yang kehilangan akses terhadap sumber penghidupan mereka.

Papua tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Kemajuan yang mengorbankan masyarakat adat bukanlah kemajuan. Kemajuan yang menghancurkan hutan tropis terbesar yang tersisa di Indonesia bukanlah kemajuan.

Baca Juga:  Mayoritas Warga Indonesia Tidak Paham Demokrasi?

Pembangunan yang merusak laut dan pesisir yang menjadi sumber kehidupan masyarakat lokal juga bukanlah kemajuan, melainkan penghancuran. Karena pada akhirnya, pembangunan seharusnya meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menghilangkan fondasi kehidupan mereka.

Membangun dengan hati, bukan sekadar beton

Papua membutuhkan pembangunan. Tidak ada keraguan tentang itu. Namun, Papua membutuhkan pembangunan yang menghormati alam dan manusianya.

Jalan harus dibangun, tetapi tidak dengan menghancurkan ekosistem secara serampangan. Investasi harus datang, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Pendidikan harus diperkuat, layanan kesehatan harus diperluas, dan kesempatan kerja harus dibuka tanpa mengorbankan hak-hak masyarakat adat. Pembangunan di Papua tidak boleh hanya berorientasi pada angka pertumbuhan ekonomi. Ia harus berorientasi pada kualitas kehidupan.

Keberhasilan pembangunan Papua seharusnya diukur dari berapa banyak anak yang memperoleh pendidikan yang layak, berapa banyak ibu yang mendapatkan layanan kesehatan yang baik, berapa banyak masyarakat yang menikmati kesejahteraan tanpa kehilangan tanah dan identitasnya. Itulah pembangunan yang berkelanjutan. Itulah pembangunan yang manusiawi.

Senja Papua dan harapan masa depan

Pada suatu sore di Manokwari, ketika matahari perlahan turun menuju peraduannya, langit berubah menjadi kanvas raksasa yang dipenuhi warna jingga, merah muda, dan keemasan. Cahaya senja memantul di permukaan laut. Angin berhembus pelan. Burung-burung kembali ke sarangnya.

Saat itulah saya memahami bahwa kekayaan terbesar Papua bukanlah semata-mata apa yang tersimpan di bawah tanahnya. Kekayaan terbesar Papua adalah apa yang hidup di atasnya: hutannya yang hijau, lautnya yang jernih, hujannya yang setia turun, budayanya yang kaya, dan masyarakatnya yang menjaga semuanya dengan penuh kesabaran.

Karena itu, cita-cita memajukan Beranda Timur Nusantara seharusnya tidak pernah dimaknai sebagai upaya mengubah Papua menjadi tempat lain. Tujuannya bukan menjadikan Papua sama dengan kota-kota besar yang kehilangan ruang hijau dan identitas budayanya. Tujuannya adalah membuat Papua semakin maju tanpa kehilangan jiwanya.

Sebab kemajuan yang sejati adalah ketika generasi mendatang masih dapat melihat hutan yang hijau dari jendela pesawat yang hendak mendarat di Rendani, masih dapat menikmati laut yang bening di pesisir Manokwari, masih dapat mendengar hujan yang turun hampir setiap hari, dan masih dapat merasakan kehangatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Papua tidak membutuhkan pembangunan yang menghapus identitas dan pesonanya. Papua membutuhkan pembangunan yang menjaga kecantikan dan keagungan alamnya tetap hidup. Papua bisa saja dipoles sebagaimana Jakarta, tapi Tanah Papua tidak untuk diubah menjadi Jakarta.