Nama Dyah Laily Fardisa ramai diperbincangkan setelah kisahnya bersama Bolosego viral di media sosial. Pemilik usaha kuliner bercita rasa pedas ini mengunggah pengalamannya menghadapi praktik pungli terhadap pelaku usaha, hingga tuduhan bisnisnya mengalami kurang bayar pajak penghasilan.
Di balik cerita viral itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan menggandeng orang-orang di sekitarnya untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Dyah bersama para perempuan terdampak kebijakan pembatasan sosial atas pandemi Covid19 kala itu, saling bergandengan tangan memulai cara baru dalam berjualan.
Ini kisah Dyah yang merupakan lulusan ilmu politik kampus ternama, memulai karir di industri digital, dan berdampak bagi orang-orang sekitarnya.
Lulusan ilmu politik, berkarir di dunia digital
Jangan kaget dengan kepiawaian Dyah menyampaikan pendapatnya lewat media sosial. Dyah merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Dyah menyelesaikan pendidikan di Departemen Politik dan Pemerintahan pada tahun 2015.
Alih-alih melanjutkan karir di bidang politik, Dyah justru masuk ke industri digital. Ia pernah bekerja sebagai copywriter perusahaan digital di Yogyakarta. Kariernya kemudian berkembang menjadi campaign manager hingga marketing manager.
Pengalaman selama bertahun-tahun di bidang pemasaran digital dan pembuatan konten ini kelak menjadi bekalnya dalam membangun bisnis Bolosego.
PHK saat pandemi mengubah jalan hidup
Tahun 2020 menjadi titik balik dalam kehidupan Dyah. Pembatasan aktivitas sosial pada saat pandemi Covid19 membuat banyak aktivitas ekonomi terhenti. Dyah pun kehilangan pekerjaannya setelah mengalami PHK.
Situasi ini membuat Dyah harus memikirkan sumber penghasilan baru. Namun, ia tidak memilih kembali mencari pekerjaan kantoran. Ia justru mulai memikirkan kemungkinan membangun usaha sendiri.
Meski tidak memiliki latar belakang sebagai ahli masakan, Dyah memilih industri kuliner sebagai bisnis barunya. Ia melihat peluang ini dari makanan yang sudah dekat dengan masyarakat Yogyakarta: oseng mercon.
Ide wirausaha ini kemudian mempertemukan Dyah dengan ibu-ibu penjual oseng mercon yang tengah menutup sementara warungnya. Pandemi kala itu memang membuat banyak rumah makan harus berhenti beroperasi.
Para ibu yang sebelumnya memperoleh penghasilan dari memasak pun ikut kehilangan pekerjaan. Dari situlah Dyah melihat peluang untuk membangun usaha sekaligus membuka kembali kesempatan kerja bagi mereka.
Melibatkan peran perempuan
Dyah tidak membangun Bolosego seorang diri. Ia berbagi peran dengan para ibu yang juga kehilangan sumber penghidupannya. Dyah mengambil peran di sisi pemasaran dan pengembangan bisnis, sementara para ibu yang memiliki keahlian memasak memegang proses produksi. Pembagian peran ini menjadi modal awal Bolosego untuk bertahan dan berkembang.
Pengalaman Dyah di dunia digital kemudian dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk melalui internet. Ketika pandemi membatasi aktivitas tatap muka, media sosial dan kanal digital justru menjadi ruang bagi Bolosego untuk menemukan konsumennya.
Perlahan tapi pasti, Bolosego terus bertumbuh. Dari awalnya produksi di dalam dapur rumah pribadi, Bolosego berani memperbesar kapasitas produksinya. Dyah pun berkomitmen mempertahankan semangat pemberdayaan perempuan. Berbagai pemberitaan menyebutkan Bolosego telah melibatkan sekitar 180 pekerja penduduk lokal yang 50 persennya perempuan.
Bolosego pun layak dikatakan bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan sebagai bagian dari perjalanan Dyah dalam mengubah pengalaman krisis menjadi kesempatan untuk bertumbuh bersama orang-orang di sekitarnya.
Perjalanan Dyah bersama Bolosego menunjukkan bagaimana pengalaman profesional, situasi sulit, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat bertemu menjadi sebuah usaha yang memberi dampak.

